Mineral Buatan untuk Kikis CO2 dari Atmosfer

MEPNews.id – Para ilmuwan telah menemukan cara cepat untuk membuat magnesit yakni mineral yang dapat menyimpan karbon dioksida. Jika dapat dikembangkan dalam skala industri, magnesit buatan ini bisa membuka jalan bagi pengikisan kelebihan karbon dioksida (CO2) di atmosfir lalu menempatkannya dalam penyimpanan jangka panjang. Artinya, temuan ini bisa melawan efek pemanasan global akibat banyaknya CO2 di atmosfer.

Para ilmuwan sudah bekerja keras memperlambat pemanasan global dengan cara menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer. Cara-cara yang dilakukan antara lain pengaturan emisi karbon, program-program penghijauan, hingga penghematan energi. Para ilmuwan juga sudah tahu teknik memangkas kelebihan karbon dioksida dengan mineral magnesit.

Sedimen magnesit di playa (kawasan yang mudah menguap) di British Columbia, Kanada. (credit: Ian Power)

Sedimen magnesit di playa (kawasan yang mudah menguap) di British Columbia, Kanada. (credit: Ian Power)

Diketahui, satu ton magnesit yang terbentuk secara alami dapat menghilangkan sekitar setengah ton CO2 dari atmosfer. Tapi, meski magnesit alami bisa mengurangi CO2, laju pembentukannya sangat lambat. Para ilmuwan menemui batasan praktis dan ekonomis yang serius dalam mengembangkan teknologinya.

Nah, dalam Goldschmidt Conference di Boston pada 14 Agustus 2018, dipresentasikan temuan baru untuk memahami terbentuknya magnesit dan mempercepat prosesnya. Untuk pertama kalinya, para peneliti bisa menjelaskan bagaimana magnesit membentuk pada suhu rendah. Temuan ini menawarkan rute mempercepat kristalisasinya.

Pemimpin proyek, Profesor Ian Power dari Trent University di Ontario, Kanada, mengatakan, “Hasil penelitian kami menunjukkan dua hal. Pertama, kami bisa menjelaskan bagaimana dan seberapa cepat magnesit terbentuk secara alami. Proses ini butuh waktu ribuan tahun secara alami di permukaan bumi. Kedua, kami bisa mendemonstrasikan jalur yang mempercepat prosesnya.”

Para peneliti dri Kanada ini menunjukkan, dengan menggunakan polystyrene microspheres sebagai katalis maka magnesit akan terbentuk hanya dalam 72 hari. Mikrosfer itu sendiri tidak berubah oleh proses produksi sehingga dapat secara ideal bisa digunakan kembali atau didaur ulang.

“Dengan menggunakan mikrosfer, berarti kita dapat mempercepat formasi magnesit berdasarkan urutan besarnya. Proses ini terjadi pada suhu kamar, sehingga produksi magnesit bisa sangat hemat energi,” kata Profesor Power, dikutip PhysOrg.

“Untuk saat ini, kami mengakui prosesnya masih bersifat eksperimental. Tentu ini harus ditingkatkan sebelum kami memastikan bahwa magnesit dapat digunakan dalam penyerapan karbon saat mengambil CO2 dari atmosfer dan menyimpannya. Kami masih mempertimbangkan beberapa variabel, antara lain biaya karbon dan penyempurnaan teknologi penyerapan. Tapi, kita sekarang tahu bahwa sains memungkinkan semua itu bisa dilakukan.”

Profesor Peter Kelemen dari Lamont Doherty Earth Observatory milik Columbia University di New York, Amerika Serikat, mengomentari temuan itu dengan menyatakan, “Benar-benar menarik. Kelompok ilmuwan ini mengamati mekanisme kristalisasi magnesit secara alami pada suhu rendah. Proses ini telah diamati sebelumnya dalam pelapukan batuan ultrabasa. Namun, prosesnya belum bisa dijelaskan. Selain itu, potensi untuk mempercepat proses juga penting. Ini berpotensi menawarkan rute yang aman dan relatif murah bagi penyimpanan karbon, dan mungkin bahkan bagi pembersihan CO2 langsung dari atmosfir.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.