Menuju E-Voting dan Ngopi-ngopi

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Pagi hari ini berbeda dengan pagi yang kemarin. Begitu pula dengan malam hari. Berbagai perubahan demi perubahan senantiasa memungkinkan dirinya untuk terjadi. Tidak hanya kondisi manusia yang hari ini buruk besok membaik, dan yang hari ini membaik besok berkemungkinan memburuk. Tapi juga teknologi dalam kehidupan pun berjalan senantiasa berubah dan berkembang dinamis setiap saat.

Sebelum adanya pesawat terbang diangkasa, orang bisa tidak percaya, dan mungkin tingkat tidak percayanya hingga pada tahap menghina dan mencemooh dengan sangat sombong dan angkuh seakan-akan hanya dirinya saja yang paling benar: bahwa mana mungkin besi bisa terbang, apalagi mengangkut manusia di dalamnya. Akan tetapi silih bergantinya waktu telah membuktikan akan kehadiran nyata pesawat terbang dan telah menjadi alat transportasi udara yang lebih memudahkan umat manusia di dunia ini.

Sehingga terhadap rencana masa depan apa saja selalu terjadi pro dan kontra pun adalah wajar adanya. Termasuk dalam hal ini, sebut saja, Elektronik Voting atau E-Voting dalam Pemilu. Meskipun yang sudah sukses dan mungkin sekian puluh tahun kebelakang belum ada yang membayangkan dan mungkin dianggap khayal, yakni sebut saja dua hal misalnya, E-KTP dan E-Book. Data rekam penting manusia yang dalam hal ini diwakili sidik jari dan mata sudah mampu dimasukkan ke dalam E-KTP. Dan buku tebal bisa dengan praktis di download dalam sebuah E-Book.

Dalam Pilkada serentak 27 Juni 2018 kemarin, Sislo atau Sistem Pelaporan Online yang telah diluncurkan oleh Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI) telah menjadi contoh langkah konkret mengenai perubahan dari era manual menuju digital, dimana pengawas pemilu mencoba mengisi form tidak lagi dalam lembaran kertas, melainkan langsung ke mesin elektronik melalui handphone Android masing-masing. Meskipun hasilnya masih belum maksimal, dan pengawas pemilu untungnya masih diberikan dua alat kerja, yakni lembar kerja kertas manual dan lembar kerja sistem online dalam Sislo tersebut.

Tentunya hal ini wajar adanya. Dari mungkin speak aplikasi yang kurang maksimal dan juga kendala signal internet di beberapa tempat yang masih belum terjangkau, tentunya akan menjadi bahan evaluasi kedepan agar semakin meningkat dan lebih baik. Yang dimaksud kedepan juga belum tentu setahun dua tahun, mungkin sekian puluh tahun atau siapa tahu sekian abad pun, sepertinya tak masalah, karena bagi penikmat perubahan terkadang memang tak merasakan bahwa perubahan atau penemuan baru itu terkadang butuh waktu yang lama. Hari ini saja, rasanya baru kemarin kita menikmati berbagai macam teknologi, sebut saja handphone, yang seakan sudah ada sejak kemarin sore.

Perubahan demi perubahan serta evaluasi demi evaluasi hasilnya akan senantiasa memungkinkan–sekali lagi memungkinkan dan bukan memastikan–terjadi di masa depan. Tower-tower menjulang tinggi yang selama ini dijadikan sebuah alat penangkap signal, bisa jadi kelak tak harus dan tak perlu setinggi itu. Kecanggihan masa depan sungguh sangat membikin hati kita sekarang ini sangat begitu penasaran: ada perubahan apa sajakah di masa depan nanti?

So, terlepas pro dan kontranya hingga kini mengenai kemungkinan menuju E-Voting dalam Pemilu mendatang (tidak harus dalam Pileg Pilpres 2019 mendatang), secara pribadi hati ini penasaran jika kelak Pemilu benar-benar dilakukan dengan kecanggihan teknologi mesin Elektronik Voting tersebut, dimana sekali tekan tombol pilihan calon yang dipilih, hasilnya bisa dengan cepat dan mudah untuk direkapitulasi.

Bahkan bisa jadi dengan kecanggihan tertentu yang telah diperhitungkan sedemikian rupa, atau entah bagaimana caranya kelak para pakar mungkin merancangnya, bisa jadi setiap masyarakat bisa memilih calon pemimpinnya cukup dengan handphone-nya masing-masing. Jika semuanya ini masih tergolong impossible dan hayalan tingkat tinggi belaka, maka tinggalkanlah sambil berlalu dan mungkin sambil ngopi-ngopi saja. (Banyuwangi, 12 Agustus 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.