Ini Lho Akar dari Kondisi Pesimisme

MEPNews.id – Banyak pasien gangguan neuropsikiatrik (antara lain; kecemasan atau depresi) mengalami suasana hati negatif yang menyebabkan mereka lebih fokus pada kemungkinan sisi negatif dari situasi tertentu daripada fokus pada manfaat potensialnya. Lalu, apa akar dari suasana pesimis itu?

ScienceBlog edisi 9 Agustus 2018 mengabarkan, para pakar syaraf di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Amerika Serikat, berhasil menunjuk wilayah tertentu di otak yang dapat menghasilkan jenis suasana pesimis. Sumber itu adalah caudate nucleus.

nucleus 2Dalam eksperimen pada hewan, merangsang wilayah caudate nucleus bisa menginduksi mereka untuk membuat keputusan lebih negatif. Hewan-hewan eksperimen itu cenderung memilih kerugian yang diantisipasi daripada manfaatnya. Suasana pesimistis ini dapat berlanjut hingga sehari setelah stimulasi. Hal sebaliknya terjadi ketika caudate nucleus tidak dirangsang.

Temuan ini dapat membantu para ilmuwan untuk lebih memahami bagaimana munculnya beberapa efek depresi dan kecemasan. Temuan ini dapat membimbing mereka dalam mengembangkan teknik perawatan baru terhadap perasaan pesimis.

“Kami merasa telah menemukan proksi bagi kegelisahan, atau depresi, atau campuran dari keduanya,” kata Profesor Ann Graybiel peneliti MIT McGovern Institute for Brain Research sekaligus penulis senior hasil penelitian yang muncul di jurnal Neuron edisi 9 Agustus. “Masalah kejiwaan ini masih sangat sulit diobati bagi banyak penderitanya.”

Para penulis utama makalah adalah lain Ken-ichi Amemori dan Satoko Amemori mitra dari McGovern Institute yang menyempurnakan tugas dan mempelajari emosi yang dikontrol oleh otak. Daniel Gibson, pakar analisis data di McGovern Institute, juga menjadi penulis makalah.

Laboratorium Graybiel sebelumnya mengidentifikasi sirkuit syaraf yang mendasari pengambilan keputusan khusus terkait ‘konflik penghindaran-pendekatan’. Jenis-jenis keputusan ini, yang membutuhkan pilihan dengan penimbangan unsur positif dan unsur negatif, cenderung memancing banyak kecemasan. Laboratoriumnya juga menunjukkan stres kronis dapat secara dramatis mempengaruhi pengambilan keputusan semacam ini. Lebih banyak stres biasanya mengarahkan hewan memilih pilihan berisiko tinggi dan pilihan berongkos mahal.

Dalam studi baru, para peneliti ingin melihat apakah mereka dapat mereproduksi efek yang sering terlihat pada penderita depresi, kecemasan, atau gangguan obsesif-kompulsif. Pasien-pasien ini cenderung terlibat dalam perilaku ritualistik yang dirancang untuk melawan pikiran negatif, dan untuk menempatkan lebih banyak potensi hasil negatif dari situasi tertentu. Mereka menduga, pemikiran negatif semacam ini dapat mempengaruhi pengambilan keputusan terkti konflik pendekatan-penghindaran.

Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti menstimulasi caudate nucleus yakni terkait pengambilan keputusan emosional. Stimulasi ini berupa arus listrik tegangan rendah saat hewan percobaan dihadapkan pada jus sebagai hadiah dan embusan udara ke wajah sebagai stimulus yang tidak menyenangkan. Dalam setiap percobaan, rasio hadiah terhadap rangsangan tidak menyenangkan ini ternyata berbeda, dan hewan percobaan dapat memilih apakah akan menerima atau tidak.

Pengambilan keputusan semacam ini membutuhkan analisis ongkos-manfaat. Jika hadiah jusnya dinilai cukup tinggi untuk mengimbangi rangsangan tak enak berupa hembusan udara di wajah, hewan akan memilih hadiah untuk menerimanya. Tapi, ketika rasio itu terlalu rendah, mereka menolaknya atau memilih ongkos berisiko tinggi.

Nah, ketika para peneliti menstimulasi caudate nucleus, perhitungan biaya-manfaat itu menjadi miring, dan hewan percobaan mulai menghindari kombinasi yang sebelumnya mereka bisa terima. Ini berlanjut bahkan setelah rangsangan berakhir, dan masih bisa dilihat pada hari berikutnya. Setelah itu, secara bertahap menghilang.

Hasil ini menunjukkan, hewan percobaan mulai mendevaluasi hadiah yang sebelumnya mereka inginkan, dan lebih fokus pada ongkos bagi stimulus yang tidak menyenangkan. “Keadaan yang kami tirukan ini membuat risiko dinilai relatif terlalu tinggi dibanding manfaat,” kata Graybiel.

Studi ini memberikan pendalaman berharga tentang peran basal ganglia (wilayah yang mencakup caudate nucleus) dalam jenis pengambilan keputusan ini, kata Scott Grafton profesor ilmu saraf di University of California di Santa Barbara, yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Kami sudah tahu bahwa frontal cortex dan basal ganglia terlibat, tetapi kontribusi relatif dari basal ganglia belum dipahami dengan baik,” kata Grafton. “Ini makalah bagus karena menempatkan beberapa proses pengambilan keputusan di basal ganglia juga.”

Para peneliti juga menemukan, aktivitas gelombang otak di caudate nucleus berubah ketika pola pengambilan keputusan ini berubah. Perubahan yang ditemukan Amemori ini berada dalam frekuensi beta. Perubahan ini mungkin berfungsi sebagai biomarker untuk memantau apakah hewan atau pasien merespon terhadap perawatan obat, kata Graybiel.

Graybiel sekarang bekerja dengan para psikiater di McLean Hospital untuk mempelajari pasien yang menderita depresi dan kecemasan. Ini untuk melihat apakah otak para pasien menunjukkan aktivitas abnormal di neocortex dan caudate nucleus selama pengambilan keputusan atas konflik penghindaran-pendekatan. Sementara itu, studi dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan aktivitas abnormal di dua wilayah medial prefrontal cortex yang terhubung dengan caudate nucleus.

Caudate nucleus di dalamnya memiliki daerah yang terhubung dengan sistem limbic yang mengatur suasana hati, dan mengirimkan input ke area motorik otak serta daerah penghasil dopamin. Menurut Graybiel dan Amemori, aktivitas abnormal yang terlihat pada caudate nucleus dalam penelitian ini dapat mengganggu aktivitas dopamin.

“Tentu ada banyak sirkuit yang terlibat,” kata Graybiel. “Tapi rupanya itu sangat berimbang sehingga hanya membuang sedikit sistem dapat dengan cepat mengubah perilaku.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.