Anak Desa: Siapa Pemimpinku?

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Jujur saja, aku tidak tahu dunia politik. Jujur saja, aku tidak belajar ilmu politik. Namun, aku hanya bisa cerita masa kecilku. Kalau masa sekarang, aku hanya bisa melihat anak-anakku dan cucu-cucuku. Aku butuh pemimpin. Anakku juga butuh pemimpin. Cucuku juga butuh pemimpin. Tentunya pemimpin yang bisa menjadi model segalanya.
Zaman milenial beda dengan zaman purbakala. Generasi Z dan Y beda dengan generasi X dan X++ (Baca eks plus-plus). Dulu aku anak desa. Dulu aku bermain dengan tanah liat. Tanah liat aku bentuk jadi mobil-mobilan. Tanah liat aku emplek-emplekkan jadi kerbau. Ada yang bisa aku bentuk jadi kucing dan kuda-kudaan. Itu semua duniaku. Itu semua dunia generasi X++.
Kini aku jauh dari dunia anakku. Kini aku jauh melambung jauh dari dunia cucuku. Aku dan anakku berbeda. Aku dan cucuku berbeda. Aku baca buku primbon. Anakku baca komik Satria Baja Hitam. Cucuku dulat dulit layar android. Cucuku menjelajah dunia maya. Cucuku menjelajah belantara. Pojok dunia mereka meliriknya. Sudut-sudut situs beraneka ragan bagi cucuku, mereka sudah mengintipnya.
Kini aku tertinggal jauh. Kini aku sering berteriak melarang anak-anaku. Kini aku berteriak mencegah cucu-cucuku. Aku ingin semua anakku dan cucu-cucuku seperti aku. Namun, alangkah susahnya dengan harapanku itu. Ternyata, anak-anakku dan cucuk-cucuku sudah bergembira ria. Mereka bagaikan anak panah kata Khalil Gibran. Dan aku sekadar busurnya.
Siapakah pemimpinku? Pemimpinku beda dengan bayangan anak-anakku. Pemimpinku beda dengan bayangan cucu-cucuku. Pemimpinku ya itu pemimpinku. Duniaku yaitu duniaku. Dunia anak itu dunia mereka. Dunia cucuku yaitu dunia mereka. Aku dan mereka beda. Namun, aku dan mereka membutuhkan pemimpin juga.
Aku masih mengenang masa kecilku. Ketika aku di desa waktu itu, aku hanya mengenal pemimpin dari waktu itu. Namun, saya butuh pemimpin yang mengetahui aku. Aku pun belum tahu. Dunia sekarang dunia anak-anakku. Dunia sekarang dunia cucu-cucuku. Namun, aku tidak mau cucuku melesat di udara bagaikan anak panah tanpa mengenal busurnya.
Dunia itu sambung menyambung. Boleh melesat di udara bagaikan anak panah. Namun, getarannya tetap terasa pijakan pangkal anak panah dengan busurnya. Memang anak panah tidak akan kembali ke busurnya. Namun, getaran energinya masih tetap terasa lompatannya bahwa energy itu berasal dari busurnya. Tanpa busur, anak panah tidak akan melesat. Tanpa busur, anak panah tidak mengenal apa-apa.
Duniaku memang duniaku. Dunia anak-anak memang dunia anak-anakku. Dunia cucu-cucuku memang dunia cucu-cucuku. Mereka beda dengan aku. Semoga selera pemimpinku sama dengan selera pemimpin dalam imajinasi anak-anakku. Semoga pemimpinku sama pemimpin seperti dalam bayangan cucu-cucuku. Inilah jarak antara aku, anak, dan cucu-cucuku.
Aku anak desa, anak-anak juga anak-anaknya orang desa. Cucu-cucuku juga cucunya orang desa. Namun, aku masih harus berdoa. Semoga anak-anakku bisa memiliki dunianya. Semoga cucu-cucuku masih memiliki dunianya. Dunia mereka dunia untuk lapangan pekerjaan. Dunia mereka adalah dunia kesempatan belajar dan Pendidikan yang layak. Dunia mereka adalah dunia kesempatan dalam meraih prestasi.
Mungkinkah jika aku masih menggapai seperti dunia mereka? Yang jelas, duniaku duniaku. Dunia anakku dunia anaku. Dunia cucuku dunia cucuku. Aku, anakku, dan cucuku, beda waktu beda kesempatan. Doaku semoga anak dan cucuku bisa meraih apa yang mereka inginkan. Pemimpinku adalah pemimpinku. Pemimpin anakku adalah pemimpin masa anakku. Dan, pemimpin cucuku adalah pemimpin dunia cucuku.
Aku tetap berdoa. Aku anak desa. Anakku anaknya orang desa. Cucuku cucunya orang desa. Doaku agar lempung alias tanah liat semoga bisa menyatu dengan dunia maya. Lempung dan tanah liat semoga berjaya dengan dunia teknologi dan digital. Anakku dan cucuku, semoga kau bisa meraih prestasimu. Amin, amin, Ya Robbal alamin.
Penulis: Adalah pengamat Pendidikan dan social; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.