Mengapa Selalu Ingin Duduk di Tempat Sama?

MEPNews.id – Pernah merasa Anda selalu berusaha memilih kursi favorit di posisi tertentu di ruang kuliah? Pernah merasa Anda selalu ingin memilih sepeda yang sama setiap kali olahraga di ruang gym? Pernah merasa Anda cenderung memesan atau memilih sisi yang sama di pesawat atau bus ketika bepergian?

Kalau ya, Anda tidak sendirian. Sebagaimana diungkap Shekhar Chandra di Quartz edisi 7 Agustus 2018, ini memang psikologi lingkungan. Perilaku ini adalah ekspresi dari apa yang disebut ‘territoriality’. Dalam ranah psikologi, territoriality atau kewilayahan ini adalah mekanisme pengorganisasian ruang yang mengekspresikan diri dengan cara mengejutkan.

“Biasanya kewilayahan disebut-sebut dalam hal agresi dan pertahanan, misalnya ketika negara atau geng mafia berperang. Tapi, sebenarnya tujuan paling umum dari kewilayahan adalah menjaga perdamaian,” kata profesor psikologi Robert Gifford dari University of Victoria di Kanada. “Sebagian besar waktu, kebanyakan orang mengklaim ruang tertentu dan orang lain diam-diam setuju saja.”

Dalam ruang kelas, selalu memilih tempat yang sama memungkinkan siswa untuk secara efektif mengatur dan mengendalikan hubungan ia dengan sesama siswa lain di ruang bersama. Ini membuat siswa merasa lebih nyaman dan meminimalisir gangguan.

Berdasarkan studi sebelumnya, psikolog Marco Costa dari Universitas Bologna di Italia, mencoba secara obyektif melacak kebiasaan duduk siswa. Selama empat minggu, ia menggunakan foto yang tidak mengganggu untuk merekam kebiasaan duduk di dua ruang kuliah universitas yang masing-masing memuat 47 dan 31 siswa.

Penelitian dilakukan melibatkan mahasiswa baru pada awal semester untuk meminimalkan dampak faktor persahabatan yang bisa mengatur pengaturan tempat duduk. Dia juga memilih ruang dengan kursi lebih banyak daripada jumlah siswa yang terdaftar. Ini memungkinkan mahasiswa lebih memiliki kebebasan serta kemungkinan mengantisipasi tekanan orang banyak.

Dengan menggunakan data ini, Costa kemudian memperkirakan rata-rata perpindahan dan dimensi wilayah untuk melihat pola duduk. Hasilnya, ia menemukan sebagian besar mahasiswa memilih kursi yang sama berulang kali. Perilaku para mahasiswa ini mencerminkan tindakan mengembangkan wilayah kecil pribadi di sekitar tempat duduk, yang membuat mereka merasa lebih nyaman.

Costa juga mengamati, bahkan jika si mahasiswa tidak dapat mempersonalisasi ruang mereka dan mempertahankannya terhadap invasi pengguna lain ketika ia tidak hadir, si mahasiswa masih duduk di posisi yang sama. Costa menyimpulkan, pilihan kursi yang sama membantu mahasiswa menguasai lingkungan mereka dan mencapai tujuan akademik dan pribadi dengan gangguan minimal.

Konsepsi perilaku temuan Costa ini diperkuat dalam penelitian Gilles Clement dari Lyon Neuroscience Research Centre dan Angie Bukley dari International Space University di Prancis. Tujuan mereka adalah menentukan seberapa cepat siswa menetap di lokasi tempat duduk tertentu —jika mereka melakukannya.

Clement dan Bukley mempelajari pemilihan tempat duduk mahasiswa di ruang kuliah selama dua program akademik 19 dan 44 hari. Untuk lebih menyempurnakan pengamatan tentang bagaimana pola tempat duduk berkembang, mereka mengumpulkan data per jam menggunakan foto yang tidak mengganggu. Temuan mereka menunjukkan mahasiswa mantap di kursi pilihan mereka mulai hari kedua kelas. Pada akhir bulan pertama dalam kuliah lebih panjang, lebih dari separo mahasiswa duduk di kursi yang sama setiap waktu.

Ada penelitian sejenis yang semakin rinci. Naz Kaya-Erdal, psikolog pendidikan independen, dan Brigitte Burgess dari University of Southern Mississippi di Amerika Serikat, ingin mengamati bagaimana jenis kelamin dan desain ruang mempengaruhi pilihan tempat duduk. Mereka mengamati ruang-ruang kelas dengan deretan kursi lengan-tablet, pengaturan kursi berbentuk U, klaster, dan deretan meja dengan kursi-kursi individu. Mereka melihat, beberapa variasi itu memang tergantung pada tata letak kelas. Tapi, yang lebih signifikan, mereka menemukan mahasiswi lebih cenderung menempati kursi yang sama daripada mahasiswa tak peduli bagaimana desain ruang kelasnya. Mereka menyimpulkan, ini bisa terjadi karena mahasiswa sering membawa tas tangan di samping buku catatan atau buku teks, yang dapat menyebabkan keinginan untuk mengklaim kursi dengan kemungkinan ruang lebih luas.

Tetapi apa efek pilihan wilayah ini terhadap pembelajaran?

Menurut Profesor Ralph B. Taylor dari Temple University, yang juga penulis buku Human Territorial Functioning: An Empirical Perspective on Individual and Small Group Territorial Cognitions, dengan membangun wilayah pribadi maka penghuninya mencoba menghindari kebutuhan sehari-hari untuk bernegosiasi dengan lingkungan eksternal. Si penghuni wilayah itu tidak perlu lagi membuang-buang energi mental untuk membuat diri merasa nyaman secara psikologis dalam posisi baru setiap hari. Dengan klaim wilayah, lebih mudah bagi mereka untuk mencapai tujuan antara lain berkonsentrasi pada kuliah.

Dengan kata lain, duduk di tempat yang sama setiap kali kuliah mungkin membuat orang lebih siap pada lingkungan belajar yang lebih optimal. “Dengan memahami bagaimana kewilayahan mempengaruhi interaksi sosial dan perilaku kelas, kita jadi lebih mungkin menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk belajar,” kata Kaya-Erdal.

Facebook Comments

POST A COMMENT.