Tematik apa Rematik ?

“SOLUSI PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR”

Oleh: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —Pergantian Kurikulum di dunia pendidikan Indonesia akhir-akhir ini , seperti proses membuat bakso, dimana proses pergantian itu begitu cepat terjadi. Belum dikuasainya dengan baik oleh guru tentang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) berganti lagi menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Sekarang sedang berjalan Kurikulum 2013. Dimana sekolah harus membuat kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.

Disinilah terjadi kebingungan dari sekolah, karena dengan diserahkan kepada sekolah masing-masing juga akan berdampak kepada model-model pembelajaran terutama untuk kelas 1 – 6 dikenal dengan model tematik. Dimana model pembelajaran tematik ini amat sangat menyusahkan guru-guru. Dimana letak kesusahannya adalah guru-guru baru saja membuat tema untuk menjaring indikator dari kompetensi dasar, tahu-tahu di KTSP setiap guru harus mengembangkan indikator masing-masing sesuai spesifikasi mata pelajaran. Kebingungan ini diberikan solusi diterbitkannya buku guru, jadi guru tinggal memakai buku itu dan bisa lansgajng konser di depan kelas.

Di buku guru sudah ada jaringan indikator dari sini guru bisa membuat silabus dari beberapa mata pelajaran yang terjaring pada indikator tersebut. Tidak habis disitu untuk urusan tema saja harus sama sesuai contoh dari dinas pendidikan. Padahal urusan tema itu kan harus menyesuaikan karakteristik sekolah. Belum lagi wacana tematik ada model es jus dan model es campur, yang membuat tidak fokus pada kompetensi tetapi guru akhirnya fokus pada tema. Akhirnya pada tahun ajaran 2018 ini ada revisi dengan keluarnya matapelajaran Matematika dan olahraga yang berdiri sendiri. (KEBANGETEN KONSULTANNYA YANG MEMBUAT KONSEP TEMATIK DI SD SEBAGAI PERCOBAAN DENGAN MENYURUH MENYATUKAN PELAJARAN)

Akhirnya yang terjadi di sekolah dengan kerumitan itu maka mereka membuat pilihan dengan pelaksanaan tematik diganti dengan rematik, artinya guru tetap mengajarkan sesuai bidang studi masing-masing, toh yang dicari wali murid adalah siswa bisa mencapai indikator yang diajarkan bukan pada tema yang dikembangkan oleh guru. Apalagi di raport juga keluar nilai yang berdiri sendiri.

Sikap putus asa itu bisa dipahami, karena bagaimana bisa melaksanakan pembelajaran tematik dengan baik kalau buku acuan dan LKS (Lembar Kerja Siswa) saja guru-guru belum bisa membuat sendiri. Apalagi mayoritas sekolah menggunakan buku pegangan yang diterbitkan oleh penerbit, bukan dibuat sendiri oleh guru, yang akibatnya tema-tema yang dibuat oleh guru tidak bermakna sama sekali karena setelah guru menerangkan murid-murid diminta mengerjakan LKS yang dibuat oleh penerbit yang tidak ada hubungannya dengan tema yang diberikan kepada murid-muridnya.

Agar model pembelajaran tematik bisa dilaksanakan dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai dalam mengembangkan kemampuan peserta didik kelas 1 – 6. Dimana anak-anak masih berada pada rentangan usia dini dan mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sertab masih bergantung kepada objek-objek konkrit berdasar pengalaman yang dialaminya. Maka alternatif-altenatif dibawah ini dapat digunakan sebagai kerangka yang sudah kami laksanakan ini dapat sebagai bahan pertimbangan.

Bagaimana solusinya agar model pembelajaran tematik bisa dilaksanakan dengan baik di kelas 1 – 6? Berikut ini cara yang sudah kami kembangkan dan bisa secara maksimal terlaksana tanpa terbebani dengan administrasi yang rumit dan bertele-tele tapi aplikatif dalam proses belajar mengajar. Langkah-langkah aplikatif tersebut adalah:

Pemahamana Kurikulum
Terpenting bagi guru-guru adalah memahami bagaimana kurikulum dikembangkan, apa tujuannya, bagaimana alur berfikirnya, bagaimana siswa siswi dapat mencapai kompetensinya, bagaimana mengembangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan bagaimana SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar) bisa diapilkasikan dalam proses belajar mengajar.

Pemahaman Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom sangat penting bagi guru dalam memahami kurikulum dan mengembangkan indikator dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Dengan memahami taksonomi bloom sejak awal akan memudahkan bagi guru melihat ranah-ranah yang bisa dikembangkan pada indikator tersebut dan bentuk penilaian yang dikembangkan oleh guru terdeteksi sejak awal.

Telaah Kompetensi Dasar: Telaah Kompetensi Dasar berfungsi untuk melihat dan menganalisa kata-kata kerja operasional yang ada pada kurikulum, apakah kata kerja operasional terleak pada C1, C2, C3, C4, C5 atau C6. Letak kata kerja operasional ini akan berdampak pada pemakaian kata-kata kerja operasional pada indikator yang aplikatif dan tidak membingungkan siswa siswi.

Pengembangan Indikator: Dalam pengembangan indicator inilah kunci keberhasilan pembelajaran, dengan pengembangan indikator yang sesuai kata kerjanya maka akan memudahkan siswa dalam mencapai kompetensi dasar. Karena tangga-tangga pencapaian yang berupa kata-kata kerja operasional pada indikator akan memudahkan alur berfikir siswa yang beringkat menuju Kompetensi Dasar.

Desain Penilaian, alokasi waktu dan Sumber Belajar: Desain penilaian ini merupakan rangkaian dari pengembangan indikator, untuk memudahkan guru dalam pengembangan penilaian yang akan dikembangkan dalam mencapai KD tersebut guru-guru harus tahu apa penilaian yang seusai dari indikator-indikator yang dikembangkan. Dan mendesain sumber belajar yang digunakan dalam pencapaian indikatro tersebut. Dengan desain penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar sejak awal maka akan memudahkan dalam pembuatan Lesson Plan, karena sudah tidak perlu lagi membuat silabus yang bertele-tele itu.

Menentukan model Pembelajaran Tematik yang digunakan: Penentuan model pembelajaran tematik merupakan salah satu kunci pelaksnaan pembelajaran tematik. Apabila sekolah tidak tahu model tematik apa yang dikembangkan, maka sekolah akan terombang ambing dengan perubahan-perubahan yang terus menerus terjadi yang akibatnya akan menyusahkan guru dan siswa, dan ini yang bayak terjadi di sekolah-sekolah dimana-mana. Sebetulnya Ada 3 model yang bisa dipilih oleh sekolah yang nanti dimasukkan kedalam KTSP, yaitu: 1. Model Hubungan/Model Terkait (Connected model.2. Model Jaring Laba-laba/Model Terjala (Webbed model. 3.Model Terpadu (Integrated model)

Membuat Tema: Tema memiliki peranan yang penting dalam pembelajaran tematik dan inilah sebetulnya yang bisa digunakan sebagai ciri khas dalam pengembangan tematik oleh sekolah. Tema-tema yang dikembangkan harus berdasar kebutuhan sekolah bukan sekedar mengambil contoh yang dikeluarkan oleh Diknas. Cari yang dekat dengan kondisi dan kebutuhan anak. Dan disesuaikan dengan kebutuhan pada program semester yang akan dikembangkan.

Membuat Program Semester: Program semester dalam pembelajaran tematik cukup dibuat satu lembar saja, yang terpenting apa yang mau dicapai pada tema-tema bisa dilaksanakan. Setelah itu dikembangkan menjadi materi mingguan yang diberikan kepada wali murid. Jadi cukup simple.

Membuat Jaringan Keterpaduan
: Tidak semua indikator bisa dimasukkan di dalam tema, hanya indikator-indikator tertentu saja yang bisa dikembangkan. Guru harus pandai-pandai mencari indicator yang sesuai. Kalau tidak sesuai, maka indicator itu harus diberikan dengan pembelaajran tersendiri. Tetapi Ironisnya contoh yang ada dari Dinas Pendidikan Pusat hampir semua indikator habis masuk kedalam tema-tema sampai akhirnya ada indikator yang tidak sesuai dengan tema, misalnya contoh pada lampiran jaringan tema di halaman 1, di tema lingkungan 1, pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan ada indikator yang berbunyi Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat Berjalan dengan berbagai pola langkah dan kecepatan. Indikator ini tidak sambung sama sekali dengan tema lingkungan yang dikembangkan alias Joko Sembung naik becak, tidak nyambung cak!

Membuat Lesson Plan: Dalam pembuatan Lesson Plan harus berpatokan pada Desain penilaian dan sumber belajar. Indikator-indikator yang dikembangkan agar bisa menjadi pembelajaran yang bermakna dan holistik harus menggunakan strategi dan ketrampilan yang tepat di dalam proses belajar mengajar. Dalam pengembangan lesson Plan menggunakan siklus sebagai berikut:

Tun in atau Penyamaan gelombang: Find Out atau Pencarian
Sort Out atau Pemilahan
Making Conclusion atau Pemecahan Masalah
Reflection atau Refleksi
Misal contoh siklus lesson plan dibawah ini secara sederhana menampilkan 6 komponen tersebut berupa strategi dan ketrampilan:

Tun in : Strategi: Curah pendapat, ketrampilan:bertanya, Find Out: Strategi : Menginterviu pembicara tamu, ketrampilan: Mencatat

Sort Out : Strategi : Mempresentasikan, ketrampilan: Mempresentasikan ide

Making Conclusion; Strategi: Membangun alur, ketrampilan: Menyatakan kembali

Reflection; Strategi: Penilaian sejawat, ketrampilan:Melakukan refleksi

Lesson Plan seperti diatas memang bukan gambaran utuh karena tidak mungkin ditulis secara utuh disini, tapi yang jelas siklus ini sangat membantu proses pencarian bagi peserta didik dengan baik.

Membuat bahan ajar sesuai tema untuk siswa: Siswa akan senang belajar apabila mereka mendapat materi-materi yang sesuai dengan kebutuhan, fungsi guru adalah membuatkan alur yang sesuai dengan KD dan Indikator. Jadi guru harus membuat buku dan LKS sendiri sehingga siswa siswi akan mengalami langsung apa yang diinginkan tanpa meninggalkan KD dan Indikator yang harus mereka capai.

Perlu keseriusan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik kelas 1 -6 di Sekolah Dasar. Disamping itu perlu kerjasama yang erat antar sesama guru-guru pengajar di kelas 1 – 6 dalam menentukan tema-tema yang sesuai agar tema-tema itu semakin mengerucut sesampai anak-anak di kelas 6 dan tidak terjadi pengulangan-pengulangan tema yang justru akan tidak membawa pembelajaran bermakna bagi siswa. Terpenting ada keterbukaan dari semua pihak baik Pengawas, Cabang Dinas Pendidikan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah ada bermacam-macam cara, tergantung kekuatan sekolah masing-masiang yang tidak harus sama antara sekolah satu dengan lainnya dan itu justru untuk memperkuat pembelajaran tematik pada masa yang akan datang.

Semoga bermanfaat untuk melaksanakan pembelajaran tematik di sekolah, bukan pembelajaran rematik yang berdiri sendiri. Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.