Gempa Lombok dan Faktor Back-Arc Thrusting

lombok bangkitMEPNews.id – Dua gempa besar dan sejumlah gempa susulan menghantam pulau Lombok hanya dalam rentang waktu seminggu. Gempa 7,0 Skala Richter 5 Agustus 2018 menewaskan sedikitnya 98 orang dan melukai ratusan lainnya. Gempa 6,4 skala Richter 29 Juli menewaskan 17 orang dan melukai ratusan. Sementara, ribuan bangunan rusak. Upaya penyelamatan masih terhambat padamnya listrik, kurangnya alat berat, terputusnya sambungan telepon di beberapa daerah, dan terbatasnya pilihan evakuasi.

Jane Cunneen, research fellow di Curtin University, dan profesor Phil R. Cummins dari Australian National University yang sudah 30 bekerja terkait gempa, menurunkan tulisan ‘Two types of tectonic plate activity create earthquake and tsunami risk on Lombok’ di The Conversation edisi 7 Agustus 2018.

Mereka menyebut, mayoritas gempa besar terjadi di atau dekat batas lempeng tektonik Bumi termasuk di Lombok. Namun, ada beberapa kondisi unik di sekitar Lombok. Gempa ini terjadi di sepanjang zona tertentu di mana lempeng tektonik Australia mulai bergerak di atas lempeng Indonesia. Lempeng tektonik Australia ini tidak meluncur di bawahnya, seperti yang terjadi di selatan Lombok. Ini berarti risiko gempa dan tsunami tidak hanya di sepanjang batas lempeng selatan Lombok dan Bali, tetapi juga dari zona ini menyorong ke utara.

gempa petaPelat tektonik adalah lempengan kerak Bumi yang bergerak sangat lambat di permukaan planet kita. Indonesia berada di sepanjang ‘Cincin Api Pasifik’ tempat beberapa lempeng tektonik bertemu, sehingga berpotensi banyak letusan gunung berapi dan gempa bumi saat lemeng-lempeng itu bergerak dan bertubrukan.

Beberapa gempa bumi ini sangat besar. Gempa 9,1 skala Richter di lepas pantai barat Sumatera menghasilkan tsunami di Samudra Hindia pada 2004. Dalam kasus ini, gempa terjadi di sepanjang zona subduksi Jawa-Sumatra, tempat lempeng tektonik Australia bergerak di bawah lempeng Sunda Indonesia.

Di sebelah timur Jawa, gerak zona subduksi ini ‘dihadang’ oleh kerak benua Australia, yang jauh lebih tebal dan lebih mengapung daripada kerak samudera yang bergerak di bawah Jawa dan Sumatra. Kerak benua Australia ini tidak dapat didorong ke bawah lempeng Sunda, dan bahkan malah mulai menungganginya. Proses ini dikenal sebagai back-arc thrusting.

Data dari sejumlah gempa Lombok baru-baru ini menunjukkan keterkaitan dengan zona back-arc ini. Zona ini memanjang ke utara pulau-pulau yang membentang dari Jawa Timur ke pulau Wetar, tepat di utara Timor. Secara historis, gempa bumi besar juga terjadi di sepanjang busur punggung ini di dekat Lombok. Bukan hanya pada abad ke-19, tapi juga baru-baru ini. Diperkirakan, zona back-arc makin menonjol dan pada akhirnya akan membentuk zona subduksi baru ke utara dari Jawa timur ke pulau Wetar di utara Timor.

Gempa baru-baru ini di Lombok plus sejumlah gempa susulan, dan gempa seminggu sebelumnya, terjadi di Lombok utara di bawah tanah dan cukup dangkal. Gempa bumi di darat terkadang bisa menyebabkan tanah longsor dan menghasilkan gelombang tsunami. Ketika gempa dangkal pecah di dasar laut, tsunami jauh lebih besar dan lebih berbahaya dapat terjadi.

Karena banyaknya gempa dangkal di sepanjang batas lempeng, Indonesia sangat rentan terhadap tsunami. Pada 2004, tsunami di Samudra Hindia menewaskan lebih dari 165.000 orang di sepanjang pantai Sumatra. Pada 2006, lebih dari 600 orang tewas oleh tsunami yang berdampak pada pantai selatan Jawa. Wilayah di sekitar Lombok juga memiliki sejarah tsunami. Pada 1992, gempa berkekuatan 7,9 terjadi di utara pulau Flores dan menghasilkan tsunami yang menyapu desa-desa pesisir, menewaskan lebih dari 2.000 orang. Gempa abad ke-19 di wilayah ini juga menyebabkan tsunami besar yang menewaskan banyak orang.

Daerah sekitar Lombok dan pulau-pulau di dekatnya, termasuk Bali, beresiko tinggi kena gempa bumi dan tsunami yang terjadi di utara maupun selatan. Sayangnya, gempa besar seperti yang terjadi di Lombok ini masih belum bisa diprediksi. Belum ada alat bantu teknologi yang bisa memprediksi gempa. Maka, pemahaman tentang bahaya ini sangat penting agar kita siap menghadapi kejadian serupa di masa depan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.