Komunikasi Berwawasan Global

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —– Tidak sedikit, kita temui interaksi global yang kurang tepat. Komunikasi itu tidak dalam bentuk bahasa lisan saja. Kumunikasi secara global juga harus berwawasan global. Ini melibatkan berbagai pola perilaku. Bahasa lisan yang diucapkan adalah salah satu. Di samping itu, gerak gerik tubuh juga merupakan salah satu faktor menggambarkan wawasan global kita. Bahkan kertas kecil yang kita bawa, misalnya kartu nama, juga merupakan atribut wawasan kita.

Ada berbagai kegiatan yang bersifat global atau internasional (global events). Misalnya saja, seminar, lokakarya, simposium, dan konferensi internasional. Semua kegiatan internasional bisa melibatkan banyak peserta dari berbagai negara. Mereka memiliki karakter berbeda. Mereka memiliki budaya berbeda. Mereka juga membawa pespektif berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman hidup mereka di negara mereka sendiri.

Namun, ada beberapa nilai atau budaya yang bisa dirujuk bersama-sama. Bahasa yang paling umum untuk komunkasi global adalah bahasa Inggris. Ada hal yang sangat spesifik dalam komunikasi global ini. Khusus di dalam artikel ini, kita bahas dua hal kecil tetapi sangat krusial. Dua hal itu adalah komunikasi awal dalam bahasa dan perilaku dalam memberikan dan menerima kartu nama (business cards).

Pertama, hal terkait dengan kalimat percakapan kali pertama bertemu dengan tamu. Misalnya saja, ketika tamu datang atau peserta datang, kita ucapkan selamat datang, misalnya “ Welcome to Indonesia!”. Atau, sebut “Welcome to…” dengan nama kota atau nama event seminar atau konferensi. Hindari bertanya “Are you alone?” Ini sangat sensitif. Lebih baik bertanya, “How do you do?” karena belum saling kenal. Kemudian, “Nice to meet you!”

Jika tamu sudah kenal atau pernah bertemu sebelumnya, maka kita bisa mengucapkan, “How are you?”. Kemudian “Nice to meet you!” Dan seterusnya. “How do you do?” itu jika belum saling kenal. Adapun “How are you?” itu jika sudah pernah tahu.

Kemudian, berbicaralah tentang sesuatu yang bisa di sharing bersama atau umum. Misalnya, “Where are you from?” Jika dijawab “ From Tokyo!”, akan lebih hangat jika kita berkomentar tentang sesuatu yang sama (common things). Misalnya, “Oh, Tokyo is a nice city.” Atau jika kita sudah pernah ke Tokyo, kita bisa komentar misalnya, “Wow, I visited Tokyo last year! It was so wonderful” Dan, seterusnya. Itu akan bisa lebih hangat dan “mengorangkan” orang lain (humanize others).

Hindari berbicara terlalu banyak tentang apa yang kita ketahui. Hindari juga bertanya hal-hal yang pribadi (privacy), misalnya “How old are you?”; “Are you single or married?” Ini sangat sensitif. Termasuk jangan bertanya “ Are you alone?” Meski dia datang sendirian.

Kemudian, hindari berbicara terlalu banyak tentang diri kita. Lebih baik kita berbicara tentang hal-hal umum yang bisa di-sharing bersama (common things). Akan lebih afdol jika kita berbicara tentang kesamaan antara kita dan tamu atau orang yang baru kita kenal.

Masalah kedua adalah memberi dan menerima kartu nama. Kartu nama dalam perspektif global disebut business card. Jangan menerima kartu nama dengan tangan kiri. Jika yang memberikan kartu nama dengan tangan kanan, maka terimalah dengan tangan kanan. Jika yang memberikan kartu nama dengan kedua tangan (kiri dan kanan), maka terima lah kartu nama itu dengan kedua tanggan kita. Ini masih banyak yang belum paham jika kita amati. Namun, jika kita yang memberi kartu nama, maka berikanlah dengan kedua tangan.

Setelah menerima kartu nama, jangan sekali-kali memasukkan kartu nama ke dalam saku celana bawah atau belakang. Ini sangat tidak sopan. Akan lebih baik ketika menerima kartu nama, bacalah nama dan kedudukan (jabatan) ayang ada di dalam kartu nama itu. Jika nama dibaca, akan lebih baik juga menanyakan cara mengucapkannya (pronunciation).

Nama bersifat global, yang ucapannya berbeda. Itu sebabnya, perlu ditanyakan. Misalnya, “What shoudl I call your name?” Ini karena, dalam bahasa Inggris, bisa saja nama dan ejaan memiliki ucapan yang berbeda dengan “lidah kita”. Apalagi jika itu nama berbahasa Perancis atau bahasa yang tidak kita kenal. Intinya, kartu nama itu identitas pribadi yang perlu dihargai. Sekali lagi, ada yang perlu dicatat. Jangan segera memasukkan kartu nama ke dompet, apalagi saku celana! Tetapi, cermatilah apa yang tertulis dan baca nama dengan baik.

Hal yang lebih penting lagi, janganlah minta kartu nama di depan orang banyak. Ini karena, bisa saja, dia tidak membawa kartu nama yang cukup. Atau, kalau membawa kartu nama, mungkin tidak cukup untuk orang banyak yang melihatnya. Dan, jika yang hanya diberi kartu nama hanya kita saja, orang lain tidak diberi karena hanya tersisa sedikit (satu atau dua), maka ini juga tidak baik.

Bayangkan jika ada orang meminta kartu nama di depan Anda! Kemudian, dia diberi kartu nama. Tetapi, pas Anda sendiri terakhir, kartu nama habis, maka Anda tidak diberi. Itu sebabnya, meminta kartu nama akan lebih baik jika secara private: tidak di depan orang banyak.

Penulis adalah: Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dan dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.