Menulis di Malam Minggu

Oleh: Moh. Husen

Sangat romantis rasanya jika kita mau menulis di malam minggu, seperti malam minggu sekarang ini. Mungkin karena suasananya dingin dan hujan rintik-rintik sehingga diam di rumah, ngopi-ngopi, serta juga menulis merupakan satu kehangatan yang harmoni untuk dinikmati.

Menulis dan kehidupan ini bagai satu kesatuan. Kita tidak tahu besok pagi akan menulis apa, judulnya gimana, menceritakan apa, mengkritisi pemerintah atau menaburkan cinta ke alam semesta, semuanya masih belum tahu persis. Terkadang yang kita rencanakan justru meleset. Yang kita ikhlaskan dan tak kita kejar justru merapat dan mendekat.

Kalau ada orang menulis jangan ditabrak kok tidak mengaji. Kalau ada orang mengaji jangan juga ditantang kok tidak bersedekah menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk menolong orang-orang yang cari makan saja susah atau marilah bersabar mengasuh anak-anak yatim piatu dalam kehidupan. Mohon janganlah cerewet semacam itu.

Marilah kita menulis. Menjalani kehidupan dari huruf perhuruf. Kalau masih A ya jangan keburu B. Kalau sudah Z kembalilah mendalami A. Karena pengertian A kita hari ini akan berbeda dengan pengertian A kita kemarin hari. Meskipun sudah tua, renungilah bayi. Al-Quran pun demikian. Setelah khatam diulang kembali dan jangan sampai guyon: Tuhan kok tidak produktif, Al-Quran kok cuma setebal itu.

Menulis itu dijalani. Salah diperbaiki. Kurang enak dibenahi. Demikianlah seyogyanya menjalani hidup. Setelah hari ini “judul tulisan” kita misalnya saja dapat proyek satu milyar, terus selanjutnya berjudul apa lagi kita ya tak tahu pasti.

“Semua Nabi penuh masalah. Sangka baik atas esok hari,” kata sebuah Short Message Service dari seseorang sekian tahun yang lalu menjawab kegalauan hati seorang hamba Allah.

“Emang manusia punya kekuatan apa selain menghirup-hirup kekuatanNya dalam setiap hari. Mewiridkan asmaNya agar kita dikasihi. Mencintai kekasihNya agar tak terlalu dimurkai. Dosa kita sudah sangat banyak,” tulis penikmat kopi di malam minggu.

Akan tetapi tatkala penikmat kopi ini merasa tidak pe-de dengan tulisannya dan dihapus terus menerus, dia ditampar oleh kata hatinya sendiri: “Emangnya diri kamu sekarang ini sudah sempurna? Apakah kamu juga akan menghapus kehidupanmu? Ayo malam minggu ini kamu menulis lagi…”

Shock dan bongko-lah si penikmat kopi ini dibegitukan. Dia harus menulis lagi–meskipun tidak jelas bahwa ia sedang menulis atau mengomel–sebagaimana ia harus menjalani kehidupan dalam setiap hari. (Banyuwangi, 4 Agustus 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.