Apa Bedanya Pemimpin dan Sekadar Pengikut?

MEPNews.id – Orang-orang yang punya karakter dan jiwa pemimpin sejati lebih berani dan mau bertanggung jawab untuk membuat keputusan yang mempengaruhi kesejahteraan orang lain.

EurekAlert! edisi 3 Agustus 2018 mengabarkan, para peneliti di University of Zurich di Swiss mengidentifikasi proses kognitif dan neurobiologis yang mempengaruhi apakah seseorang lebih mungkin mengambil peran kepemimpinan atau untuk sekadar mendelegasikan pengambilan keputusan.

Ke sekolah mana saya belajarkan anak saya? Apakah saya perlu mengurangi tenaga kerja di perusahaan? Haruskah tentara melakukan serangan malam ini atau menunggu sampai besok? Orang tua, bos perusahaan, panglima militer, guru, hingga kepala negara, semuanya memiliki kesamaan: harus membuat keputusan yang tidak hanya memengaruhi diri sendiri tetapi juga mempengaruhi nasib orang lain. Terkadang konsekuensinya akan hanya ditanggung individu, tapi terkadang pula harus ditanggung oleh seluruh organisasi atau bahkan negara.

Peneliti dari Departemen Ekonomi di University of Zurich menyelidiki apa yang membedakan orang dengan kemampuan kepemimpinan sejati dengan pemimpin yang sekadar pengikut. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science dengan judul ‘Computational and neurobiological foundations of leadership decisions’, mereka mengidentifikasi dan mengkarakterisasi proses keputusan bersama yang dapat membedakan pemimpin sejati dan pemimpin pengikut. Proses penentu itu adalah; keengganan untuk bertanggung jawab, atau keengganan untuk membuat keputusan yang juga mempengaruhi orang lain.

Dalam studi tersebut, peserta penelitian berupa para pemimpin kelompok dapat membuat keputusan secara mandiri atau mendelegasikannya kepada kelompok. Perbedaan ditetapkan antara keputusan ‘sendiri’ yang hanya mempengaruhi si pembuat keputusan itu sendiri, dan keputusan ‘kelompok’ yang mengandung konsekuensi untuk seluruh kelompok. Proses neurobiologis yang terjadi di otak para peserta penelitian saat membuat keputusan diperiksa menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI).

Para ilmuwan menguji beberapa keyakinan intuitif yang umum, antara lain anggapan bahwa individu yang kurang takut akan potensi kerugian atau kurang takut mengambil risiko, atau individu yang suka memegang kendali, yang akan lebih siap memikul beban tanggung jawab untuk orang lain. Namun, karakteristik ini tidak bisa menjelaskan berbagai tingkat keengganan tanggung jawab yang ditemukan dalam peserta penelitian. Sebaliknya peneliti menemukan keengganan bertanggung jawab itu didorong oleh kebutuhan lebih besar untuk kepastian tentang tindakan terbaik ketika keputusan itu juga berdampak pada orang lain. Pergeseran dalam kebutuhan demi kepastian ini terutama tampak pada orang-orang yang sangat membenci tanggung jawab.

“Karena kerangka ini menyoroti perubahan dalam jumlah kepastian yang diperlukan untuk membuat keputusan, dan bukannya kecenderungan umum individu untuk memegang kontrol, maka ini dapat menjelaskan banyak jenis kepemimpinan berbeda,” kata penulis utama penelitian, Micah Edelson. “Ini dapat mencakup pemimpin otoriter yang membuat sebagian besar keputusan secara mandiri, hingga pemimpin egaliter yang sering mencari konsensus dalam kelompok.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.