Perbedaan Sosial Politik Bisa Bikin Paranoid

MEPNews.id – Tahun politik, harap hati-hati dan sangat bijaksana. Mengapa? Ada penelitian yang menyebutkan, berinteraksi dengan seseorang dengan status sosial lebih tinggi atau dengan keyakinan politik yang bertentangan dapat meningkatkan interpretasi paranoid terhadap tindakan orang lain. Hasil penelitian terbaru di Inggris ini diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science.

“Waspada terhadap bahaya sosial itu memang kunci bagi kelangsungan hidup kita. Tapi, hasil penelitian kami menunjukkan, perbedaan sosial saja sudah bisa mendorong kita untuk berpikir bahwa orang lain ingin menyakiti kita,” kata Profesor Nichola Raihani, penulis senior penelitian dari Psychology & Language Sciences, di University College London (UCL), dikutip Traci Pedersen untuk PsychCentral edisi 3 Agustus 2018.

Dalam penelitian didefinisikan, paranoia adalah kecenderungan untuk menganggap orang lain mencoba menyakiti seseorng saat motivasi mereka yang sebenarnya tidak terlalu jelas.

Kata Profesor Raihani, “Paranoia yang intens juga merupakan gejala sakit mental. Kondisi ini lebih umum ditemukan di antara orang-orang yang menganggap diri mereka memiliki peringkat sosial lebih rendah. Maka, kami percaya temuan kami ini dapat menjelaskan mengapa paranoia lebih umum terjadi pada kaum yang berjuang di tangga rendah sosial dan terkucilkan di masyarakat.”

Untuk penelitian ini, 2.030 orang berpartisipasi dalam eksperimen secara online. Sebelum eksperimen, semua peserta mengisi kuesioner, melaporkan kecenderungan mereka untuk berpikir paranoid, serta melaporkan status sosial yang mereka rasakan sendiri dan afiliasi politik mereka di sepanjang spektrum liberal hingga konservatif.

Masing-masing peserta penelitian kemudian diberi sejumlah uang sambil dipasangkan dengan orang lain dari status sosial yang lebih tinggi, lebih rendah atau setara, atau dipasangkan dengan orang lain yang memiliki keyakinan politik serupa atau berlawanan.

Dalam setiap pasangan, satu orang memiliki kekuasaan untuk memutuskan apakah bersedia berbagi uang sama banyak atau menyimpan semuanya untuk diri sendiri. Pasangan yang lain kemudian diminta untuk menilai seberapa banyak keputusan tersebut dimotivasi oleh kepentingan pribadi si penentu, dan seberapa besar keputusan itu dimotivasi oleh keinginan si penentu untuk tidak memberikan apa pun (sebagai ukuran atas niat berbahaya yang dirasakan).

Dalam putaran berikut, peran-peran itu kemudian dibalik dan dengan sejumlah uang yang baru.

Temuan penelitian menunjukkan, mereka yang dipasangkan dengan seseorang dengan status sosial lebih tinggi atau dengan keyakinan politik berbeda, lebih mungkin berasumsi bahwa keputusan pasangan dimotivasi oleh keinginan untuk mencelakakan mereka. Namun, perbedaan sosial tidak mempengaruhi seberapa sering orang mengasumsikan pasangan mereka dimotivasi oleh kepentingan pribadi.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa persepsi berlebihan atas niat buruk orang lain terjadi pada tingkat yang sama, tak peduli apakah peserta sudah memiliki tingkat pemikiran paranoid yang tinggi.

“Temuan kami menunjukkan, orang-orang yang mengalami tingkat paranoia tinggi sama-sama terhubung dengan perbedaan social, meski kadang-kadang tampaknya mereka salah dalam mengartikan dunia sosial. Penelitian ini dapat membantu kita memahami bagaimana pengucilan, pembedaan dan ketidakberuntungan bisa memicu beberapa masalah kesehatan mental yang parah,” kata mitra penulis Dr Vaughan Bell dari UCL.

Facebook Comments

POST A COMMENT.