Ketika Kita Harus Merayakan Kembali Menjadi Indonesia

Catatan Oase :

MEPNews.id — Orang miskin dilarang sekolah, orang miskin dilarang sakit, orang miskin sumber masalah dan sederet perlakuan yang diterima orang miskin, inilah yang merupakan ruh Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Mengantarkan rakyat Indonsesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Harapan yang disematkan adalah mencerdaskan dan mensejahterakan rakyatnya.

Ketika memasuki sebuah belantara rumah sakit, sekolah dan persoalan layanan hukum, saya merasakan saya tak lagi berada disuatu tempat yang namanya Indonesia. Apalagi kalau menyangkut hak, saya ragu bahwa saya berada di Indonesia yang katanya sudah merdeka. Jangan tanya kalau urusan kewajiban rakyat, rakyat seolah berada dibawah penjajahan jaman pra kemerdekaan.

Hari hari saya selalu saya lewati dengan kecemasan warga tak mampu sekolah, ketakutan putus sekolah, tak mampu bayar biaya perawatan kesehatan, padahal cerdas dan sehat adalah hak. Nah sekali lagi saya ragu apakah saya berada dinegeri yang namanya Indonesia?

Miris ketika melihat para politisi dan elit politik mengadu domba rakyat dengan merampas hak berdemokrasi, saling nista antar anak bangsa, saling cela, padahal katanya paling Indonesia. Ah lagi lagi saya ragu benarkah saya berada di Indonesia?

Merayakan menjadi Indonesia kembali dan merenda aksara nusantara merupakan pilihan kalimat yang menohok jalan pikiran dan perasaan saya. Betapa tidak saya diajak merayakan ke Indonesiaan saya, ini artinya rasa ke Indonesiaan itu telah hilang dan saya menemukan kembali, lalu saya merayakannya. Begitu juga dengan kalimat merenda aksara nusantara, seolah unsur unsur pembentuk Indonesia sudah saling terpisah dan terlepas, sehingga dibutuhkan energi merendanya kembali menjadi bingkai yang bersatu.

Ya memang indonesiaku, indonesiamu, indonesia kita perlu dirayakan, karena selama ini rasanya kita sudah tidak lagi menjadi Indonesia. Indonesia hanya dimulut saja, teriak NKRI tapi justru kalian yang merobek kesatuan itu, kalian lakukan pembiaran ketika para separatis papua menproklamirkan kemerdekaannya atas nama hak asasi, tapi ini terjadi di bumi Indonesia. Atas nama sejarah, kalian tak hirau pada apa yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rasanya saya mencium bau anyir dari teriakan NKRI harga mati, karena teriakan itu tak lebih sebagai teriakan sumir ditengah kegetiran rasa kebangsaan kita. Ah sudahlah… Indonesia memang indah dan menakjubkan, semoga di bulan kemrdekaan ini kita bisa merakannya kembali menjadi Indonesia yang benar benar merdeka.

Assalammualaikum wr wb, selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga Allah merahmati.. Aamien.

Surabaya, 2 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan dan staf pengajar fisip ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.