Guru dan Medsos

tom kolom kecilOleh; Teguh Wahyu Utomo

MEPNews.id – “Duh, koreksian banyak. Capek. Ngemoll dulu, ah…” begitu status seorang guru yang tertulis di Facebook.

Tak lama kemudian, status ini di-reply oleh salah seorang murid, “Lho, ulanganku koq ditinggal Bu. Kapan selesainya?”

Wah…wah…rupanya si Ibu Guru ini kurang hati-hati. Ia tidak sadar bahwa beberapa muridnya telah terdaftar menjadi friend di account-nya. Ketika menuliskan sesuatu, tentu murid yang juga friend ini membacanya. Saat si Ibu Guru ini menuliskan keluhan, si murid menanggapinya. Ketika isi tulisan si Ibu Guru menggambarkan sesuatu terkait ulangan, si murid merasa bahwa pekerjaannya sedang disia-siakan. Tak pelak, si murid membuat reply yang isinya ‘protes’ pada gurunya.

Ada adagium, guru itu ‘digugu lan ditiru’. Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan, guru itu “Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangunkarsa. Tut wuri handayani.” Dalam realita sehari-hari, guru juga seperti selebriti setidaknya di lingkup sekolah. Apa pun yang dilakukan guru pasti jadi perhatian murid-muridnya.

Ada, dan mungkin sudah banyak, guru yang aktif di media sosial. Ada yang memiliki account di Instagram, Line, Facebook, Tiktok, Twitter, Youtube dan sejenisnya. Guru yang demikian itu tentu punya sisi baik. Ia tidak gaptek, bisa populer atau lebih dekat dengan siswa-siswanya, dan bahkan bisa menjalin komunikasi dengan banyak siswanya lewat aktivitas sharing.

Namun, di era jagad digital seperti sekarang ini, guru harus lebih berhati-hati. Bukan hanya jadi perhatian di dunia nyata sehari-hari, guru juga menjadi perhatian di dunia maya. Karena itu, sebagai figur panutan, guru juga harus bijak menuangkan uneg-uneg di media sosial.

Sedapat mungkin, jangan kirim tulisan, kabar, atau gambar yang tidak layak. Meski sedang berlibur ke pantai, tidak layak rasanya jika gambar guru nyincing rok dikirim ke media sosial. Meski sekadar bercanda, tidak layak guru menuliskan dukungan soal minuman keras. Menulis dengan kata-kata kasar juga kurang pantas.

Kalau bisa, jangan bergunjing soal murid. Mungkin ada murid yang benar-benar bikin kesal di kelas. Tapi itu tidak berarti guru harus curhat tentang dia secara online. Ini bakal tampak tidak profesional di mata teman sesama guru, dan terutama di mata siswa. Bisa jadi, gunjingan itu masuk ke ranah gugatan hukum dengan pasal penghinaan atau tidak menyenangkan.

Yang tak kalah penting, bedakan berkomunikasi pada umum dan berkomunikasi dengan murid. Ketika melontarkan sesuatu di media sosial, tentu niatan seseorang adalah untuk umum. Siapa saja boleh lihat, baca, atau berkomentar. Lha kalau tiba-tiba ada murid yang berkomentar, maka komentar balik guru harus diusahakan selevel dengan alam fikiran si murid. Ingat, hubungan guru-murid selalu lebih khusus daripada hubungan seseorang dengan publik.

Guru juga harus paham mana informasi yang rahasia dan mana informasi yang untuk umum. Data-data yang konfidensial, misalnya data pribadi murid, jangan sampai dibawa-bawa ke ranah media sosial. Ingat, di jagad cyber, ada juga orang-orang jahat. Kalau sampai data konfidensial itu didapatkan orang jahat, kemudian data itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang ilegal, bisa saja terjadi sesuatu yang buruk pada murid.

Jika ada guru yang ingin mengekspresikan ‘sisi lain’ dari dirinya, lebih baik menggunakan account berbeda. Buat satu account dengan identitas jelas untuk mengungkapkan hal-hal yang sewajarnya. Buat lagi account lain dengan identitas berbeda untuk mengungkapkan hal-hal ‘luar biasa’. Lalu, jangan connect dengan murid saat berada di account ‘sisi lain’ ini.

Nah, guru yang gaul harus pintar dan bijak memanfaatkan media sosial untuk mendidik murid-muridnya melalui keteladanan di jagad maya. Guru bisa memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi lebih cepat dan efisien dengan murid, untuk menyampaikan pesan-pesan pembentuk karakter baik pada murid, dan untuk memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi positif bagi murid.

Penulis adalah praktisi media massa, memberi ceramah motivasional pada umum; bisa dihubungi di cilukbha@gmail.com, www.facebook.com/teguh.w.utomo, atau www.instagram.com/teguh_w_utomo/

Facebook Comments

POST A COMMENT.