Bila Besok Naik Haji

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id — Ada-ada saja kawan saya ini. Bila kita belum kena fitnah, hasutan, teror, dan sebangsanya itu, berarti menurut kawan saya itu kita belumlah pohon yang tumbuh normal ke langit. Pertumbuhan kita kerdil dan macet. Tidak berkembang. Begitu-begitu saja. Dan itu jelas pukulan yang menghantam saya karena saya paling takut dengan fitnah dan sejenisnya itu.

Saya ini pengecut. Penakut dan pendiam. Beda dengan kawan-kawan yang pemberani. Mereka keluar rumah dan bismillah. Kalau buka toko apapun resikonya ya dihadapi. Makelaran sapi menjelang Idul Adha ya mereka jalani dengan siap terhadap cibiran: “Kalau makelaran sapi itu jangan mahal-mahal ta, cari laba ya cari laba, tapi kalau harga segini ini terlalu mahal…”

Badai pasti berlalu, kata orang dan orang itu entah siapa. Sampai hari ini tak diketahui penemunya. Dan kita tidak perlu kurang kerjaan untuk melacak secara metodologis dan historis mengenai siapa penemunya. Difitnah? Alah, paling besok pagi sudah beres. Dicaci maki? Alah, buat ngopi lima menit pasti sudah hilang. Namaya saja badai pasti berlalu, ya sudah, pasti akan berlalu kok.

Demikianlah mental beberapa teman dalam menjalani kehidupan. Mereka jagoannya luar biasa. Sehingga kalau tertimpa fitnah dan cercaan, mereka tersenyum: “Alhamdulillah, ternyata saya mulai berkembang menjadi pohon yang tinggi, pohon yang mulai dimusuhi, difitnah, dan dibenci disana-sini…”

Saya tidak mengerti. Sedemikian rupa fitnah merupakan hal yang paling saya hindari dan paling saya takuti. Meskipun lama-lama terkadang saya tak terlalu takut juga dengan fitnah. Meskipun masih terbilang ngeri-ngeri sedap bila harus berpapasan dengan angin fitnah.

Seseorang yang dalam hari-hari sebulan kedepan ini insya Allah kumpulan tulisannya yang telah rutin ia tulis di media online, insya Allah akan diterbitkan dalam sebuah buku, dan karena dia seorang sarjana, sehingga ada yang mengusulkan gelar sarjana itu dicantumkan saja dalam cover judul buku yang akan diterbitkan tersebut.

“Ah, tak perlu mencantumkan gelar mas. Biasa saja, nama saja, tanpa gelar,” si sarjana mencoba mengelak.

“Lho, bukannya begitu. Gelar sarjana kamu itu ditulis supaya menginspirasi bahwa ini lho sarjana menulis. Biar menambahi jatah sarjana menulis, serta mengurangi fitnahan bahwa sarjana malas menulis, apalagi malas membaca,” kata kawannya.

“Terus terang saja ya mas,” kata si sarjana mencoba memberanikan diri berbicara, “saya itu menyembunyikan gelar sarjana saya karena takut dibully mas. Takut kena fitnah. Ntar dikira sombong. Sedangkan orang nggak pernah tanya-tanya kepada kita mengenai sebab akibat terhadap apa saja yang kita pilih. Perkara ada sarjana yang lain berani publikasi gelar sarjananya ya monggo. Tapi saya takut mas. Biarlah orang mengenal saya nama saya saja mas. Tak usah gelar saya.”

“Terus bila besok dapat rezeki bisa naik haji, apakah Sampeyan juga enggan mencantumkan gelar haji Sampeyan?” Rupanya si sarjana di desak terus.

“Gini ya mas,” si sarjana mulai sedikit tak sabar, “saya ini di KTP saya mencantumkan gelar sarjana saya. Di tempat kerja juga mencantumkan gelar saya. Mencantumkan gelar itu tidak jelek mas. Dosa saja enggak. Boleh sajalah kita bersepakat secara kultural bahwa orang yang naik haji kita panggil pak atau bu haji, tapi tolonglah meskipun ini bukan kesepakatan orang banyak mbok ya gak usah maksa saya untuk mencantumkan gelar sarjana saya dalam buku saya yang akan terbit besok itu mas. Jadi tolong ya mas, pokoknya jangan ditanya deh, saya inginnya memang begitu. Tanpa gelar mas.”

“Terus kalau Sampeyan besok naik haji, mau mencantumkan gelar hajinya apa nggak?” Si penanya mendesak terus. Seakan tetap ingin si sarjana ini bersedia mencantumkan gelar sarjananya dalam bukunya besok.

Si sarjana yang semula mulai agak jengkel tiba-tiba dia tersenyum. Sepertinya dia sedang kompak dengan bisikan entah setan entah malaikat yang tiba-tiba muncul: “Kamu bilang oke saja. Bilang jika kamu oke dipanggil haji. Siapa tahu itu doa agar kamu kelak naik haji. Yang kedua, masih untung yang ditanyakan itu mau memakai gelar haji atau tidak, lha kalau yang ditanya bagaimana prilakumu, akhlakmu, moralitasmu setelah haji, bagaimana jiwa sosial dan pengorbananmu setelah haji, apakah kamu tetap kikir, apakah kamu tetap bakhil, apakah kamu tetap enggan berbagi, kan mending ditanya bersedia pakai gelar haji apa nggak bila besok naik haji. Padahal uang kamu hari ini nggak nutut buat…”

Bisikan tersebut segera di-cut oleh si sarjana. Tak peduli iblis atau malaikat yang sedang membisiki. Kalau diteruskan pasti bilangnya nggak nutut buat mbayari ngopi karena uang cairan sudah masuk tagihan bank. Segera dengan tegas si sarjana menyatakan: “Oh, kalau sepulang haji nanti, saya akan pakai gelar haji saya mas, agar mengingatkan kita semua bahwa pergi haji itu wajib bagi yang mampu…”

Pembicaraan pun cair kembali. Dan saya tersenyum sendiri dengan kisah hayalan yang saya karang sendiri. (Banyuwangi, 30 Juli 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.