Belajar Terus agar Makin Sehat

Oleh; Teguh Wahyu Utomo
tom BWMEPNews.id –
Umur manusia sudah ditentukan. Bagaimana, di mana, dan kapan kita mati, sudah tercatat dalam kitab ghaib di atas sana. Ada yang sudah bosan hidup karena begitu tua, tapi tidak juga dipanggil. Ada yang masih muda dan sangat sehat namun tiba-tiba ditemukan tak lagi bernafas dalam posisi tertidur.

Tapi, kesehatan bisa kita kondisikan. Kalau mau bergaya hidup sehat, maka kita bisa menikmati sehat lebih lama. Kalau mau bergaya hidup asal-asalan, kita jadi mudah sakit-sakitan. Yang enak adalah saat sakit segera sembuh. Yang tidak enak, sakit sudah lama tapi tak juga mati dan tidak juga sembuh.

Nah, salah satu faktor yang mendukung hidup lebih sehat adalah pendidikan. Tesisnya, orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mungkin menjalani pola hidup sehat lebih lama. Orang yang pendidikannya lebih rendah cenderung mengabaikan faktor-faktor penentu kesehatan dan ketidak-sehatan.

Mau bukti? Ada riset yang diterbitkan dalam International Journal for Equity in Health pada Desember 2016. Riset oleh Sax Institute ini meneliti 267.153 pria dan wanita usia di atas 45 tahun di New South Wales, Australia. Dalam waktu lima tahun, peneliti mencari hubungan antara pendidikan dengan penyakit fatal semacam serangan jantung atau stroke.

Hasilnya? Faktor risiko rendahnya kesehatan, antara lain kurangnya aktivitas fisik, gizi buruk dan merokok, ternyata lebih tinggi di kalangan orang berpendidikan rendah. Sementara, orang berpendidikan tinggi cenderung menghindari faktor risiko itu. Orang-orang tanpa kualifikasi pendidikan memiliki risiko dua kali lipat terkena serangan jantung (150%) ketimbang orang-orang yang mencapai pendidikan di universitas (75%). Risiko itu juga lebih tinggi pada mereka yang memiliki pendidikan sertifikasi dan diploma (70%). Selain itu, orang dewasa setengah baya yang tidak menyelesaikan sekolah tinggi ternyata dua kali lebih mungkin mengalami stroke dibandingkan dengan yang menyelesaikan gelar universitas.

Hanya itu? Masih banyak penelitian lain yang juga menegaskan hubungan antara pendidikan dan kesehatan. Hasil riset yang dipublikasikan National Bureau of Economic Research (NBER) di Amerika Serikat menunjukkan, tambahan empat tahun penidikan bisa menurunkan tingkat mortalitas hingga 1,8%, mengurangi risiko serangan jantung 2,16%, dan diabetes 1,3%.

David Cutler dan Adriana Lleras-Muney, penulis kertas kerja NBER No. 12352 berjudul Education and Health: Evaluating Theories and Evidence, mengaku penelitian tentang hubungan kausal antara pendidikan dan kesehatan menjadi topik kontroversial. Orang yang paham pasti sangat menghargai kesehatan. Jika tidak paham, orang sering emgnabaikan kesehatan. Kepahaman ini lebih gampang dicapai jika pendidikannya lebih tinggi.

Dalam berbagai riset, ada perbedaan jelas dalam data kesehatan antara orang-orang dalam kelompok pendidikan tingkat rendah, menengah dan tinggi, terhadap tingkat serangan jantung atau stroke penyebab kematian tertinggi. Tingkat pendidikan tinggi memungkinkan orang memiliki informasi lebih memadai tentang penyakit penyebab banyak kematian dan kecacatan. Ini juga menunjukkan kebutuhan pendidikan lebih baik untuk membangun kesadaran lebih dalam tentang bahaya merokok dan berbagai risiko lain kesehatan.

Nah, masih malas untuk belajar terus hingga mencapai level setinggi mungkin?
Silakan saja jika ingin meningkatkan pendidikan demi memenuhi persyaratan pekerjaan atau demi capaian tertentu dalam karir. Namun, tetap juga pertimbangan alasan lain yang cukup signifikan untuk meningkatkan pendidikan diri sendiri; yakni masalah kesehatan diri. Belajarlah terus sampai titik nafas penghabisan agar mendapatkan bonus berupa kesehatan optimal lebih lama.

Facebook Comments

POST A COMMENT.