Pentingnya Menjaga Konsistensi Diri

Oleh: Khusnatul Mawaddah
bojonegoro - khusnatul mawaddah
MEPNews.id
– Setiap manusia punya jalan hidup sendiri. Kadar kualitas kehidupannya tergantung dari cara pandang dan sikap dalam mengelolanya.

Tidak sedikit manusia yang pendidikannya rendah namun punya kehidupan mujur, tajir dan populer. Sebagai contoh, banyak pelaku intertainmen, artis, penyanyi, politikus, pengusaha yang tidak bergelar sarjana namun bisa sukses jadi milyader.

Banyak juga orang tua yang pendidikannya rendah bahkan tidak mengenal bangku sekolah, namun anaknya menjadi sarjana serta sukses dalam kehidupannya. Para orang tua ini punya visi tentang pentingnya pendidikan lalu menggerakkan seluruh kekuatannya untuk membantu anaknya mendapatkan pendidikan tertinggi.

Jika penulis amati dari unsur keluarga sendiri, kesuksesan itu terkait dengan konsistensi gerakan yang fokus pada tujuan. Jika seorang manusia punya tujuan hidup yang jelas, bisa jadi ia dalam mengelola kehidupan keluarga dan masyarakat juga jelas sehingga akan menemukan kesuksesan.

Sebuah ilustrasi, ada seorang politikus ingin mencalonkan jadi kepala negara. Segala macam peluang dan tantangan diinventarisir, kemudian punya jalan untuk bisa menjadi pemenang, lalu fokus pada tujuannya. Maka, ia bisa saja jadi pemenang.

Ilustrasi lain, seorang pengusaha ingin mendapatkan konsumen yang potensial. Maka, harus konsinten mengamati perilaku konsumen, kesukaan konsumen, trend terkini, dan model promo yang cocok untuk menarik konsumen. Ini membuatnya lebih bisa meraih konsumen banyak.

Ada seorang da’i yang ingin disukai orang. Maka, ia harus konsisten dalam menguasai panggung, mempunyai ketrampilan bahasa yang mudah dipahami, humoris –karena audien sebetulnya juga membutuhkan refreshing saat mendengarkan wejangan da’i. Konsistensi dalam bicara dan perbuatan ini biasanya lebih membawa citra diri yang positif.

Konsistensi ini bisa didapatkan dari didikan orang tua terhadap anak. Orang tua jangan sampai lalai sehingga anak punya penilaian bahwa orang tuanya tidak konsisten. Misalnya, orang tua hanya suka menyuruh tapi tidak memberi contoh dengan perbuatan.

Pentingnya menjaga konsistensi diri ternyata erat hubunganya dengan motivasi hidup seseorang. Ada seorang ketua takmir masjid yang selalu konsisten mengajak seluruh pengurusnya untuk mencari solusi mengembangkan pembangunan masjidnya. Ajakan itu diiringi dengan gerakan dia secara pribadi untuk mencari donatur dan pengembang yang mau kerjasama. Alhasil, terwujudlah pembangunan masjid yang sesuai harapan takmir.

Begitu juga sebagai profesional. Kita tetap terus menjaga konsistensi diri agar kualitas diri nampak dan tidak mengada-ada.

Ada action saat kita dituntut selalu menjaga konsistensi ini. Ketika kita mengajak seseorang atau kelompok untuk mewujudkan mimpi bersama, maka dengan bersamaan pula kita mulai untuk action duluan. Ini bisa menimbulkan motivasi bagi yang diajak.

Di mana saja tempat kita berpijak, jika kita sebagai manusia diberi karunia sehat dan ilmu, maka seyogyanya kita gunakan waktu sebaik mungkin agar ada output yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak.

Semoga ada manfaatnya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.