The Power of Writing

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Terus terang sebenarnya sejak keluar dari Gontor dan meneruskan kuliah di Universitas Islam Madinah, saya ingin selain menjadi da’i dan ulama’ yang dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat dengan ceramah, mengajar ngaji dan menebar ilmu agama, saya juga ingin menjadi penulis, apalagi ketika ada saudara yang bekerja di penerbit Bulan Bintang (kemudian di LIPI, saya tidak tahu apa sekarang sudah pensiun atau belum) mendorong saya untuk menulis dan akan dimasukkan tulisan saya ke penerbit tempat saudara waktu itu bekerja. Namun saya merasa tidak mampu, rasanya waktu itu tidak ada ide ide yang muncul yang bisa saya tulis, akhirnya saya mencoba menerjemahkan beberapa buku berbahasa Arab, namun buku buku terjemahan itu tidak satu pun yang bisa diterbitkan di penerbit tempat saudara saya itu bekerja, tidak tahu kenapa, kalau kata saudara saya itu kurang pas dengan selera penerbit.

Saat saya kemudian, setelah menyelesaikan Lc saya di Madinah, ditugaskan dakwah di Sumbawa, saya masih tetap menerjemahkan buku buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia dengan mesin tik manual, sambil sesekali menulis artikel dan ada beberapa yang kemudian dimuat di majalah Suara Masjid dan Mimbar Ulama, hanya tidak banyak.

Namun saat kemudian saya pulang ke Jawa merintis pesantren di Jember dan Bondowoso, saya terlalu asyik dengan dunia pondok dan tidak lagi menulis. Baru kemudian lima tahunan yang lalu saya mulai tersadar mulai menulis lagi dan menerbitkan beberapa buku baik terjemahan atau tulisan saya sendiri secara indie.

Beberapa tahun kemudian saya diajak bergabung dengan komunitas penulis SPN yang kemudian bermetamorfosa menjadi SPK, dan di situlah kemudian saya banyak belajar dari teman teman penulis anggota komunitas, sehingga kemudian saya berusaha untuk menulis setiap ada kesempatan, menulis apa pun yang ada dalam uneg uneg saya dan saya share ke medsos dunia maya, terutama facebook dan whatsapp.

Beberapa kali saya menulis tentang pesantren kita sedang membangun ini dan itu, juga membeli tanah untuk perluasan kampus pondok ke depan atau tanah sawah untuk perluasan sawah wakaf pondok, beberapa kali pula lantaran tulisan itu Allah menggerakkan hati beberapa teman, saudara dan simpatisan untuk memberi dan mentransfer sejumlah dana untuk membantu terealisasikannya semua itu.

Bahkan tulisan yang saya share sebelum tulisan ini dengan judul “Pak Tukang Ingin Juga Mempunyai Rumah Di Surga” tentang mulainya pesantren kita mulai merehab bangunan masjid pesantren kita di kampus putri meskipun belum ada persediaan dana padahal dana yang dibutuhkan sekitar setengah milyaran rupiah, ternyata menjadikan beberapa orang tergerak hatinya untuk ikut berpartisipasi, ada yang wakaf 1 meter (Rp 1.500.000, -), ada yang setengah meter (Rp 750.000,-), bahkan ada yang 10 meter (Rp 15.000.000, -) langsung, dan ada juga yang seperti di atas tapi dengan cara memberikan donasi setiap bulan selama 10 kali, untuk per meter Rp 150.000,-

Sampai saat ini baik yang langsung atau yang dengan cara setiap bulan, jumlahnya sudah sampai 10 persen dari dana yang dibutuhkan sekitar Rp 50.000.000, –

Alhamdulillah, dengan tulisan itu pula, kemaren ada seorang saudara dari Probolinggo yang dijadikan Allah tergerak untuk siap menyanggupi separuh dari dana yang dibutuhkan yakni sebesar Rp 250.000.000,- melalui japri whatsapp, meski tidak langsung masih menunggu selesainya pembayaran penjualan asetnya yang bernilai puluhan milyar dari pembelinya yang sudah memberikan uang tanda jadi. Mari kita doakan dimudahkan Allah, lancar dan berkah. Amin.. Allah Akbar.

Alhamdulillah dengan kata lain, melaui tulisan itu, insyaallah yang sudah akan tersedia sekitar 60 persen, tinggal 40 persenan lagi, sekitar Rp 200.000.000,-, Monggo yang mungkin minat, mumpung masih ada kesempatan.

يأيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون و أنفقوا مما رزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول رب لو لا أخرتنى إلى أجل قريب فأصدق و أكن من الصالحين

Wahai orang orang yang beriman, janganlah harta harta dan anak anak kalian menjadikan kalian lalai dari ingat Allah, barang siapa melakukan itu mereka orang orang yang merugi, dan infaqkanlah dari rizki yang Kami rizkikan kepada kalian, sebelum salah satu dari kalian didatangi kematian, kemudian berkata, wahai Tuhanku, mengapa tidak Kau beri tangguh aku sehingga aku bisa bersedekah dan menjadi orang yang shaleh.

Itulah salah satu contoh dahsyatnya power of writting, masih banyak yang lain seperti banyaknya teman teman saya dan orang orang yang lain yang jauh jauh datang dari Bali, Lombok, Surabaya, Malang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Semarang, Bogor, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan, Aceh dan lain lain, juga dari Malaysia, ustadz Masruh, maksud saya, bersilaturahim ke pesantren kita, bahkan saat kyai kyai pesantren alumni Gontor se Indonesia yang sudah muadalah mengadakan acara di pesantren Al Islah diberitahu bahwa setelah selesai acara akan ada kunjungan silaturahim ke pesantren kita Darul Istiqomah, mereka sangat antusias. Saya yakin itu juga efek dari power of writting, buktinya saat diumumkan hal tersebut, mereka bersemangat sambil berteriak, siaaap kita buktikan kyai Masruri hoax atau tidak…. Hahahaha.

Alhamdulillah ternyata tidak hoax…real fact. Hehe.

Dan tentu masih banyak contoh yang lain di antaranya ada beberapa murid saya saat bertemu mengatakan, semua tulisan ustadz di facebook saya baca, ketika ustadz menulis ketawa ketiwi ala pesantren, saya tidak ketawa ustadz, saya malah menangis tidak bisa menahan airmata saya mengalir. Begitu juga banyak teman teman bahkan wali santri yang menyampaikan mendapat inspirasi dari tulisan tulisan saya itu.

Semoga bermanfaat dan berkah.

Daris, 7 Dzul Qo’dah 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.