Perlunya Soft Skill dalam Pendidikan

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo
MEPNews.id
– Pada 1960-an, Dr Benjamin Elijah Mays –gurunya aktivis hak-hak sipil Dr Martin Luther King Jr– menyentak Amerika Serikat. Rektor Morehouse College di Georgia itu, di depan puluhan rektor dalam konferensi di Universitas Michigan, menyatakan, “Kita memiliki orang-orang terdidik jauh lebih banyak dalam sepanjang sejarah. Kita memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan berpenyakit.”

Jika menilik teori-teori pembangunan, sering dikatakan Indonesia saat ini seperti kondisi di Amerika Serikat tahun 1960-an. Indonesia saat ini memiliki banyak orang pintar dan lulus pendidikan tinggi. Namun, seperti juga di Amerika, orang-orang Indonesia yang pintar, trampil, dan lulusan pendidikan tinggi itu juga punya masalah tentang ‘sisi manusiawi’ dari banyak hal. Saat terjun ke dunia nyata, mereka kurang memiliki ‘soft skill.’

Ilmuwan sekaligus novelis C. P. Snow dari Inggris, dalam pidato ‘The Two Cultures’ pada 1968, menyesalkan pemisahan antara ranah filosofis-humanistis dengan ranah teknis-saintis (dan, yang belakangan itu dianggap lebih superior). Dari sini, konsepsi soft skill manusia perlu ditingkatkan untuk mengimbangsi sisi hard skill. Saat meningkatkan soft skill, itu berarti mengasah otak kanan untuk lebih tajam mengimbangi otak kiri.

Apa itu soft skills? Definisinya masih dalam perdebatan dan bergantung konteks. Pemahaman soal ini juga sangat variatif. Satu ketrampilan dianggap soft untuk bidang tertentu bisa dianggap hard untuk bidang lain. Maka, mungkin lebih aman untuk mendefinisikan soft skill sebagai; serangkaian ciri kepribadian, sikap sosial, kemampuan bahasa, kebiasaan, keramahan, dan optimisme yang membuat seseorang bisa menghadapi masalah praktis sehari-hari.

Contoh soft skills antara lain; ketrampilan berkomunikasi, kemampuan berfikir kritis terstruktur, ketrampilan menyelesaikan masalah, kreativitas spontan, bisa bekerja dalam tim, ketrampilan bernegosiasi, kemampuan mengelola diri sendiri, bisa mengelola waktu, ketrampilan mengatasi konflik, kesadaran budaya, kemampuan untuk cepat tahu, cepat merespon, punya etiket dan sikap baik, punya kepercayaan diri, gampang bergaul, punya integritas dan kejujuran, punya empati, teguh dalam etika kerja, dan jago dalam manajemen bisnis.

Ketrampilan berkomunikasi ini menjadi kendala di banyak sarjana, bahkan lulusan ilmu komunikasi. Padahal, manusia tidak bisa tak berkomunikasi selama ia masih hidup. Selain ketrampilan komunikasi dengan berbagai bahasa, juga terkait kepercayaan diri yang tercermin dalam ketrampilan berbicara dan bahasa tubuh. Ketrampilan berdiskusi dan presentasi juga diperlukan untuk ‘memasarkan’ ide atau produk tertentu. Bukan cuma untuk karir, ketrampilan berkomunikasi ini juga dibutuhkan untuk kompetensi sosial.

Ketrampilan berfikir kritis dan terstruktur akan sangat bagus jika disandingkan dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Di era masyarakat informasi seperti sekarang ini, ada begitu banyak data dan informasi yang masuk. Orang harus sangat kritis untuk menyaring, menganalisis, dan membuat keputusan tepat berdasarkan informasi itu. Ketrampilan ini juga memberi dasar bagi membangun solusi berbagai jenis masalah. Ini perlu untuk kehidupan profesional dan personal.

Kreativitas bukan hanya milik seniman tapi harusnya juga milik para sarjana. Jangan berasumsi bahwa bidang sains hanya menuntut kemampuan berfikir logis. Kreatifitas bisa mendorong ‘thinking out of the box’ membongkar pembatasan dan aturan konvensional untuk menemukan pendekatan-pendekatan inovatif bagi penyelesaikn masalah. Di zaman sekarang, brainstorming dan pemetaan fikiran sering dijadikan landasan bagi kreativitas.

Pertanyaannya; apakah sifat dan kebiasaan seseorang bisa ditata untuk meningkatkan soft skill agar berimbang dengan hard skill? Sifat, kebiasaan, kepribadian –atau, soft skill– seseorang itu terbentuk dalam perjalanan hidup sejak kecil sehingga susah untuk diubah. Ya, ini benar (tapi juga tidak). Pendidikan yang konsisten juga bisa membentuk sifat, kebiasaan dan kepribadian. Bahkan, banyak tempat-tempat pengenalan dan pelatihan soft skill berkembang di Indonesia.

Salah satu aspek dari pelatihan soft skill adalah mengenali diri di mana dan bidang apa saja mengalami kelemahan. Begitu kelemahan diketahui, segera dilakukan perbaikannya. Misalnya, ada dokter yang susah memulai obrolan kecil sehingga sulit mendiagnosis masalah-masalah non medis yang dihadapi pasiennya. Susahnya memulai obrolan itu bisa jadi karena karakter introvert, pemalu, gampang bosan, dan sejenisnya. Beberapa fakultas kedokteran memberi kuliah tentang komunikasi dengan pasien. Jika belum cukup, dokter ini perlu mengikuti pelatihan untuk membuatnya jadi gampang mengobrol sehingga lebih ramah sosial.

Nah, karena begitu penting dalam kehidupan sehari-hari, institusi pendidikan harus lebih banyak memberi muatan soft skill para peserta didik. Materinya jangan disajikan sangat ilmiah tapi harus lebih natural. Humaniora jangan disajikan seperti ilmu teknik, tapi sajikan dalam konteks keseharian.

Facebook Comments

POST A COMMENT.