Keramaian dan Tidur

Oleh: Moh. Husen
MEPNews.id —- Sebuah diskusi kecil kelas khayalan bertema Manusia 24 Jam. Yang dibahas mengenai perlunya bertoleransi kepada orang yang sedang tidur, bahwa mungkin yang perlu pro aktif adalah mereka yang berkepentingan dengan ngantuk agar jadwal tidur mereka tak terganggu. Atau perlu juga mengarifi bahwa keramaian harus pula menghormati orang tidur. Dan sekarang kita tahu bahwa keramaian pagi hari atau mungkin siang hari perlu bersahabat baik-baik dengan mereka yang sedang tidur.

Kehidupan dan sekaligus pekerjaan manusia yang kini telah berjalan 24 jam menjadikan kita melihat pagi-pagi buta tetangga kita baru pulang kerja di jam malam kemudian beristirahat tidur di pagi hari. Lantas sore hari juga kita melihat oplosan tukar jadwal kerja, yang lantas sebagian dari mereka pun sore hari atau paling tidak sesudah maghrib mereka “isra’ mi’raj” menuju kasur dan tidur.

Manusia bekerja 24 jam dengan pembagian jam kerja yang telah disepakati. Bila semakin banyak pekerja malam, maka keramaian yang memang lazim muncul sejak pagi hingga siang dan sore hari hendaknya mulai mengingat betapa butuh nyenyak juga tidur para saudara kita yang telah bekerja malam.

Akan tetapi apakah para tukang tidur siang itu berkeberatan dengan lalu lalang kehidupan yang memang ramai di siang hari? Sepertinya tidak. Mereka juga telah sepakat bahwa siang itu pantasnya ramai dan malam itu pantasnya sepi. Kesepakatan semacam ini membuat hati lega dan tak terasa terganggu oleh kenyataan ramainya siang tatkala seseorang sedang tidur.

Mereka tak merasa terganggu karena telah bersepakat demikian. Malah yang tak tidur pun terkadang merasa terganggu oleh bising ramai jika terjadi di malam hari karena selain tak lazim, juga hati kita ini tak bisa bersepakat sehingga tak bisa berdamai dengan kenyataan yang demikian.

So, marilah kita putar kembali ingatan kita bahwa kesepakatan apakah yang telah diam-diam kita tancapkan di hati dan akal sehat kita? Kalau kita gusar dan tak bisa tenang terus menerus terhadap penganiayaan dan keserakahan, apakah hal tersebut karena kita belum bisa bersepakat, bahkan dicarikan ilmu dari berbagai sudut pandang yang manapun tetap tak bisa menemukan kesepakatan yang membolehkan penganiayaan kemanusiaan sehingga kita gusar terus dan tak kunjung tenteram damai serta memang tak pernah boleh manusia saling menganiaya sesamanya?

Keramaian seperti apapun di siang hari bisa dengan tenang-tenang saja kita anggap tak pernah mengganggu jika kita bersepakat dan menganggap wajar terhadap keramaian siang hari semacam itu.

Terhadap keramaian siang hari seseorang terpaksa mengarang mantra untuk dirinya sendiri karena memang ia tak bisa menikmati sunyinya malam, yakni: “Aku adalah ramai, dan ramai adalah aku, aku ya ramai, ramai ya aku, sehingga dalam ramai aku tak pernah merasakan ramai, bahkan ramai pun tak ada…”

Kemudian dia pun terlelap dalam keramaian alias tidur. Silahkan kata ramai dalam mantra tersebut kita ganti hutang, diganti sulitnya mencari pekerjaan, planning gagal, perniagaan yang bangkrut, kehilangan, kalah, galau, gelisah dan seterusnya… Bisakah kita lantas tenang tertidur nyenyak?

“Marilah kita berserah. Bahwa hidup kita, mati kita, pun juga tidur, jaga, pekerjaan, ikhtiar, serta apa saja rangkaian perjalanan yang kita jalani ini, hendaknya kita pasrahkan juga kepada Allah. Jangan pernah merasa harus bekerja sendirian. Kita tidak pernah sendiri. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut. Marilah kita tidur. Dari pada kita kelelahan diskusi dan mulai ngawur…” Kata sang kawan mengajak kawan yang lain agar nyenyak tidur dan beristirahat.

Tema diskusi seadanya, sederhana, dan ala kadarnya, bahkan mungkin ngawur dan sekenanya saja mengenai Manusia 24 Jam dengan fokus keramaian dan tidur pun selesai. (Banyuwangi, 18 Juli 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.