Tahun Ajaran Baru dan Rezim Persekolahan

Catatan Oase :

FB_IMG_1529717194752

MEPNews.id —- Mak… Buku buku besok apa sudah disampul? Kalau belum ayo mak nanti kita sampuli. Seragamnya besok pakai yang lama aja dulu, yang lama kan masih baik, itulah sekelumit dialog pagi ini, antara Fahri dan maknya, tentang persiapan sekolah tahun ajaran baru.

Saya kira potret itu merupakan potret hampir semua keluarga yang mempunyai putra putri yang menapaki tahun pembelajaran baru. Persiapan pernak pernik belajar merupakan rutinitas yang selalu terjadi hampir setiap tahun, sehingga seharusnya bukan merupakan hal yang mengejutkan. Tapi apakah kenyataannya selalu begitu, ternyata tidak selalu. Masih banyak para orang tua yang masih ” kedodoran ” dalam memeprsiapkan perlengakapan anak anaknya belajar.

Ketika persekolahan sudah merasuki sanubari masyarakat, Sekolah telah berubah menjadi sebuah rezim, sekolah mampu mempengaruhi dan memerintahkan kepada masyarakat harus patuh. Ketidak patuhan terhadap rezim, akan mengakibatkan sangsi. Rezim sekolah mampu merubah pola masyarakat yang tadinya bebas menjadi terkekang dan harus seragam. Rezim sekolah mampu merubah dari masyarakat sebagai manusia menjadi masyarakat sebagai mesin. Begitulah yang digambarkan oleh Pavlov dalam ” operant conditioning ” nya. Pavlov memperlakukan anjing yang biasanya susah dikendalikan dengan percobaannya, alarm sebagai alat pengendali agar sang anjing mampu berperilaku sebagaimana yang diharapkan oleh pemiliknya. sehingga akhirnya anjing terbiasa dengan sesuatu yang diharapkan oleh pemiliknya. Tahun ajaran baru adalah alarm yang diberlakukan oleh rezim, begitu alarm tahun ajaran baru berbunyi, maka secara otomatis masyarakat tergerak untuk bergerak mempersiapkannya, disanalah kemudian terjadi hukum ” supply and demand “. Disinilah kemudian muncul persoalan baru, harga harga peralatan sekolah ” dinaikkan ” oleh sekolah sebagai rezim, masyarakat tak kuasa menolak dengan ketertindasan pemikiran bahwa anak harus sekolah.

Sekolah cenderung disamakan dengan belajar, padahal substansi dan karakter sekolah dan belajar jelas sangat berbeda. Wajib belajarpun kemudian dipersepsikan sebagai wajib sekolah. Sekolah tentu dengan segala konsekwensinya mempunyai karakter harus seragam, belajar harus disebuah tempat yang sudah diatur dalam peraturan kementrian pendidikan, proses belajar mengikuti pola pola yang lebih banyak mengikuti model dan kemauan guru, sehingga didalam sekolah akan sangat susah ditemukan sebuah kebebasan dalam belajar. Sementara belajar mempunyai karakter yang agak berbeda dengan sekolah. Belajar dimaknai sebagai sebuah proses perubahan yang didapatkan oleh anak anak sebagai pembelajar. Tentu dalam belajar anak anak mempunyai keterbatasan dalam potensi dan mempunyai kemerdekaan dalam menentukan apa yang bisa dia pelajari dan dia lakukan. Sehingga mereka mempunyai kebebasan dalam mencapainya. Dalam belajar, tempat tidaklah harus ditentukan, semua tempat merupakan ” ruang belajar ” bagi pembelajar. Pembelajar mempunyai kemerdekaan dalam berpikir. Dalam belajar hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kemerdekaan.

Memadukan Sekolah dan Belajar?

Ditengah ketertindasan pemikiran masyarakat oleh rezim sekolah, tentu tak bisa serta merta pola seperti itu dirubah. Gagasan merebut kembali dominasi sekolah dari keluarga pernah didengungkan oleh Ivan Illich dengan ” deschooling ” nya. Keluarga sebagai pilar utama pendidikan tidak bisa dilepaskan begitu saja, keluarga mesti harus menjadi bagian penting dalam belajar. Didalam keluargalah pelaksanaan nilai nilai hasil belajar bisa diterapkan secara langsung. Sehingga belajar merupakan wujud pelaksanaan bagaimana kita bisa menjalankan kehidupan.

Nah konsep memadukan sekolah dengan belajar inilah yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara dengan ” Taman Siswa ” nya. Konsep ruang belajar yang disebut sekolah berupa ” taman ” yang mendekonstruksi pemahaman kita tentang ruang kelas yang dibatasi dengan sekat sekat. Taman merupakan sebuah gambaran tempat bermain, tempat yang indah dan menyenangkan, sehingga siapapun yang ada disana merasa nyaman dan bebas berkreasi. Taman juga bisa dimaknai sebagai sebuah tempat anak memilih permainan apa yang ingin dilakukan sebagaimana kegemaran yang dibutuhkan. Ki Hajar Dewantara memadukan sekolah dengan belajar dengan cara merubah konsep sekolah yang mengekang menjadi sekolah yang menyenangkan. Anak anak melakukan proses belajar yang merdeka, menentukan cara dengan bimbingan guru. Dalam taman belajar para guru adalah orang orang yang merdeka, mampu menempatkan dirinya secara tepat ketika bersama murid muridnya, sehingga dalam taman belajar jarak antar guru dan murid seolah tidak ada.

Jauh hari Nabi dengan konsep membangun masjid dan pasar merupakan gambaran dalam belajar tidak boleh ada yang terputus. Masjid sebagai simbol tempat belajar yang berisi kajian ilmu dan nilai harus bisa diterapkan dalam kehidupan nyata yaitu pasar. Sekolah dan rumah tidak boleh ada jarak nilai dan implementasi. Sekolah sebagai tempat belajar dan berlatih harus mampu membawa nilai nilai yang mampu diterapkan dirumah dan ditempat lain. Sehingga sekolah mempunyai makna.

Akhirnya untuk melakukan perubahan cara berpikir masyarakat yang tertindas oleh rezim persekolahan ada baiknya kita merujuk pada tawaran freud dalam melakukan perybahan, yang pertama dengan jalan substitusi, mengganti cara berpikir tertindas dengan menolak sistem persekolahan, cara seperti tentu penuh resiko, karena akan menimbulkan konflik dan penolakan bagi mereka yang merasa nyaman dengan sistem persekolahan. Yang kedua, dengan melakukan komplementasi, yaitu dengan cara memberikan konsep lain yang sejalan, tapi resikonya adalah masyarakat akan tetap menganggap apa yang sudah dilaksanakan merupakan sesuatu yang boleh dilakukan, memang risiko konfliknya sangat kecil, namun yang ada akan muncul anggapan bahwa sistim yang ada bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Sehingga harapan perubahannya tidak terjadi. Yang ketiga adalah dengan cara sublimasi. Yaitu memberi nilai tambah atas sesuatu yang sudah dikerjakan. Kombinasi gagasan Ivan Illich dan Ki Hajar Dewantara adalah model penterjemahan konsep Nabi ketika membangun peradaban dengan pembangunan masjid dan pasar.

Akhirnya kita hanya akan berharap semoga saja semakin banyak muncul kesadaran mewujudkan sekolah rumah yang memberi suasana kebebasan berkreasi dan belajar dalam melakukan perubahan nilai nilai terhadap anak didik. Tetap bersabar dalam menghadapi rezim sekolah sembari berkreasi membangun sekolah yang membebaskan. Apresiasi saya untuk sahabat sahabat saya di komunitas OLD WA Ojo Leren Dadi Wong Apik yang sudah berbuat dan tetap berkreasi membangun sekolah yang membebaskan, sekolah yang melayani dan sekolah yang seolah menjadi rumah anak.

Assallammualaikum wr wb.. Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga selalu dalam berkah Allah.. Aamien.

Surabaya, 15 Juli 2018

M. Isa Ansori

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.