Bahaya Pudarnya Sense of Belonging

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id — Dalam filsafat Jawa, kita mengenal istilah Melu Handarbeni: rasa ikut meiliki. Dalam bahasa Inggris, dikenal istilah Sense of Belonging. Setelah perkembangan zaman dan ilmu serta teknologi (iptek), istilah Jawa Handarbeni seakan tergilas dan terlupakan. Padahal, perusahaan teknologi Apple, berjaya hanya dimulai dengan membangun rasa Handarbeni. Berarti, lebih dulu filsafat Jawa dibanding filsafatnya Apple tetapi kita terlambat dalam implementasi yang sebenarnya.
Kita tahu satu huruf “I”, (baca: ai) yang berarti “saya.” Dijadikan ikon mengglobal dalam produk alat teknologi. Sebut saja “I Phone, I Pad, iPad, i-Pod, dan iTunes.” Bahkan bisa diperkirakan masih akan ada banyak lagi produknya berkategori “I.” Itulah kekuatan rasa handarbeni yang dikemas dalam merek produk yang mengglobal. Bahkan, kita sebagai salah satu negara yang dijadikan sasaran empuk (target market) produk-produk tersebut: lebih segmented dan personalized.
Huruf “I” dikemas dalam produk memiliki ciri khusus. Huruf “I” yang berarti saya itu benar-benar memiliki kekuatan (power). Kata “saya” merupakan pertanda, bahwa produk itu dibangun atas dasar sense of belonging. Para user, pelanggan, dibikin larut dalam perannya sebagai salah satu stakeholder. Mereka diajari dan diajak ikut memiliki.
Rasa handarbeni itu kunci utama menghidupkan organisasi. Hilangnya rasa handarbeni, berarti hilangnya identitas diri. Secara holistik, jika itu perusahaan atau organisasi, berarti juga hilangnya kepercayaan diri. Jadi, kata “I” atau saya dijadikan nama produk. Dan, yang memiliki (pembeli/ user) merasakan bangga produk itu miliknya “I”.
Kalau di dalam organisasi sudah hilang kepercayaan diri, maka masyarakat luar atau publik tebawa rasa yang sama. Ini merupakan kunci utama, bangunlah rasa handarbeni mulai dari dalam dengan mengenal setiap kebutuhan individu dalam organisasi itu. Sense of belonging sangat kuat dalam membangun ikatan yang esensial. Arti dari esensial itu bukan artifisial dan penuh kepalsuan. Rasa memiliki itu tercipta karena sengaja dibangun dengan strategi yang sistematis. Sebagai contoh produk Apple.
Betapapun tingginya persaingan global, yang jelas perusahan tersebut sudah membangun rasa handarbeni. Hampir setiap insan di dunia mengenalnya. Jenis-jenis produk itu sudah mengglobal: hampir kita mengenalnya semua. Apple memang cerdik dalam membangun rasa handarbeni. Banyak yang mereka ciptakan dengan cara membangun sense of belonging. Mereka tahu kekuatan sense of belonging. Kalau di dalam perusahaan sendiri saja—antarpekerja— tidak membangun sense of belonging produk atau jasanya, mana mungkin user di luar mau “memilikinya.’
Yang paling menyedihkan budaya hebat itu cenderung kita lupakan. Padahal itu filsafat kita. Kita ada cenderung lupa rasa handarbeni. Mengapa ini berbahaya? Jawabannya jelas. Bahwa ciri khas jiwa korps setiap organisasi itu salah satunya adalah rasa handarbeni.
Perlu diketahui bahwa setiap insan dalam organisasi itu bisa memiliki rasa handarbeni tidak hanya terkait dengan pemahaman visi, misi organisasi. Mereka juga perlu diketahui kebutuhan masing-masing di dalam wadah organisasi. Dengan cara mengetahui kebutuhan setiap individu, organisasi bisa menciptakan rasa handarbeni. Dari dalam dibangun rasa kasih sayang antarkolega. Kemudian dilanjut dengan kasih saya produk oleh pengguna atau pelanggan, “I”.
Jika perusahaan apa saja kehilangan sense of belonging di dalamnya, maka kinerja perusahaan tidak akan maksimal. Volume penjualan tidak bisa konstant jika pada perusahaan manufaktur. Volume jumlah users yang memerlukan jasa juga tidak maksimal.jika perusahaan jenis jasa. Semua terfokus pada seberapa tinkat sense of belonging dalam perusahaan. Semakin tinggi, semakin berkinerja tinggi. Sebaliknya, semakin rendah sense of belonging, semakin rendah pula kinerjanya. User pun tidak akan memiliki sense of beloning karena mutu produk atau jasa tidak maksimal.
Tirulah Apple dalam membangun budaya rasa untuk memiliki. Karena dengan rasa bangga memiliki produk atau jasa apa pun yang kita bikin, akan diikuti oleh stakeholder yang lain, utamanya pengguna. Akan lebih afdol jika strategi membangun sense of belonging dirancang secara sistematis, mulai dari dalam diri organisasi, kemudian dilanjutkan oleh pengguna produk atau jasa.
Penulis adalah: Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dan dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.