Guru-Kepala Sekolah-Pegawas Berprestasi Menjadi Model Peningkatan Mutu Pendidikan

By: Syaifulloh

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —– Setiap tahun dunia pendidkan di Indonesia mendapatkan suguhan yang begitu indah. Suguhan lombaGuru-Kepala Sekolah-Pegawas Berprestasi hampir seluruh jenjang mulai TK-SD-SMP-SMA-SMK yang diadakan oleh Dinas Pendidkan. Dinas pendidikan mendaptkan mandat untuk menyeleksi di tingkat kabupaten dengan berbagai macam komponen penilaian yang disusunnya.

Penjaringan peserta dimulai dari tingnkat kecamatan yang di ikuti okeh satuan pendidikan dari berbagai jenjang untuk memperebutkan juara. Selanjutnya pemenang akan dikirim mewakili kecamatan menuju kabupaten. Pemenang kabupaten akan mewakili menuju propinsi. Pemenang tingkat Nasional. Para pemenang inilah yang dianggap menguasai segala macam inovasi pendidikan.

Para peserta tentunya sudah menguasai segala macam persyaratan berikut bukti pendukungnya berupa portofolio dan video implementasi pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing. Para guru juga harus melampirkan penilaian kinerja bagi guru berprestasi Laporan hasil penilaian kinerja tahun sebelumnya.

Ada video pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan berbagai model pembelajaran sesuai dengan silabus dan RPP yang dirancangnya dan sudah dilakukan dalam pembelajaran sehari-hari. Dengan video ini bisa dilihat sampi sejauh mana guru tersebut konsisten terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

Dokumen portofolio guru. Setiap calon guru berprestasi wajib menyampaikan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan penilaian kinerja yang dilakukan oleh atasannya. Dengan portofolio ini juga bisa dijadikan dokumen primer tentang produk harian yang dihasilkan guru dalam proses belajar mengajar di kelas pada masa kurun tahun pelajaran.

Serangkaian kegiatan dilakukan panitia untuk menyeleksi para peserta prestasi dengan berbagai macam Penilaian terhadap aspek kompetensi dilakukan melalui tes tulis, observasi, dan wawancara menyangkut keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Penilaian menyangkut keempat kompetensi tersebut dilakukan sesuai kompetensi yang ada.

Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Penilaian terhadap kompetensi pedagogik dilakukan melalui tes dan observasi proses pembelajaran dari hasil penilaian kinerja guru dan video pelaksanaan pembelajaran.

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya.

Penilaian terhadap penguasaan wawasan kependidikan meliputi: pemahaman terhadap kebijakan pembangunan pendidikan, perundang-undangan pendidikan, isu-isu terkini bidang pendidikan, wawasan keprofesian pendidik, dan lain-lain dilakukan melalui tes tertulis.

Bila kita melihat begitu hebatnya cara menyeleksi untuk memperebutkan takhta prestasi yang diadakan oleh Kemendikbud di tingkat nasional tentunya bisa dijadikan model dalam pencapaian penguasaan kompetensi tertinggi dalam bidang pendidikan dengan berbagai aspeknya yang bisa dilakukan dan ditiru oleh pemerintah dalam pengembangan kualitas pembelajaran.

Dalam bidang manajemen dan kepemimpinan para kepala sekolah yang menjadi kepala sekolah berprestasi juga bisa dijadikan model untuk bisa ditiru dan di implementasikan ilmunya di tingkat kabupaten. Merek yang sudah teruji dan terpuji di berbagai tingkatan tentunya memiliki kehandalan dan kelebihan dalam memimpin sekokah pada tingkatannya.

Bila melihat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 40 ayat (2) point c menyatakan bahwa “pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya”. Mengingat fungsi strategis kepala sekolahteladan dalam meningkatkan kualitas lembaga yang dipimpinnya, maka apresiasi (penghargaan) layak diberikan kepada kepala sekolahyang secara nyata menjadi teladandalam pengembangan mutu sekolah dan meningkatkan kualitas lulusan.

Dikutip dari Juknis pemilihan kepala sekolah teladan dinyatakan: Melalui pemilihan kepala sekolah teladan tingkat nasional diharapkan kualitas pendidikan dan pengelolaan sekolah lebih meningkat, sehingga mampu menjawab tantangan era global yang berbasis keunggulan. Untuk kelancaran pelaksanaan dan ketercapaian tujuan kegiatan Pemilihan Kepala SekolahTeladan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direkorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Pedoman PelaksanaanPemilihan Kepala SekolahTeladan Tahun 2018.

Dikutip dari pedoman pemilihan pengawas berprestasi: memiliki kompetensi yang tinggi pada kepribadian dan sosial, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan; menunjukkan kinerja dalam pelaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru serta evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan; dan
berkarakter mulia dan menjadi suri teladan bagi sesama pengawas, kepala sekolah dan guru binaannya, serta masyarakat.

Pengawas berprestasi Memiliki kompetensi tinggi tentang kompetensi kepribadian dan sosial, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan;

Pilar pendidikan tidak terlepas dari kompetensi tinggi antara guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Tiga komponen kuat ini yang bisa memberi warna kualitas pendidikan di masa depan. Ada bagian implementasi pembelajaran di kelas dengan berbagai kompetensi pendukungnya yang dilaksanakan oleh guru baik diluar kelas maupun diluar kelas.

Ada kepala sekolah yang berprestasi sesuai dengan PP nomor 19 tahun 2017 dengan tugas pokok kepala sekolah, melaksankana tugas manajerial
pengembangan kewirausahaan
supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan dan dapat melaksanakan tugas pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan guru. Bila kepala sekolah sudah terpilih menjadi kepala sekolah berprestasi di tingkat tertentu, maka kepala sekolah tersebut bisa dijadikan rujukan model pengembangan mutu pendidikan di daerah tersebut.

Sedangkan pengawas sekolah Sesuai dengan Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 21 Tahun 2010 Pasal 5 disebutkan Tugas Pokok Pengawas Sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantuan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus. Tentunya pengawas sekokah yang terpilih menjadi pengawas berprestasi sudah menguasai seluk beluk peningkatan mutu pendidikan sehingga pengawas ini juga bisa dijadikan model bagi pengembangan mutu pendidikan di daerah itu.

Setiap tahun dinas pendidkan dan Kemendikbud bisa memilih para guru, kepala sekolah, pengawas berprestasi di semua tingkatan lalu memfungsikan orang-orang berprestasi tersebut sebagai model peningkatan mutu pendidikan karena penguasaan seluruh aspek telah dikuasai dan sudah diuji oleh ora ahli pendidikan pada semu tingkatan. pemerintah bisa memberikan tugas khusus kepada para guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi di setiap kawasan untuk dapat menularkan implementasi ilmunya kepada pendidik, kepala sekolah dan pengawas sekolah lainnya.

Pola ini bisa menjadi satu terobosan bagi percepatan kualitas pendidkan di daerah. Pemanfaatan dan pengembangan para prestisius ini untuk menularkan segenap kehebatannya diharapkan bisa segera menarik bagi setiap satuan pendidikan untuk maju dan berkembang melalui 3 pilar model peningkatan mutu secara berkelanjutan dan terus dievaluasi bagi peningkatan kualitas individu pemangku pendidikan.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.