Ajari Anak Ikhlas Menghadapi Kegagalan

MEPNews.id – Masuk akal jika orang tua berupaya melindungi anak-anak dari kegagalan dengan alasan mentalnya masih rapuh. Kegagalan memang tidak menyenangkan, dan cenderung membuat anak tampak buruk, membuat anak memiliki perasaan negatif terhadap kekecewaan dan frustrasi, dan membuat anak harus memulai lagi menghadapi seasuatu.

Meskipun logis, menurut Mandie Shean dosen di School of Education, Edith Cowan University, di Australia, sebagaimana ditulis di The Conversation edisi 10 Juli 2018, tindakan itu justru memiliki efek sebaliknya. Saat bermaksud melindungi anak-anak, orang tua justru merampas peluang berharga anak untuk belajar menghadapi kegagalan.

“Kegagalan itu memberikan manfaat yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain. Kegagalan adalah ‘hadiah yang tersamar’ sebagai pengalaman buruk. Kegagalan bukanlah tiadanya keberhasilan, tetapi pengalaman dalam perjalanan menuju kesuksesan,” tulis Shean.

Ketika gagal, memang ada emosi negatif antara lain kekecewaan atau frustrasi. Tapi, ketika anak-anak dilindung dari perasaan ini, mereka justru jadi merasa tidak berdaya dan tidak memiliki kendali atas perasaan itu. Maka, jangan menghindari kegagalan-kegagalan level bawah, tetapi ajari anak ikhlas menerimanya lalu belajar bagaimana mengatasinya. Jadikan tantangan-tantangan tingkat bawah ini sebagai ajang ‘penggemblengan diri.’

Melindungi anak dari kegagalan lebih mungkin meningkatkan kerentanannya daripada meningkatkan ketahanannya. Ketika orang dewasa menghilangkan kegagalan sehingga anak tidak mengalaminya, maka anak di kemudian hari menjadi lebih rentan terhadap pengalaman kegagalan.

“Salah satu hadiah terbesar dari kegagalan adalah anak belajar tentang konsekuensi alami terhadap keputusannya sendiri. Para pakar studi perilaku mengembangkan konsep, ‘Ketika saya melakukan X, maka terjadi Y’. Nah, jika anak saya tidak belajar, maka ia sadar bahwa ia akan gagal. Jika anak tidak berlatih, ia tahu akan tergeser dari kompetisi,” kata Shean.

Membimbing anak ikhlas mengalami kegagalan akan mengajarkan ia tentang kekuatan atas keputusannya sendiri. Maka, ketika orang tua menghalangi proses ini karena melindungi anak dari kegagalan, maka anak tidak bisa menghadapi konsekuensi alami ini. Banyak studi menunjukkan, anak-anak yang terlindungi dari kegagalan lebih tertekan dan kurang puas dengan kehidupan di masa dewasa.

Ingat, kegagalan atau kekeliruan adalah inti dari pembelajaran. Dalam proses memiliki pengalaman baru dan mengembangkan kompetensi, membuat kesalahan atau kegagalan itu tidak dapat dihindari. Jika kegagalan dianggap tanda ketidakmampuan sehingga menjadi sesuatu yang harus dihindari, maka anak akan cenderung menghindari tantangan saat belajar.

Kegagalan akan menjadi hadiah istimewa jika anak lebih melihatnya sebagai peluang daripada sebagai ancaman. Tentu saja, ini tergantung pada pola pikir si anak. Jika punya mindset berkembang, ia akan percaya bahwa kecerdasan dapat dibentuk dan dapat diubah dengan usaha. Jika memiliki mindset yang kaku, anak akan percaya bahwa ia dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tertentu. Bagi anak dengan mindset berkembang, kegagalan adalah tanda untuk mencoba lebih keras lagi atau mencoba dengan cara berbeda. Bagi anak dengan mindset kaku, kegagalan adalah tanda bahwa ia tidak cukup cerdas untuk menghadapinya.

Bagaimana agar mindset anak-anak tidak kaku?  Pujian dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menata kindset anak sehingga tetap merasa berharga meski menghadapi kegagalan. Tapi, pujian harus diberikan dengan cara yang pas agar tidak memberi efek sebaliknya.

Ketika orang tua memberikan pujian berlebihan (“Hasilnya sangat baik”) atau pujian yang berfokus pada person (“Kau pintar, kok” atau “Kau sudah istimewa”), maka mental anak justru menurun saat terjadi kegagalan. Lebih baik, beri pujian yang berfokus pada upaya si anak. Kemudian, beri tahu cara menghindari kegagalan dan ingatkan tugas mendatang yang lebih menantang. Ini membuat mindset anak lebih terbuka.

‘Kau sudah bekerja sangat keras. Untuk hasilnya, ikhlaskan saja pada ketentuan Tuhan. Ke depan, bisa lebih baik.’ Pujian semacam ini membuat anak lebih dapat mengontrol seberapa keras ia bekerja. Anak juga akan lebih bebas belajar di masa datang tanpa menanggung risiko dinilai terhadap diri mereka. penilaiannya justru pada usahanya.

Jadi, melindungi anak dari kegagalan sebenarnya tidak banyak membantu. Biarkan anak merasakan dan mengalami kegagalan. Bimbinglah jalan fikirannya agar bisa meraih hikmah dan berkah dari kegagalan. Mengalami kegagalan akan membuat mereka lebih tangguh dan lebih mungkin sukses di masa depan.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.