5W+1H+1W Merangsang Anak untuk Banyak Tahu

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo

MEPNews.id – Rasa ingin tahu itu sangat mungkin terkait usia. Coba amati saat seseorang berusia 3 tahun, 13 tahun, dan 23 tahun. Saat masih usia 3 tahun, anak sangat ingin tahu ini atau itu di dunianya sehingga sangat aktif bertanya. Saat usia 13 tahun, ia punya banyak teman namun sudah mulai jarang bertanya di sekolah. Saat usia 23 tahun di kampus, disuruh bertanya saja ia justru enggan.

Sebenarnya, sungguh memprihatinkan jika anak sudah mulai tidak tertarik untuk ingin tahu. Jika sudah tidak agresif ingin menambah pengetahuan, ia bisa kesulitan berfikir kritis, melakukan kreasi, atau menemukan inovasi. Padahal, semua proses itu akan sangat berguna dalam kehidupannya kelak saat sudah dewasa.

Maka, sudah menjadi kewajiban orang tua atau guru untuk melatih anak agar selalu ingin tahu dan mendapat pemahaman baru. Nah, ada metode yang biasa digunakan para ahli untuk memicu siapa saja mencari pengetahuan baru. Metode itu biasa dinamai 5W+1H+1W. Dengan metode ini, anak diajari untuk banyak bertanya.

Metode 5W+1 H+1W ini berbentuk pertanyaan-pertanyaan dasar yang jawabannya bisa memenuhi standar pengumpulan informasi lengkap. Jika dikembangan lebih jauh, metode ini bisa mengungkap fenomena lebih mendalam sehingga anak akan mendapatkan pemahaman. Di level tinggi, anak bahkan bisa memperkirakan apa yang bakal terjadi.

Apa ini metode baru dan canggih? Tidak juga. Ini sudah digunakan para filsuf ahli retorika era Yunani kuno dan Romawi kuno. Namun, untuk metode ini ada rumusan sederhana yang dibuat Rudyard Kipling dalam bukunya Just So Stories (1902). Sebuah puisi yang menyertai kisah ‘The Elephant’s Child’ dibuka dengan:

I keep six honest serving-men

They taught me all I knew;

Their names are What and Why and When

And How and Where and Who

Terjemahan kasarnya kira-kira; Saya punya enam sahabat jujur; yang mengajari saya apa saja. Nama mereka adalah ‘Apa’ dan ‘Mengapa’ dan Kapan’, serta ‘Bagaimana’ dan ‘Di Mana’ dan ‘Siapa’. Dalam bahasa Inngris, puisi ini memang mengandung rima suara. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, rima suara ini tidak terasa. Namun, bukan rima yang terpenting. Isinya lah yang bisa kita jadikan metode.

Who, What, When, Where dan Why biasa disebut sebagai 5W. How adalah 1H. Dengan mengajukan pertanyaan dasar Who, What, When, Where saja, kita bisa mendapatkan informasi dasar. Jika menggali dengan unsur Why dan How, kita bisa mendapatkan pemahaman. Lalu, di samping landasan dari Kipling, saya kembangkan 1 unsur W lagi yakni ‘What Effect’ yang memberi kita kemampuan prediksi. Nah, dengan menggunakan pertanyaan 5W+1H+1W, pemahaman kita jadi makin lengkap dan dalam.

Nah, ajari dan biasakan anak untuk akrab dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Bagaimana supaya jadi akrab? Ya kita harus sering-sering mencontohkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu pada anak. Tak masalah apakah pertanyaan Anda dijawab atau tidak. Yang penting, jika sering ditanyai demikian, maka anak akan mencoba mencari jawabannya di berbagai lini. Sebaliknya, karena anak punya kecenderungan suka meniru, mereka juga akan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa. Maka, pertanyaan anak akan jadi makin berbobot.

Contoh;

Ada apa? Hujan.

Di mana? Di kebun.

Kapan? Kemarin.

Siapa yang suka hujan? Petani.

Mengapa petani suka hujan? Karena sawahnya bisa diairi.

Bagaimana cara mengairinya? Air hujan ditampung di waduk lalu dialirkan di sawah.

Apa dampaknya? Padi akan tumbuh subur.

Jawaban dari pertanyaan-petanyaan itu bisa dirangkai menjadi kaimat dan bahkan jadi informasi yang memperkaya pengetahuan. Juga, pertanyaan-pertanyaan dasar itu bisa dikembangkan sesuai keadaan. Misalnya, penekanan diberikan pada unsur ‘siapa’ sehingga perlu ditanyakan beberapa kali. Bisa juga unsur ‘mengapa’ yang ditekankan.

Selamat mencoba.

 

Penulis adalah:

Facebook Comments

POST A COMMENT.