Sedikit Sedikit Mati, Mati Kok Sedikit

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —-Praktek berpuasa sebenarnya hanya merobah kebiasaan, yang biasanya makan minum di siang hari dirobah menjadi boleh makannya di malam hari dari magrib sampai subuh, sementara siangnya tidak boleh makan.

Maksudnya supaya manusia tidak terbiasa dengan satu kebiasaan saja, sanggup menghadapi banyak situasi, keadaan dan kebiasaan apa pun.

Karena orang yang paling sengsara adalah orang yg hanya terbiasa dengan satu kebiasaan saja. Biasanya minum susu, begitu susu tidak ada dia akan mengatakan, mati saya. Biasanya makan pakai lauk daging, begitu daging tidak ada, mati saya. Biasanya tidur pakai kasur tebal, begitu kasur yang ada tipis atau bahkan tidak ada, mati saya. Masih hidup kok mati, sedikit sedikit mati, mati kok sedikit he he.

Dengan puasa, manusia dilatih untuk menjadi tahan banting, tangguh mampu menghadapi keadaan dan situasi apa pun dan sesulit apa pun.

Dunia ini tidak ada yang abadi, tidak ada kenikmatan yang terus menerus, pasti ada berakhirnya, begitu juga tidak ada kesulitan sepanjang masa, pasti ada jeda dan waktu finisnya. Ada sedih tapi ada juga senang, ada sulit namun ada juga gampang, ada susah dan ada juga mudah, suatu ketika dimudahkan namun di lain waktu mendapatkan kesulitan.

Dengan puasa diharapkan orang beriman siap menghadapi segala situasi, tidak pernah menyalahkan keadaan, karena semua keadaan dari Allah, la tasubbuddahro fainnalloha huwaddahru, jangan kau cela masa karena Alloh itulah masa, militan dan siap memberikan pengorbanan dan pengabdian dalam masa sulit atau mudah.

Sungguh hebat keadaan orang beriman, semua keadaannya dianggap baik, dan hal sedemikian hanya ada pada orang beriman. Bila mendapatkan kesenangan, memuji tuhannya kemudian bersyukur, dan bila mendapatkan kesulitan, memuji tuhannya kemudian bersabar.

Kesabaran, ketahanbantingan dan militansi dalam kehidupan secara umum apalagi di zaman sekarang ini, zaman penuh tantangan ini sangat diperlukan untuk mempertahankan dan memperjuangkan prinsip dan akidah serta idealisme, karena hidup ini idealisme dan berjuang mempertahankannya, innal hayata aqidatun wa jihad.

Pertanyaannya setelah romadlon ini, seberapa jauh ketahanbantingan dan militansi kita dengan pelatihan puasa ini dalam taat dan perjuangan di jalanNya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.