Perlukah Berbasa Basi dengan Orang?

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Saya sudah tiga semester tidak mengajar percakapan (Conversation) Kelas Laboratorium Bahasa Inggris. Baru semester ini yang berakhir akhir Juni lalu, saya mengajar lagi matakuliah ini. Ada yang menarik dalam materi kelas ini. Materi yang sangat unik adalah tentang basa basi. Ada salah satu Unit di dalam materi kelas ini, yaitu Social English.
Unit ini khusus memberikan keterampilan mahasiswa dalam percakapan awal. Agar berhasil dalam percakapan, mahasiswa harus dapat menerapkan bahasa dengan basa basi. Saya namakan “basa basi” karena intinya sekadar membuka percakapan dengan hangat.
Dalam penjelasan awal, Unit ini memberikan kunci dengan cara mengucapkan hal-hal yang dirasakan sama (common things). Misalnya saja, kita menyebutkan cuaca saat itu. Maka, kita akan memperoleh komentar dari lawan bicara. Kalau ini sudah umum kita pelajari sejak SMP dan SMA.
Contoh lain, misalnya ketika kita bertanya asal kota atau negara. Kemudian, orang asing yang kita tanya menjawab kota asalnya, misalnya Tokyo, maka kita harus memberikan komentar positif. Misalnya, Oh, Tokyo is a nice city. Atau, jika kita pernah mengunjungi kota tersebut, kita bisa mengomentari misalnya”I have visited Tokyo three times!” I enjoyed travelling there!”
Tidak itu saja, jika orang lain menyebut hobinya, misalnya Renang. Maka, kita bisa memujinya, bahwa renang itu baik. “Good! It is a nice hobby! I also like swimming!” Banyak bahasa yang diberikan beberapa contoh di dalam Unit tersebut terkait dengan cara berkomunkasi dan sosialisasi.
Yang lebih menarik adalah, di akhir Unit itu, ada beberapa pelatihan (exercises) untuk mengukur sejauh mana mahasiswa bisa menerapkan basa basi dalam Social English. Jika, ada pertanyaan dan jawaban, maka, tugas mahasiswa dalam tes akhir di Unit tersebut adalah menjawab apa sesuai atau tidak (Approrpiate responese or not).
Sebenarnya, paparan materi Unit terkait bahasa Inggris untuk sosialisasi atau bermasyarakat (Social English) ini menarik untuk diterapkan dalam media sosial. Kita sering memberikan banyak komentar dan respose dari facebooker yang kita beri komentar. Banyak di antara para facebooker yang banyak memberi komentar. Sering kita jumpai, bahwa komentar dalam facebook lebih banyak pada sosialisasi daripada realitas untuk berargumentasi.
Namun, tidak semua komentar itu kita temui dalam bentuk basa basi. Misalnya saja, jka komentar itu “berbau” politik. Kita sering dengan istilah nyinyir, cebong, kampret, dan sejenisnya. Jika bahasa ini dikelompokan ke jenis bahasa, maka bukan masuk bahasa basa basi (Social English seperti dalam Unit ini). Dengan kata lain, bahasa komentar yang terkait politik yang kita baca selama ini tidak bisa digologkan ke dalam Unit bahasa sosialisasi atau basa basi. Atau istilah di dalam Unit buku Lab bahasa Inggris itu bukan masuk “Social English,” yang dimaksudkan untuk dicapai oleh mahasiswa (learning outcome).
Itu sebabnya, mungkin bahasa Social English ini baik bagi para facebooker yang berteman dengan orang asing. Bagi mereka yang berteman facebooker orang berbahasa Inggris, materi Unit tentang Social English ini bisa dipakai. Bahasa Inggris ini diberikan di semester satu. Untuk semester kedua, mahasiswa diberikan Bahasa Inggris sesuai dengan jurusan: Akuntansi, Manajemen, Perbankan, Shariah atau Islamic Economics.
Pendekatan yang kedua itu (untuk semester dua) dinamakan English for Specific Purposes disingkat ESP. Itu sebabnya, setiap jurusan, materinya berbeda. Hanya kontentnya saja yang berbasis materi jurusan (Content-Based Syllabus atau dikenal dengan CBS).
Namun, untuk semester awal, semua mahasiswa diberikan materi yang kontenya sama. Untuk kelas teori, dikhususkan materi terkait Ilmu Ekonomi Dasar, English for Economics. Adapun dalam materi Kelas Praktika (Listening and Speaking), mahasiswa memperoleh berbagai strategi berbicara. Salah satunya, yaitu Social English di antara 10 Unit.
Perlukah berbasa basi itu? Dalam kontek seperti Unit yang diuraikan di sini, memang berbahasa basi itu perlu. Bahasa basa basi ini sangat cocok untuk dipelajari bagi para facebookers yang mempunyai teman berbahasa Inggris. Ini baik, jika diterapkan dalam komunikasi dalam media sosial, misalnya facebook. Jadi, berbasa basi dengan orang khusus dalam konteks ini diperlukan. ***
Penulis adalah: Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dan dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.