Inovasi Mahasiswa UNAIR, Kantong Darah Menggunakan Ekstrak Mangrove

ANDHI Baskoro dan anggota tim PKM-PE-nya menunjukkan bahan kantong darah (blood bag) yang terbuat dari ekstrak batang mangrove. (Foto: Dok PKM-PE).

 

MEPNews.id  – Indonesia dikenal sebagai “etalase” bencana. Bencana apapun ada di Negeri Nusantara ini, termasuk tingginya angka kecelakaan lalulintas. Karena itu kebutuhan darah sebagai pelengkap utama dalam evakuasi, menjadi sangat penting dan vital.
Sayangnya, alat penyimpan darah hasil dari transfusi para pendonor, yaitu kantong darah (blood bag), sering terkontaminasi bakteri, selain sifat fisik material kantor darah itu sendiri. Akibatnya blood bag ini tidak bisa dipakai.
Permasalahan yang dihadapi Palang Merah Indonesia (PMI) itu menginspirasi tiga mahasiswa Universitas Airlangga yaitu Andhi Baskoro, Jualita Kusuma Wardani, dan Diana Fitri, untuk melakukan inovasi membuat kantong darah yang bersifat antikoagulan dan anti bakteri.
Dalam laporan inovasinya dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitihan Eksakta (PKM-PE) yang berjudul ”Inovasi PVC–Gliserol–Kitosan dan Ekstral Aegiceras corniculate untuk Anti-Coagulant dan Anti-Bacterial Blood Bag”
Dibawah arahan dan bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio,CCD., proposal Andhi Baskoro Dkk itu berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga memperoleh dana penelitihan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017-2018.
Dijelaskan oleh Andhi Baskoro, selaku ketua tim peneliti, mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang dibudidayakan di pesisir pantai di Kota Surabaya. Keberadaan pohon yang relatif melimpah itu diinovasi oleh bahasiswa UNAIR dengan memanfaatkan batang mangrove yang memiliki sifat anti-koagulan sebagai kantong darah. Caranya batang mangrove itu diekstraksi.
”Sifat anti-koagulan itu berguna agar tidak terjadinya penggumpalan pada darah yang disimpan pada kantong darah,” kata Andhi.
Ditambahkan oleh Andhi Baskoro, tingginya kebutuhan transfusi darah di Indonesia itu berbanding lurus dengan jumlah kebutuhan kantong darah. Hal itu karena banyaknya kejadian bencana dan kecelakaan, dimana para korban bencana sangat membutuhkan bantuan suplay darah.
”Kalau banyak kantong darah yang terkena atau tercemari bakteri, sehingga diperlukan suatu kantong darah yang bersifat anti-bakteri dan bersifat anti-koagulan,” tambahnya.
Seperti diketahui, kantong darah yang banyak beredar di pasaran saat ini terbuat dari Poly Vinyl Chloride (PVC) dengan campuran plasticizer, untuk mendapatkan sifat anti bakteri dan anti koagulan dengan menambahkan material kitosan. Sehingga dengan ekstraksi batang mangrove dan kitosan maka akan memiliki sifat bioaktif, biokompatibel, dan anti bakteri.
Sifat anti-koagulan tersebut terdapat pada ekstraksi dari batang mangrove. Sedangkan batang pohon mangrove yang digunakan dalam penelitian ini adalah mangrove jenis Aegiceras Corniculate karena memiliki sifat anti-koagulan.
”Tim kami berharap dengan penelitian ini dapat meminimalisir kerusakan darah yang terdapat pada kantong darah, sehingga darah dari para pendonor dapat disimpan dengan baik,” kata Andi Baskoro mengakhiri penjelasannya. (Cca)

 

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.