Cendera Mata dan Potret Perilaku

Catatan Oase :

MEPNews.id — Cendera mata biasasanya diberikan sebagai tanda kenangan kepada seseorang. Tujuan dari pemberian cinderamata dimaksudkan agar sipenerima atau sipembawa bisa mengenang bahwa dia pernah bersama atau berada ketika cindera mata itu didapatkan.

Cinderamata lebih banyak dimaknai sebagai sebuah benda yang bisa diraba, dilihat dan dirasa. Jarang sekali cinderamata itu berupa sesuatu yang berbentuk jasa atau sesuatu yang tak bisa dilihat ataupun diraba, cinderamata bisa dimaknai sebagai pesan keselamatan atau pesan keberuntungan, Misalkan cendera mata berupa titipan doa keselamatan yang harus diingat dan dibaca setiap hari.

Gaya hidup dan perilaku akan menentukan cara kita menilai sebuah cinderamata. Gaya hidup yang dimaksud adalah berkaitan dengan perilaku seseorang dalam mengapresiasi dan menghargai sebuah pemberian. Seseorang yang pandai menghormati dan mensyukuri sesuatu maka dia akan mudah dan tulus mengapresiasi pemberian, meski kadang pemberian itu belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan, tetapi keharusan menghargai dan menghormati seseorang mengalahkan keegoan dirinya.

Begitu juga sebaliknya, kadang kita jumpai seseorang yang susah mengucapkan terima kasih apalagi menghargai pemberian. Apa saja yang diterima dari orang selalu dimaknai salah dan cenderung dicari kelemahannya, sehingga diberi salah tidak diberi salah. Nah bagi yang seperti ini saya cenderung menyarankan tidak diberi dan ditinggalkan. Karena potret perilaku seperti ini adalah potret manusia yang kurang bersyukur dan kurang bisa menghargai dan menghormati.

Perilaku seperti ini justru akan menutup jalan rezeki bagi diri dan keluarganya. Orang akan cenderung meninggalkannya dan akan menutup diri bagi orang yang seperti ini. Karena tidak ada manfaatnya sama sekali dalam membangun kebersamaan apalagi saling menghormati.

Saya masih teringat sekali pesan orang tua saya sebelum meninggal, satu hal yang dipesankan oleh kedua orang tua saya adalah jangan pernah meninggalkan sholat dan selalu berusahalah berbuat baik kepada orang. Pesan itu menjadi ” kalimat keramat ” yang saya maknai sebagai cindera mata yang masih saya simpan dalam ingatan saya dan hati saya. Sehingga sesibuk apapun saya, saya selalu berusaha untuk tidak ketinggalan sholat, dan sesusah apapun saya, saya akan selalu berusaha untuk berbuat baik. Bukankah Nabi pernah mengatakan sebaik baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Anda semua, sahabat dan kawan saya, tentu seperti saya, mempunyai ” cinderamata ” dari orang orang yang kita cintai dan hormati, cara kita mengapresiasi dan memperlakukan cindera mata sejatinya menunjukkan siapakah kita sebenarnya.

Kualitas Seseorang sangat ditentukan dalam memperlakukan orang lain. Cara memperlakukannya juga akan bisa dilihat dari apa yang diucapkan atau apa yang dituliskan. Dizaman yang serba instan dan komunikasi yang serba cepat ini, cara memperlakukan biasanya dimunculkan dengan cara menuliskan dan mberitahukan kepada khalayak dengan cara cara yang membuat semakin dekat dan membanggakan si pemberi.

Sebaliknya bagi mereka yang kualitas dirinya tidak terlatih secara baik, maka cara mengapresiasinyapun tergambar tidak baik dan cenderung melemahkan, jauh dari rasa terima kasih.

Semoga saja kita dihindarkan dari sikap yang kurang bersyukur ini

” Baragsiapa bersyukur atas sebuah nikmat, maka ketahuilah nikmat itu akan Aku tambahkan, dan barangsiapa yang mengingkari atas sebuah nikmat, maka sesunghuhnya adzab Ku sangat pedih ” ( Q. S Ibrahiim : 7 )

Assallammualaikum wr wb…. Selamat berkarya dan berbagi kebaikan

Surabaya, 9 Juli 2014

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan periubahan perilaku, staf pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.