Membaca Mindset Organisasi Pendidikan

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

The key to a successful TQM culture is an effective internal and external customer-supplier chain (Edward Sallis, 2002: 27)

MEPNews.id — Kutipan di atas sangat menarik dikaji secara mendalam khusus bagi siapa saja yang menjadi pelaku pendidikan di negeri ini. Banyak sekolah bersaing mulai jenjang dasar sampai tinggi: SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Ada yang swasta, ada yang negeri. Semua sama karena sistem pendidikan nasional diatur dalam Undang Undang Dasar 1945. Semua itu tidak lepas dari strategi manajemen dan tipe kepemimpinan (leadership) nya. Itu sebabnya, membaca mindset organisasi pendidikan sebenarnya sangat mudah.
Siapakah yang berperan dalam peningkatan mutu proses pendidikan? Para manajer puncak kah? Pegawai administrasi, guru-guru atau dosen kah? Para siswa atau mahasiswa kah? Para orang tua siswa atau mahasiswa kah? Atau masyarakat, pemerintah, atau siapa kah? Jawabannya ada di konsep stakeholder semua. Yang paling jelas, ada dalam konsep pelanggan dan mutu pendidikan.
Banyaknya buku dan referensi manajemen mutu, memang baik sebagai pembanding dalam kajian. Namun, jika hanya dipahami secara artifisial, maka betapa pun banyaknya referensi itu, tidak akan berdampak dalam penerapannya. Ada pemahaman konsep mutu dan pelanggan pendidikan yang sangat koseptual tetapi praktis. Edward Sallis (1993; 1996; 2002), dalam bukunya Total Quality Management in Education, ada konsep mutu dan pelanggan.
Mutu dalam Total Quality Management (TQM) sifatnya berantai. Ada keterkaitan para pelaku manajemen pendidikan melalui konsep pelanggan. Konsep ini, jelas sekali runtutannya dengan mutu. Mutu dalam pendidikan dilalui dengan keterkaitan jenis-jenis pelanggan. Pelanggan dibagi tiga: pelanggan utama (Primary customer) adalah siswa atau mahasiswa. Pelanggan kedua (secondary customers) adalah orang tua dan yang yang menggunakan hasil output pendidikan (users). Adapun pelanggan ketiga (tertiary customers) adalah masyarakat dan pemerintah. Semua itu pelanggan eksternal. Adapun pelanggan internal, adalah semua pelaku dalam organisasi pendidikan, yaitu sekolah atau kampus. Mereka mulai dari manajemen puncak, para bagian atau unit kerja, dan para staf baik guru atau dosen serta penunjang dalam setiap unit.
Kemudian, konsep mutu dalam pendidikan digambarkan dalam bentuk standar layanan (service). Pendidikan itu penyedia jasa (service provider) yaitu pendidikan. Itu sebabnya, mutu digambarkan dengan kepuasan (satisfaction). Semakin pelanggan external (primary, secondary, dan tersiary) puas, semakin tinggi mutu organisasi pendidikan itu.
Mutu dibangun setapak demi setapak dari mindset para pelaku pendidikan. Itu sebabnya, konsep leadership dalam TQM itu everybody bukan pemimpin puncak (top leaders). Jika antaranggota dalam setiap unit kerja atau departmen itu tidak saling membantu atau menunjang ikatan mutu (internal customers), maka dampaknya juga mutu buruk bagi pelanggan eksternal, karena output atau hasilnya jelek. Siswa, users, masyarakat, dan pemerintah yang menilai dari output itu.
Siswa atau mahasiswa puas karena ilmu dan ketermapilan bermanfaat bagi masa depannya. Users . puas karena memperoleh tenaga kerja handal. Masyarakat puas dengan citra yang dibangun. Dan, pemerintah puas karena sistem yang dibangun tercapai dan berguna.
Jika dalam setiap unit tidak saling menopang, maka pasti berdampak keluar (pelanggan eksternal). Jika kegagalan unit terjadi, berarti mutu yang dibangun secara internal yang buruk ini berpengaruh ke pelanggan eksternal. Hasilnya, mutu pelanggan ke luar (siswa/ mahasiswa sebagai pimary cusotmers), pengguna (users) dan masyarakat (external tertiary customers) buruk pula.
Jadi, mindset organisasi pendidikan itu bisa dilihat dari kepuasan pelanggan eksternal. Jika pelanggan utama banyak keluhan, itu berarti ada yang tidak beres dalam pelanggan internal dalam organisasi itu sendiri. Orang Inggris mengatakan “Ada something wrong” antarpelanggan di dalamnya. Karena mutu dalam pendidikan merupakan refleksi mindset para pelaku pendidikan di dalamnya (Edward Sallis, 2002: 22). Setiap orang wajib membangun citra di masyarakat. Itu dimulai dari dalam.
Setiap orang dalam organisasi pendidikan itu pemimpin (everybody is a leader). Slogan ini banyak terpampang di dinding gedung sekolah-sekolah atau kampus. Namun, “syare’at” ini sebaiknya dalam praktik sehari-hari tidak hanya secara konseptual tetapi juga praktis.
Itulah pengetahuan naluriah (tacit knowledge) untuk mengetahui mindset di dalam sebuah organisasi pendidikan. Manajemen dan kepemimpinan tidak lepas dari hubungan antarstakeholders di dalamnya. Itu sebabnya, “any success is not somebody’s”. Keberhasilan bukan milik seseorang. Tetapi, sukses itu gambaran perilaku atau mindset para pelaku dalam organisasi pendidikan, baik antarunit atau bagian maupun antarindividu di dalam setiap unit atau bagian. Hubungan batin, garis funsional, dan garis komando, terbaca semua di dalamnya, melalui hasil atau output itu. Yang paling nyata, berbentuk sikap semua pelanggan ekternal terhadap organisasi pendidikan itu sendiri secara keseluruhan.
Apa yang terjadi di luar tentang organisasi atau lembaga pendidikan merupakan ekspresi keseluruhan mindset organisasi atau lembaga pendidikan. Mutu itu terbentuk dari sifat dan perilaku individu setiap stakeholders di dalamnya. Image atau citra masyarakat (pelanggan eksternal) terhadap organisasi atau lembaga pendidikan, secara evolusi terbentuk oleh mindset setiap pelaku pendidikan dalam organisasi itu sendiri.
Intinya, “roh sucinya” secara psikologis di dalam organisasi tergambar dalam kepuasan hasil output yang dirasakan oleh semua jenis pelanggan (primer, sekunder, tersier). Mindset organisasi pendidikan juga tergambar baik dalam bentuk citra maupun sikap pelanggan eksternal terhadap organisasi pendidikan itu sendiri.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.