Gel Etosom Bawang Putih Obat Antihipertensi

MEPNews.id – Gangguan kesehatan hipertensi banyak dialami masyarakat. Itu terjadi saat tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan tenang/istirahat. Orang awam menyebutnya tekanan darah tinggi.

Hipertensi yang berlangsung lama, tidak dideteksi secara dini, serta tidak mendapatkan pengobatan memadai, dapat menimbulkan gangguan jantung koroner, iskemik, pembuluh darah perifer, gangguan penglihatan, dan stroke hemoragik.

Data statistik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2016 hipertensi menyumbang 12,8% kematian, atau sekitar 7,5 juta dari 58,6 juta jiwa meninggal di Indonesia. Hipertensi menjadi silent killer, penyumbang angka kematian tinggi.

Sampai saat ini, pengobatan hipertensi masih bertumpu pada obat-obatan sintesis dengan kadar bahan aktif sama. Namun, di balik kelebihannya, obat sintesis itu dapat menimbulkan efek samping. Antara lain detak jantung melambat sehingga suplai oksigen dari jantung ke seluruh tubuh mengalami penurunan.

Beatrice, mahasiswa Farmasi UNAIR ketua PKM-PE ini, menyatakan salah satu sistem penyembuhan hipertensi yang lebih aman adalah menggunakan tanaman herbal. Salah satunya bawang putih. Mengapa bawang putih? Karena mengandung allysin yang mempunyai fungsi fisiologis antihipertensi, antikanker, dan kolesterol.

Meski kaya manfaat, bawang putih memiliki bau dan rasa yang kurang diminati masyarakat. Maka, perlu inovasi sediaan obat antihipertensi dari ekstrak bawang putih yang lebih diminati. Beatrice bersama timnya pun membuat obat antihipertensi dari bawang putih dalam sediaan gel etosom.

Beatrice, bersama Dyoko Gumilang Sudibyo dan Naufal Dhifari Ramadhan, dibimbing dosen Sugiyartono, Dr., MS., Apt., melakukan penelitian pengembangan sediaan gel etosom sebagai solusi obat antihipertensi yang aman dan aseptabel. Bahan aktifnya ekstraksi diallyl sulfide yang teroksidasi menjadi allysin dari umbi bawang putih.

Tiga mahasiswa itu menuliskan penelitian dalam proposal PKM-PE dengan judul “Pengembangan Sediaan Gel Etosom Bawang Putih (Alliun sativum L.) sebagai Solusi Obat Antihipertensi yang Aman dan Aseptabel.” Proposal ini lolos seleksi dan mendapat dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

”Sediaan gel etosom ini mampu menembus kulit. Ini memungkinkan penghantaran senyawa kimia dari permukaan kulit ke dalam berbagai stratum kulit, bahkan ke sirkulasi sistemik. Namun, produk yang dalam proses pembuatan sediaan ini harus melewati uji karakteristik fisik dan uji efektivitas obat yang dicobakan pada tikus (mencit),” kata Beatrice dalam rilis resmi UNAIR NEWS.

Ke depan, Beatrice bersama tim berharap produk ini mampu menjadi inovasi pengobatan hipertensi. Selain itu, juga menjadi pijakan pengembangan obat antihipertensi dari ekstraksi bawang putih dalam sediaan gel etosom. (*)

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.