Terapi Oksigen Atasi Demensia Penderita Paru

MEPNews.id – Menghirup oksigen tambahan bisa meningkatkan fungsi pembuluh darah di otak bagi orang-orang yang kesulitan bernapas karena kondisi paru-paru. Temuan ini dapat memiliki implikasi penelitian masa depan untuk mencegah perkembangan penyakit yang mempengaruhi otak, termasuk demensia. Demikian rilis di EurkAlert! Edisi 5 Juli 2018 tentang penelitian baru yang diterbitkan Experimental Physiology.

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah istilah kolektif untuk sekelompok kondisi paru yang menyebabkan kesulitan bernapas jangka panjang. Ini kondisi umum terutama pada orang dewasa setengah baya atau orang dewasa yang merokok. Gejalanya antara lain sesak napas dan batuk.

Penderita PPOK berisiko lebih tinggi kena demensia. Ada teori demensia disebabkan tingkat oksigen otak lebih rendah sebagai akibat melambatnya pasokan darah dari pembuluh darah di otak. Sejalan teori ini, beberapa penelitian melaporkan memberikan oksigen tambahan pada pasien PPOK bisa mengurangi risiko kena demensia. Namun, mekanisme yang mendasari efek positif ini belum sepenuhnya diselidiki.

Nah, penelitian yang didanai Canadian Research Chair in Cerebrovascular Physiology dan NSERC Discovery Grant ini bertujuan menentukan efek penyediaan oksigen tambahan pada aliran darah ke otak dan fungsi pembuluh darah pasien PPOK. Selain menguji aliran darah di otak, peneliti juga menguji kaitan antara aktivitas otak dan aliran darah di otak.

Para peneliti menggunakan ultrasound untuk melihat dan mengukur aliran darah di otak pasien saat istirahat, sebelum, dan selama pengiriman oksigen tambahan. Oksigen dikirim melalui saluran di hidung 20-30 menit.

Peserta penelitian memulai tes ini dengan mata tertutup, lalu membukanya dan kemudian membaca teks standar. Tugas ini dirancang untuk meningkatkan aktivitas di otak. Sebagai hasilnya, aliran darah otak diharapkan meningkat untuk menyediakan pasokan oksigen yang cukup.

Ultrasound digunakan untuk mengukur sejauh mana aliran darah otak meningkat. USG digunakan untuk mengukur kadar oksigen darah. Ini memungkinkan peneliti memperkirakan berapa banyak pengiriman oksigen ke otak meningkat selama tes membaca mata terbuka.

Tim peneliti menemukan, aliran darah dan pengiriman oksigen ke otak meningkat secara signifikan selama membaca. Ini karena pembuluh darah di otak melebar sebagai respons terhadap permintaan oksigen yang lebih besar ketika otak aktif. Disimpulkan, ketika pasien PPOK menerima oksigen tambahan maka hal itu meningkatkan fungsi pembuluh darah di otak.

Studi ini menunjukkan, pemberian oksigen ekstra bisa meningkatkan fungsi pembuluh darah di otak dengan cara menyesuaikan suplai darah dengan tuntutan aktivitas otak. Namun, pasien PPOK biasanya menggunakan terapi oksigen ekstra ini sepanjang hari dan untuk jangka waktu lama, bahkan bertahun-tahun.

Studi ini tidak menunjukkan pengaruh terapi oksigen jangka panjang pada fungsi pembuluh darah di otak. Terlepas dari keterbatasan ini, penelitian telah menetapkan landasan bagi para peneliti berikut untuk menyelidiki sistem biologis yang mengontrol pengiriman oksigen ke otak.

Ryan Hoiland, peneliti utama, mengaku belajar banyak dari proses ini. “Saya biasanya bekerja dengan orang muda yang sehat. Studi pada pasien penyakit paru-paru ini pengalaman yang membuka mata. Saya belajar lebih banyak tentang di mana saya ingin mengambil karir penelitian di masa depan, dan bagaimana saya merancang penelitian untuk meningkatkan perawatan bagi orang-orang yang kesulitan bernapas.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.