Telah Pergi

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —– Turut berdukacita yang mendalam tatkala mendapatkan kabar bahwa Gus Yus–panggilan akrab KH. Yusuf Nur Iskandar–meninggal dunia, pagi kemarin 3 Juli 2018 pukul 10.30wib di RSUD Blambangan Banyuwangi. Ada rasa tak percaya begitu mendengar kabar mantan Wakil Bupati Banyuwangi periode Bupati Ratna Ani Lestari ini meninggal dunia. Perjumpaan terakhir saya dengan Gus Yus selaku Wakil Rais Syuriah PCNU itu ternyata di saat acara Kopdar Ngaji Ihya’ Ulumuddin bersama Ulil Abshar Abdalla di aula kantor PCNU Banyuwangi, kira-kira bulan April 2018 kemarin.

Segala sesuatunya berasa baru kemarin dan begitu cepat. Bersama teman-teman Ikatan Keluarga Alumni PMII saya termasuk “yunior kemarin sore” yang mulai mengenal Gus Yus. Beliau juga baru sekali dua kali saat salaman menyebut nama saya tatkala bertemu di beberapa acara IKAPMII Banyuwangi. Kini orang baik itu yang sekaligus sahabat dan guru kami semua telah pergi untuk selamanya.

Tatkala saya kuliah di Ibrahimy dulu pernah sekali di malam hari mengikuti diskusi lesehan dengan Gus Yus. Seingat saya saat itu acara diskusi Maulid Nabi. Saya sendiri kurang aktif berorganisasi sehingga sangat kurang untuk pernah bertemu dengan orang-orang penting, jenius, dan berilmu seperti Gus Yus ini.

Gus Yus ini pula yang pernah berkelakar, dan rasanya masih baru kemarin sore: “Jangan pernah ngaku sabar kalau belum pernah dipenjara, hehehe…” Saat itu sore hari sekitar mungkin tahun 2015, tatkala kami santai ngopi-ngopi setelah acara halal bi halal IKAPMII di kampus Uniba Banyuwangi.

Gus Yus merupakan sosok intelektual pesantren yang dengan tekun dan ikhlas mengamalkan ilmunya kemana-mana tanpa merasa berat, enggan, dan lelah, meskipun kurang lebih 3 tahun terakhir ini beliau mengalami gagal ginjal. Tanpa Gus Yus kami semua seakan kehilangan pengayom dalam berorganisasi. Gus Yus merupakan naungan berteduh bagi kami yang muda-muda. Belum tentu tatkala kami tua kelak akan tekun dan telaten dengan yang muda-muda tatkala sekedar diajak jagongan meskipun sekedar ngerumpi mengenai hedonisme para artis dan gegap gempita ramainya piala dunia sepak bola.

Sangat bersyukur siang menjelang sore itu saya bisa ikut hadir dalam pemakaman beliau di makam keluarga bani Askandariyah Sumber Beras Muncar yang seakan-akan beliau masih hadir dalam lingkaran kehidupan kami semua. Tanpa terasa Gus Yus telah pergi untuk selamanya meninggalkan kami semua.

Dalam perjalanan pulang usai takziyah hati dan fikiran saya spontan turut larut merenungi kematian, merenungi kehilangan. Bekal apakah saat kematian kita kelak? Bekal apakah saat kehilangan semua yang kita cintai karena kita harus lepas berpisah meninggalkan untuk melanjutkan perjalanan berikutnya menuju ke yang lebih kekal dan abadi? Tak lain dan tak bukan hanyalah kepasrahan serta pengampunan, dekapan dan kasih sayang Tuhanlah yang senantiasa kita dambakan.

Wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Janganlah engkau meninggal dunia kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah, hanya mengikuti Allah, mendekap Allah, menuju Allah, dan bukan yang selain Allah. Ikhlas dan berserah diri sejak dini, insya Allah akan mengantarkan kita semua lebih total pasrah ikhlas berserah dan tenteram mengikuti kehendak Allah secara saling rela dan merelakan tatkala kematian tiba kelak.

Selamat jalan Gus Yus. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu. Semoga keluarga yang ditinggalkan dianugerahi kesabaran dan ketabahan. Amin. (Banyuwangi, 4 Juli 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.