Kaum Sepak Bola

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Berdakwah atau mengajak kebaikan tentunya harus sesuai dengan bahasa kaumnya. Berbicara dengan mantan preman tentu berbeda cara pendekatan bahasanya dengan mantan camat. Dan sekarang adalah musim sepak bola piala dunia 2018. Suka tidak suka, masyarakat dipukul rata dianggap menjadi kaum sepak bola yang seakan “wajib” berbicara sepak bola.

Seorang penceramah mau menyampaikan hendaknya hidup harus rukun, mumpung masih ada sisa-sisa Lebaran jangan lupa saling memaafkan, terutama yang kaya dan yang berkuasa haruslah memberi contoh terlebih dahulu bahwa hendaklah jangan bersikap angkuh kepada yang lemah dan tak berpunya, apalagi tega tak menyapanya dan tak mendatanginya –karena musim bola sehingga dianggap semuanya menjadi kaum sepak bola–sang penceramah harus mutar-muter dulu menyinggung sepak bola, berkelakar mengenai bola meski tak mengerti bola, baru kemudian memasuki pembahasan dakwah yang dimaksud.

Mau mimpin rapat, ngobrol ngopi, hingga merapat ke calon mertua bagi yang jomblo, hendaklah jangan sampai tidak berbasa-basi mengenai sepak bola. Segala sesuatunya seakan tersendat dan macet tanpa password memperbincangkan sepak bola ini, meskipun sekedar berucap: “Tadi malam unggul mana?”

Demikianlah hari-hari ini bahwa seakan-akan komunikasi tidak nyambung dan kurang enak kalau tidak ikut berpartisipasi meski sangat sedikit saja mengenai sepak bola akbar piala dunia 2018 kali ini.

Saya pun begitu. Bersama kawan pecinta bola harus bisa cas cis cus meski sebentar mengenai bola. Dia kalau lihat bola terkadang sampai maju kedepan televisi, berdiri, mundur, duduk lagi, dan berteriak terhadap jagonya. Saya turut berkomentar bahwa pemainnya staminanya jos, pantang menyerah, dan penuh semangat.

Kawan saya hanya tersenyum. Sangat terlihat jika saya sekedar basa-basi dan tidak ahli. Menghadapi kaum sepak bola yang satu ini mesti harus jago humor agar tak terlihat bahwa saya tak begitu suka sepak bola. Pokoknya saya guyoni mengenai sepak bola, hingga saya ceritakan waktu kecil kalau lihat sepak bola kelas desa yang enak itu jika kita sukses masuk tanpa karcis, naik tembok pagar, tidak ketahuan keamanan yang lagi bertugas, sambil ikut teriak-teriak provokatif: “Sikaaaatttt dan gooooollll…”

Seorang penasehat organisasi untuk menjelaskan kriteria menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana, hari ini harus mengaitkan terlebih dahulu dengan kerja hebat tim kesebelasan sepak bola yang tidak boleh egois, harus bersabar serta saling memberikan umpan, tidak menggiring bola sendirian, dan jika gol bukan berebut itu karena kehebatan kapten atau gelandang kanan, melainkan karena kekompakan dan kebersamaan dalam sebuah tim kesebelasan.

Kita semua sekarang menjadi kaum sepak bola yang memerlukan bahasa sepak bola untuk memahami segala hal, termasuk mengenai kalah menang menurut pandangan Tuhan, komentator, dan penjudi.

Selamat menikmati haru biru suasana sepak bola piala dunia 2018 kali ini. Termasuk keasyikan nonton bareng, ngopi-ngopi, serta guyon-guyon keakraban. (Banyuwangi, 3 Juli 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.