Orang Lebih Kaya Cenderung Enggan Berbagi

MEPNews.id – Ini hasil penelitian ilmiah tim Queen Mary University of London di Inggris yang diterbitkan dalam jurnal Basic and Applied Social Psychology. Yang bikin menghela nafas adalah, menurut penelitian itu, orang-orang yang mendapatkan lebih banyak ternyata lebih kecil kemungkinannya untuk mau berbagi kekayaan daripada orang-orang yang berpenghasilan lebih rendah.

Lindsay Dodgson, dalam Business Insider edisi 2 Juli 2018, mengabarkan peneliti melakukan eksperimen sosial dengan cara merekrut responden untuk bermain game dengan uang sungguhan.  Meski hanya game, kondisinya dibuat mirip seperti perilaku sehari-hari orang terhadap uang.

Responden dibagi berdasarkan ‘status rendah’ atau ‘status tinggi’ berdasarkan berapa banyak uang yang mereka taruhkan di awal (menandakan kekayaan). Kekayaan ini terkadang ditentukan secara kebetulan, di lain waktu itu didasarkan pada usaha. Dalam permainan, peserta antara lain memutuskan seberapa banyak uang yang ingin mereka simpan dan berapa banyak yang ingin mereka sumbangkan ke kelompok untuk dibagikan di antara semua orang.

Secara keseluruhan, responden dengan status yang lebih rendah berkontribusi lebih banyak terhadap kelompok daripada yang statusnya lebih tinggi. Responden yang mendapatkan label ‘status tinggi’ berkontribusi lebih sedikit. Bahkan kontribusi mereka makin sedikit ketika mendapatkan kekayaan melalui peluang-peluang usaha.

“Untuk individu dengan status tinggi, cara di mana mereka menapatkan kekayaan, apakah melalui sekadar kesempatan atau hasil usaha keras, tampaknya menjadi faktor kunci yang menentukan tingkat kerjasama mereka,” kata profesor Magda Osman dari Fakultas Ilmu Biologi dan Kimia di Queen Mary University yang menjadi penulis utama studi ini. “Ini tidak banyak terjadi pada individu berstatus rendah. Kontribusi mereka tidak ada bedanya dengan perilaku dalam permainan.”

Orang yang mendapatkan status tinggi melalui cara upaya dan kerja keras, daripada sekadar peluang dan kesempatan, akan lebih ingin mempertahankan kekayaan yang mereka hasilkan. Namun, ketika kekayaan terbatas, orang jadi memiliki lebih banyak insentif untuk bekerja sama.

“Intinya di sini adalah, bahkan jika seseorang bertindak secara kooperatif, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ini murni karena alasan altruis,” katanya. “Sebaliknya, Anda berharap dengan berkontribusi lebih banyak maka orang lain juga akan melakukannya, dan pada akhirnya Anda akan mendapat keuntungan balik darinya.”

Padahal, tidak ada jaminan bahwa orang lain di dalam permainan ini akan melakukan hal yang sama seperti yang Anda lakukan. Dengan kata lain, Anda mengambil risiko lebih besar karena berkontribusi lebih banyak saat Anda sebagai berstatus lebih rendah. Anda tidak tahu pasti apakah orang lain akan membalasnya.

“Temuan mengejutkan lainnya adalah empati tidak berdampak pada peningkatan perilaku pro-sosial, atau dalam game ini berupa menyumbang uang untuk kelompok,” kata Osman. “Ini penting karena ada banyak klaim bahwa empati adalah perekat yang mengikat orang untuk bertindak sosial. Apa yang kami tunjukkan adalah, ketika uang dianggap penting maka empati hampir tidak berperan dalam meningkatkan perilaku pro-sosial.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.