Manajemen Bergerundel Sekolah: Solusi Terakhir Yang Tak Berakhir

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

Sebagai kepala sekolah baru dengan berbagai macam idealisme diusungnya agar sekolahnya menjadi sekolah yang maju dan berprestasi. Berbagai macam pelatihanpun juga sudah diikutinya untuk menjadi bekal menjabat kepala sekolah. Materi peran kepala sekolah yang terangkum dalam EMASLIM (Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator) diterima dengan lapang dada ketika mengikuti pembekalan.

Materi yang bisa diharapkan sebagai ilmu yang diimplementasikan oleh Kepala Sekolah di satuan pendidikan. Dengan materi yang jos gandos ini diharapkan kepala Sekolah dapat menjadikan lembaga pendidikan yang dipimpinnya berkembang dengan baik dan benar oleh pejabat Nomer satu di sekolah.

Jabatan kepala sekolah yang diperolehnya dengan segala macam jalan harus dilalui agar mendapatkan posisi didambakan. Jabatan yang oleh sebagai kalangan dianggap sebagai puncak karier sehingga harus dicapai dengan berbagai macam perjuangan yang begitu berliku-liku.

Sebagai kepala sekolah baru tentunya sudah paham betul dengan berbagai macam tugas pokok dan fungsinya termasuk ilmu tentang Manajmen Berbasis Sekolah (MBS) yang diperolehnya ketika mengikuti pembekalan sebagai calon kepala sekolah. In Service Learning di ikuti dengan tertib dan lancar. On The Job Learning dilalui dengan baik dan cukup.

Manajemen Berbasis Sekolah menjadi satu keharusan materi yang dipahami sampai di luar kepala. Pemahaman MBS di luar kepala ini bisa menjadi kekuatan kepala sekolah dalam mengatur manajemen di Sekolah dalam mencapai visi,misi dan tujuan Sekolah yang di implementasikan melalaui Rencana Kerja Sekolah (RKS), Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS)

MBS ini diterapkan sudah cukup lama di sekolah-sekolah di Indonesia. Kalau dilihat dari asal usulnya,MBS mulai diperkenalkan tahun 1999 oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Proyek perintisan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), sehingga MBS merupakan model otonomi pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sampai hari ini kalau dihitung-hitung MBS sudah berjalan hampir 20 tahun dan kita sama-sama bisa melihat hasil diterapkannya MBS pada mutu pendidikan Indonesia saat ini. Apakah beranjak semakin maju atau stagnan?

Selama hampir 20 tahun pastinya yang berubah adalah banyaknya berbagai macam pelatihan MBS yang di ikuti oleh sekolah. Apakah pelatihan itu dilakukan oleh kementerian pendidikan ataupun kementerian agama. Masing-masing mengadakan pelatihan dengan versi sendiri-sendiri. Begitu juga lembaga-lembaga donor dengan berbagai macam programnya juga telah memberikan pelatihan MBS ini sampai pada AKAR-AKARNYA.

Bila dilihat secara seksama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupkan salah satu strategi wajib yang Indonesia tetapkan sebagai standar dalam mengembangkan keunggulan pengelolaan sekolah. Penegasan ini dituangkan dalam USPN Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 51 ayat 1 bahwa pengelolaan satuan pendidikan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Lha prinsip-prinsip ini yang diperlukan pengawalan dan pengetatan dalam pelaksanaannya melalui dukungan yang signifikan dari masyarakat baik dana maupun tenaga. Masyarakat yang mengulurkan tangannya untuk berbuat membantu sekolah. Masyarakat yang memberikan pendapatnya yang positif untuk membantu mengembangkan sekolah. Masyarakat yang ringan tangan untuk memberikan sumbangan ke sekolah, LSM yang mensuport pengembangan sekolah bukan malah menakut-nakuti kepala sekolah sampai KEPUYUH-PUYUH.

Kepala Sekolah paham betul mengenai Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dari keberhasilan sekolah dalam mencapai visi, misi dan tujuan sekolah. Materi yang diserap diluar kepala ketika In service Learning. Pokoknya belajar sampai ngelontok memahami MBS dari narasumber. Tetapi ketika kembali ke sekolah, implementasi MBS tidak seperti yang ada di dalam teori. Banyak hal yang harus dilakukan agar anggaran yang tersedia bisa cukup membahagiakan sesama.

Secara kasat mata MBS memang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan di satuan pendidikan karena dengan manajemen yang baik, maka tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien melalui perencanaan baik di RKJM, RKS, RKT dan RKAS. Inipun bisa jadi masalah bila anggaran yang harusnya untuk mencukupi ini tidak ada.

Akhirnya MBS yang ideal versi pelatihan dengan kenyataan di lapangan sangat berbeda terutama mensinkronkan antara program ideal dan tersedianya anggaran untuk menlaksanakan program yang sudah disusun di RKT (Rencana Kerja Tahunan). Dengan Sekolah versi gratis sekarang ini tentunya bagi sekolah sangat sulit merealisasikan program-program yang dirancang sebaik mungkin karena anggaran yang tersedia hanya cukup untuk operasional sekolah.

Akhirnya (Manajemen Bergerundel Sekolah) bisa dialami banyak sekolah ketika kepala sekolah dan tim pengembang sekolah membuat rancangan ideal sekolah tapi anggaran yang dibutuhkan tidak tersedia atau disediakan. Anggaran yang diperlukan untuk operasional sekolah saja masih ngos-ngosan untuk mencukupinya dari anggaran bantuan operasional sekolah yang begitu ribet aturannya dan laporannya.

Kepala sekolah memang bisa menerapkan MBS (Manajemen Bergerundel Sekolah) karena yang diprogramkan hanya melaksanakan operasional sekokah bukan pada pencapaian visi sekolah. Akhirnya kepala sekolah hanya bisa GERUNDEL atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan MENGGERUTU tanpa akhir. Mengapa hanya menggerutu tanpa akhir karena tidak ada yang bisa mengakhiri penderitaan ini di sekolah.

Penderitaan untuk melaksanakan Konsep tersebut berlaku di sekolah yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien. Dalam kerangka menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah di satuan pendidikan. Menggerutu dan konsultasi dengan pengawasnya bisa jadi malah diberi berbagai macam Permen yang justru menakut-nakuti sekolah untuk bisa keluar dari penderitaan kekurangan anggaran yang mensuport program sekolah untuk mencapai visi yang di inginkan.

Belum lagi sekarang ini adrenalin kepala sekolah ditambahi dengan saber pungli yang terus disosialisasikan dimana-mana termasuk pada satuan pendidikan. Kepala sekolah ketika mendengar kalimat saber pungli bisa NDREDEK gak karu-karuan yang bisa membuat jantung berdetak tidak beraturan bisa meloncat-loncat tanpa henti dan ini bisa menjadi hantu yang menakutkan dengan 58 item dan sudah beredar luas di masyarakat. 58 item itu bagi sekolah menjadi penghalang untuk berkreasi dan berinovasi bersama masyarakat.

Bisa dicoba membaca 58 item saber pungli yang tidak boleh dilakukan di sekolah: misalnya pada item Nomer 12. Membawa kue/makanan syukuran. WADAH WADAH, nek syukuran wae keno saber pungli, alamat sekolah gak bisa syukuran untuk mensyukuri nikmat yang telah dilakukan, padahal syukuran dan tumpengan merupkan budaya asli orang Indonesia yang biasa bersyukur atas nikmat dari Alloh SWT. Kalau urusan kecil begini saja sudah menjadi ketakutan tanpa batas kepala sekolah maka kewenangan sekolah otomatis akan berkurang dengan tragis.

MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang digarap akan sebagai solusi terakhir sebagai konsep meningkatkan mutu pendidikan yang sesungguhnya memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungjawabkan, mengatur, serta memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah hanya sebatas teori yang enak dibaca tapi sulit di implementasikan dengan baik karena adanya aturan yang menumpang dan menindih sehingga MBS Jadi solusi terakhir yang tiada berakhir karena ketidakcukupan anggaran mengimplemenyasikan RKS dan RKT.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.