Bodoh Bisa Menular

By: Syaifulloh

Penikmat pendidikan

MEPNews.id —-Hanya berbekal share berita-berita dari media yang menyanjung-nyanjung sang junjungan terus menerus dikeluarkan melalui beberapa Group yang di ikutinya. Group diskusi yang berubah menjadi saling mencaci dan membenci. Kebencian yang dipelihara sedemikian rupa sampai saling mengolok-ngolok tiada henti.

Mereka terus berupaya membuat berbagai gimana baik kalimat maupun gambar-gambar untuk memuaskan hati dirinya dan kelompoknya. Fenomena ini terus mengalami perkembangan seiring dengan masing-masing kelompok membangun kekuatannya. Saat pasukan mereka pertama kali membuat kubangan yang butek untuk membuat berita-berita dan isu-isu untuk menyerang individu maupun kelompok lain dalam memenangkan pertarungan. Mereka merajai dunia maya dan media-media kompradernya. Isi yang digoreng tidak ada yang membantahnya karena tidak adanya kelompok penyeimbang.

Isu-isu yang digunakan untuk menyerang kelompok lain terus bergema sepanjang waktu karena adanya saling bersahut-sahutan dalam menanggapi Isi yang disusun oleh kelompok mereka. Menimbulkan pencitraan yang kuat kepada para pemirsa baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan sekelompok suporter dalam membuat perbincangan di dunia maya.

Sekelompok orang berikut suporternya saat itu merasa hebat dan kuat sebagai penguasa tunggal di jagat dunia maya. Walaupun kebodohan yang disampaikan karena tidak ada informasi penyeimbang akhirnya kebodohan yang dipertontonkan terus menerus dianggap sebagai kebenaran. Kebenaran dengan menggunakan ukuran survey yang dipublikasikan secara gamblang.

Perkembangan dunia maya terus berjalan seiring dengan waktu serta pemikiran manusia. Muncullah kelompok dan individu-individu baru di sosial media dalam memberikan pencerahan-pencerahan kepada pembaca. Kelompok baru inilah yang bisa menjadi penyeimbang informasi yang dikeluarkan oleh kelompok kubangan butek yang terkesan membuat pembodohan melalui informasi-informasi.

Bisa juga kebodohan berasal dari berbagai Group yang anggotanya berasal dari kelompok dan pendukung yang memiliki latar belakang berbeda. Perbedaan ini menjadikan masing-masing individu terus menerus membela tiada henti kepada junjungannya.

Walaupun junjungannya salah dan tidak menepati janji-janjinya justru membuat para pembelanya mencari-cari alasan dengan menyalahkan orang yang tidak sependapat. Mereka akan bersama-sama membuly kepada kelompok yang mengkritisi berbagai kebijakan uang tidak sesuai dengan janjinya.

Pola pembelaan berlebihan kepada junjungan walaupun kebijakan itu bertentangan dengan peraturan yang sudah di sepakati bersama, tetapi bagi para pemuja tidak ada kebijakan dari junjungannya yang salah, semua menurut mereka benar sehingga lama kelamaan bagi orang lain bisa menimbulkan tanda tanya dan menganggap itu kebodohan yang di sengaja.

Pola kebodohan bersama yang selalu dimainkan lama kelamaan bisa menjadi semacam penyakit yang bisa menular kepada lainnya. Para pembaca akan mencermati setiap kalimat yang tidak sesuai dengan realita. Ketidaksesuaian yang seperti tidak sengaja terus dibela dengan menggunakan statement pembenaran akhirnya mempengaruhi orang yang memang sejak awal sudah berkumpul pada kubangan butek di tempat sama.

Sepertinya pembodohan dilakukan bersamaan dengan jilatan-jilatan dengan menggunakan kalimat hiperbola untuk mempengaruhi massa. Apabila jilatannya ada yang membela, maka saat itu jalan penularan kebodohan sudah dimulai. Tidak terasa oleh si korban pembodohan yang ikut-ikutkan menyuarakan ketidakbenaran. Mereka akan membela mati-matian ketidakbenaran dengan menggunakan segala macam cara.

Ada yang mengutip tulisan-tulisan dari penebar ketidakbenaran secara gamblang. Sambil membanggakan secara berlebihan tanpa melihat fakta yang terjadi di lapangan. Saat ini kesulitan ekonomi dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok akibat naiknya harga BBM.

Selalu ada alasan yang kuat untuk menguatkan pembodohan yang dialami rakyat sekarang ini. “Naik cuman segitu sudah mengeluh” jadikan rakyat yang kuat dijadikan pembenaran. Pembodohan yang dibungkus sedemikian rupa tapi tetap menunjukkan ciri-ciri orang bodoh.

Abu Darda ra berkata, “Tanda orang bodoh itu ada tiga: pertama, bangga diri (ujub). Kedua, banyak bicara yang tidak ada manfaatnya. Ketiga, melarang orang lain berbuat buruk, tapi ia sendiri malah melakukannya.” (‘Uyuunu Al Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).

Bila terus berkumpul dengan orang bodoh, lama kelamaan akan tertular dengan sendirinya tanpa disadari. Perlu kesabaran dari setiap individu untuk segera mentas dari kolam butek agar tidak tertular kebodohan yang ditularkan secara sempurna melalaui berbagai macam cara.

Untuk itu Islam memberi solusi agar menjadi baik berkawan dengan orang soleh dalam memilih teman, sesuai Hadits dari Rasululloh SAW “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah.

Pesan Imam Al Ghozali rahimahullah, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.