Bakda Banjir

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Tiga hari menjelang hari pemungutan suara Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 27 Juni 2018 mendatang adalah merupakan hari tenang. Masing-masing pasangan calon dilarang berkampanye. Alat peraga kampanye juga harus diturunkan. Bagai puasa mbisu dan tawakkal.

Disela kabar Pilkada Jatim, cuaca yang mulai mendingin dan berpotensi hujan dalam setiap harinya, baik hanya mendung seharian, hingga hujan yang sebentar, hujan yang lama, ada yang deras dan tidak deras, sehingga ancaman banjir pun mulai membayang, dan itu terjadi Jumat kemarin 22 Juni 2108 di Banyuwangi, tepatnya di kecamatan Singojuruh, dusun Garit desa Alasmalang Jawa Timur.

Terhadap musibah banjir mohon jangan berkata yang tidak enak. Perlukah orang ditimpa banjir agar mengerti jangan gampang-gampang berkomentar yang “tidak-tidak” tatkala banjir itu datang. Tak usah menceramahi terlebih dahulu sistem irigasi dan bendungan sungai yang semestinya dibeginikan, dan seterusnya, meskipun perlu juga untuk upaya alternatif dipencegahan berikutnya.

Malam di hari kedua setelah musibah banjir yang melanda disebuah kecamatan sebelah barat dari kecamatan tempat tinggal saya tersebut, meluncurlah saya kesana, berhenti di perempatan jalan, tak boleh masuk kecuali harus berjalan kaki karena jalanan masih berlumpur sisa banjir. Lantas terdengar sisa-sisa pembicaraan warga bahwa petang tadi mereka menolak secara baik-baik sumbangan air meneral yang ada gambar salah satu pasangan calon Gubernur demi menghindari politisasi banjir.

Tampak warga bersatu padu kerja bakti membenahi daerah yang terkena musibah banjir tersebut. Tatkala saya lihat dalam tayangan televisi lokal kabupaten seorang warga sembari berbenah bekerja bakti nyeletuk saat kamera menghampiri wajahnya: “Ealah Mas, dunyo biso digoleti…” Harta benda dunia masih bisa dicari kembali, katanya.

Mungkin kita bisa guyon secara kurang ajar: “Duniamu yang hilang itu seberapa rupiah? Jangan gampang-gampang mambanggakan nilai tawakkal diri sendiri jika mominal yang diikhlaskan hanya seharga jagung bakar di jalanan…” Jika dasarnya memang bakhil dan kikir, seharga jagung dijalanan pun akan digenggam mati-matian dunia akhirat.

Sederhana saja bahwa setelah adanya musibah banjir ini kita mau apa? Membiarkannya? Berkomentar menyalahkan ini itu? Ataukah datang ke lokasi, menolong mereka, ikut kerja bakti, memberikan shodaqoh secera terang-terangan menyebut nama atau lembaga, atau secara sembunyi-sembunyi asalkan tersalurkan? Atau menggalang dana secara jujur? Atau yang bagaimana?

Bakda musibah banjir masih menyisahkan tantangan dan langkah konkrit kemanusian yang tak main-main. (Banyuwangi, 25 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.