Bagaimana Saya Seharusnya Berdoa?

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Orang berdoa sebenarnya gampang. Bisa di mana saja dan kapan saja. Berdoa berarti meminta atau memohon kepada Allah tentang segala sesuatu yang terbaik. Sehingga, doa tidak terbatas oleh waktu-waktu tertentu. Meski ada waktu-waktu mustajab untuk berdoa, namun pada hakikatnya kita bisa berdoa kapan saja dan di mana saja.

Allah Maha Melihat, tentu bisa melihat kondisi apa saja yang terjadi pada diri kita saat berdoa kepada-Nya. Tentu saja, kita berdoa tidak harus hanya dalam kondisi sempit terjepit. Dalam kondisi lapang dan senang pun kita tetap harus berdoa. Yang memiliki kepentingan untuk berdoa bukanlah Allah, melainkan kita. Jadi, berdoa adalah kebutuhan kita.

Saya memiliki pengalaman yang barangkali menarik. Pengalaman itu tidak satu dua kali terjadi, tapi berkali-kali. Dulu, ketika masih kuliah S1, saya termasuk mahasiswa yang sering mengerjakan makalah sehari sebelum presentasi. Dosen sering menyebut saya aliran SKS (Sistem Kebut Semalam). Maaf, ini jangan dicontoh. Bisa dibayangkan risiko apa saja yang mungkin terjadi jika mengerjakan tugas model demikian.

Karena saya termasuk aliran SKS, banyak hal buruk bisa terjadi. Misalnya, ketika makalah sudah hampir jadi, tetiba komputer blank dan tidak bisa difungsikan lagi. Padahal, data belum saya copy, dan data itu merupakan satu-satunya. Ya, seperti itu memang risiko aliran SKS. Banyak hal bisa gagal bahkan pada saat-saat terakhir.

Dalam kondisi seperti itu, betapa bingungnya saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00. Artinya, sudah mepet dengan saat saya harus presentasi. Padahal, saya belum mencetak makalah, belum menggandakan dan belu belajar ini dan itu. Apa lagi, jadwal presentasi saya jam kedua. Tak pelak, saya tentu kalut dan bingung. Saking bingungnya, saya tinggal begitu saja komputer itu untuk sekadar menenangkan pikiran.

Usai shalat subuh, saya coba menghidupkan komputer tersebut. Tapi, tetap saja tidak bisa. Saya pun akhirnya pasrah, dan berdoa. Doa saya kurang lebih begini, “Ya Allah, kalau memang terhambatnya tugas ini karena kesalahan saya, maka ampunilah hamba.” Di samping itu, saya juga menyebut tentang kebaikan-kebaikan yang pernah saya lakukan. Ya, seperti doanya Ashabul Kahfi yang terperangkap dalam goa dan akhirnya bisa selamat karena berdoa dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang pernah mereka lakukan.

Aneh tapi nyata. Setelah berdoa dalam kepanikan yang luar biasa, akhirnya komputer tersebut bisa nyala. Langsung saja kesempatan itu saya gunakan untuk melengkapi makalah, kemudian segera mencetaknya. Begitu makalah sudah tercetak, betapa leganya. Saya tidak bisa bayangkan apa jadinya jika komputer tersebut tidak mau menyala dan harus diinstal.

Kisah di atas adalah contoh kondisi ketika berdoa. Namun, sebagaimana judul di atas, saya ingin menulis tentang bagaimana seharusnya berdoa. Oleh karena itu kita harus melajutkan uraian tentang adab dalam berdoa.

Dalam menguraikan adab tentang berdoa, saya banyak mengutip pendapat dalam buku Jalaluddin Rakhmat –terlepas kontroversi terhadapnya.

Adab merupakan bagian dari tanda orang muhibbin (pencinta Allah), kata Kang Jalal. Sebagai hamba yang cinta kepada Penciptanya, tentu adab adalah hal yang harus dilakukan terhadap-Nya. Menurut Jalal, tanda bahwa manusia beradab kepada Allah adalah sebagaimana yang tertuang hadis qudsi, “Hamba-Ku, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh Aku tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian kamu berbicara dengan sesama hamba-Ku yang lain, mengarahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan meninggalkan Aku?”

Jika memerlukan suatu kepada sesama manusia, kita kadang rela hingga menurunkan harga diri. Tapi, ketika dengan Allah, kita justru lalai. Kita abai beradab yang baik terhadap-Nya. Padahal, Allah adalah Pencipta kita. Maka, selayaknya kita memiliki adab yang baik kepada-Nya, khususnya dalam berdoa.

Dengan mengutip Alquran, Jalal memberikan beberapa contoh adab dalam berdoa. Pertama, doa Nabi Ayyub AS, “Tuhanku, kesengsaraan menimpaku sekarang ini, sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.” Kedua, doa Nabi Ibrahim, “Apabila aku sakit, Dialah yang memberikan kesembuhan.” Ketiga, doa Nabi Adam as, “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Ketiga contoh yang dikutip oleh Jalal di atas tidak ada satu pun yang mengandung perintah, apalagi mendikte. Itu artinya, dalam berdoa, kurang pas kiranya kalau kita memerintah atau menyuruh sesembahan kita. Sesembahan kita bukanlah anak buah yang bisa kita perintah apa saja semau kita.

Tapi, apakah salah kita berdoa dengan cara demikian? “Itu tidak salah, tetapi kurang beradab,” jelas Jalal. Lebih beradab lagi, kata Jalal, jika kita berdoa dengan hal-hal yang umum dan kita memasukkan ke dalam doa itu bukan saja diri kita sendiri, tetapi juga kaum muslimin dan muslimah seluruhnya.

Dengan melihat uraian ini, doa yang pernah saya panjatkan terkait komputer ngadat dan SKS itu termasuk doa yang kurang beradab. Karena masih ada kata “ampunilah” yang artinya memerintah. Harusnya doa saya kira-kira begirni; “Ya Allah, di dalam diri hamba ini penuh dengan salah dan dusta, Engkaulah Tuhanku Yang Maha Pengampun.”

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.