Menjejak Pendidikan yang Memanusiakan

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Membincang pendidikan yang memanusiakan merupakan tema yang sudah lama dilakukan. Dinegara negara barat terutama Amerika, perbincangan ini sudah dimulai sejak tahun 70 an. Pendidikan memanusiakan merupakan wujud kegelisahan sebagian orang ketika melihat pola pendidikan yang robotis. Pendidikan yang menjadikan anak anak didik seperti robot, bergerak mekanistis, sehingga lemah dalam membuat kreasi.

Beberapa pembahasan tentang ini lebih banyak merujuk pada temuan temuan teori seperti yang dilakukan oleh Pavlov dalam ” operant conditioning ” nya. Seolah manusia bisa dibentuk sebagaimana percobaanya pada anjing. Ada proses mekanistis yang akan berjalan setelah dilakukan pengkondisian perilaku melalui pola yang dibentuk. Nah beberapa hasil yang bisa kita lihat banyak terjadi di kantor kantor dan pabrik pabrik, dengan pola finger print, manusia bisa dibentuk menjadi disiplin dan tepat waktu.

Dalam perkembangan selanjutnya, kita mengenal dengan apa yang disebut sebagai ” SOP “. SOP sejatinya dimaksudkan sebagai sebuah panduan dalam mencapai tujuan dengan tahapan langkah langkah yang sudah ditentukan. Tapi sejatinya dalam SOP juga diharapkan mampu melakukan kreasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Namun sayangnya perilaku pendidikan yang membentuk manusia robotik dan mekanistik., tak mampu mendorong terjadinya kreasi, sehingga dalam pelaksanaannya, SOP minim kreasi.

Tentu ini menjadi masalah ditengah tengah perkembangan peradaban dan tehnologi. Sebagaimana yang disinyalir, bahwa anak anak kita sekarang memasuki generasi 4.0. Serba digital, sehingga mengalami kecepatan dalam informasi. Kecepatan merupakan sebuah keniscayaan menjalani hidup di zaman 4.0. Nah kecepatan itulah yang kadang kadang tak mampu diwadahi dalam SOP. Sehingga seringkali kecepatan mereaksi sebagai sebuah keniscayaan dianggap sebagai penyimpangan.

Pendidikan Memanusiakan

Perkembangan zaman yang semakin membutuhkan kesesuaian antara kebutuhan manusia dengan cara melakukannya. Pendidikan memanusiakan diharapkan menjadi sebuah jawaban terhadap kebuntuan kreasi. Maka lahirlah beberapa pemikir baru seperti Carl Roger dengan pendidikan humanistiknya. Maslow dengan teori kebutuhannya.

Dalam pelaksanaannya, pendidikan memanusiakan berusaha memahami apa yang menjadi kebutuhan anak anak, selanjutnya dibuat sebuah sistim yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Diharapkan dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya, mereka mengalami kenyamanan dalam belajar. Bisa dibayangkan, kalau dalam satu kelas jumlah muridnya lebih dari satu, maka dibutuhkan banyak model layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutihan.

Tidak akan mungkin pola pembelajaran seperti ini dilakukan oleh mereka yang statis, mekanistis apalagi anti perubahan. Pola pembelajaran seperti ini membutuhkan mereka yang dinamis, pro perubahan dan tentu guru yang pembelajar. Mereka akan selalu beruapay membangun kreasi kreasi baru dalam belajar karena ini memang merupakan bagian dari cara dia melayani murid muridnya.

Nah… adanya konvensi pendidikan yang memanusiakan yang ke – VI yang akan dilakasanakan di Kediri tanggal 1 Juli 2018 oleh ” Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik ” ( Old WA ), diharapkan akan menjadi ajang penegasan bahwa pendidikan yang memanusaiakan anak didik itu masih ada. Kita berharap bahwa dalam konvensi itu tidak hanya diisi dengan hal hal yang bersifat teoritis , tapi lebih banyak pada hal hal praktis dan contoh baik yang sudah dilaksanakan. Sehingga konvensi tidak menjadi ajang seminar, tapi menjadi ajang bertukar pengalaman dan hal baik yang sudah dilaksanakan.

Akhirnya apresiasi yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang sudah beramal baik menyediakan ladang persemaian gagasan dan pelaksanaan pendidikan yang memanusiakan. Hormat saya kepada semua, semoga Sukses.

Selamat berkonvensi!

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga Allah selalu memberkahi.. Aamien.

Surabaya, 22 Juni 2018

M. Isa Ansori

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.