Keluarga Nol Koma Satu

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.ie —Keluarga Nol Koma Satu ini sangat menyukai lagu lamanya Novia Kopaking yang berjudul Keluarga Cemara: “Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga…”

Putri dari keluarga Nol Koma Satu ini menyebut kedua orang tuanya yang makin subur fisiknya dengan angka nol dan angka satu. Sedangkan si putri sendiri menyebut dirinya yang masih kecil dan imut serta baru saja akan naik ke kalas dua dalam pendidikan di tingkat dasar dengan perumpamaan huruf koma, saking kelihatan masih kecil, imut dan lucunya ia.

“Kita ini keluarga Nol Koma Satu, Yah, hehehe….” kata putrinya suatu ketika sambil ketawa-tawa jelek kepada ayah dan ibunya tatkala duduk berjejer lurus, putrinya berada tepat ditengah kedua orang tuanya.

Pada musim piala dunia 2018 kali ini, keluarga Nol Koma Satu kurang menyukai bola, sehingga tak bisa membayangkan susah payahnya capek nggak karu-karuannya para pemain dalam berlatih sepak bola, namun tatkala tanding harus siap-siap dengan resiko kalah menang. Kalau menang tentunya menggembirakan, tapi kalau kalah bagaimanakah menyikapinya? Kenapa secapek itu berlatih dan tanding tapi kemudian berkemungkinan kalah atau benar-benar kalah? Hancurkah hatinya atau biasa saja karena masih ada hari esok yang penuh dengan kemungkinan?

Bagi keluarga Nol Koma Satu, mbok ya disabari saja, yakin dan optimis, santai saja, bahwa kalah dalam sepak bola adalah hal yang “sepele” belaka karena besok-besok jika bertanding lagi sangat punya kemungkinan untuk menang. So, santai sajalah. Rileks saja. Tak seseram jaman sekolah dulu dengan ancaman serius tak naik kelas. Tak naik kelas ini merupakan momok yang tak main-main dan sangat menakutkan bagi keluarga Nol Koma Satu. Meskipun tak punya trauma pengalaman tak naik kelas tapi empati dan rasa ibanya tinggi jika ada kabar siapa saja yang tak naik kelas.

Kalau selain tak naik kelas, ah itu sih kalah menang yang hanya persoalan waktu belaka. Santai saja nggak perlu iri hati serta marah-marah. Terkadang orang sana menang, besoknya orang sini yang menang. Begitulah bergiliran dan persoalan waktu. Tapi kalau jaman sekolah, tidak naik kelas kayak neraka yang kekal di dalamnya. Susah sumpeg depresinya bagai tak teratasi.

Begitulah menurut pandangan keluarga Nol Koma Satu, yang beranggapan neraka adalah jaman sekolah dengan resiko ada penjara yang berupa tak naik kelas. Meskipun tak pernah mengalami kenyataan tak naik kelas. Selain itu, sesudah lulus dari sekolah, apapun yang terjadi dianggap bak angin surga yang mengalir indah di sepanjang waktu. Padahal bagi yang lain, bisa jadi resiko tak naik di sekolah merupakan “neraka” yang sangat sebentar saja dan persoalan waktu belaka pula untuk kemudian menggapai pintu “surga” naik kelas, lulus, dan tak menjumpai lagi tinggal kelas dan naik kelas versi sekolahan.

Lantas, kalau yang ditakuti hanyalah tak naik kelas, begitu lulus dari sekolah, apakah benar keluarga Nol Koma Satu ini tak punya ketakutan apa-apa?

Ya jelas sangat punya. Ketakutan hanyalah alat untuk memaksa kita berusaha dan tahu diri. Tapi tidak kepada semua orang keluarga Nol Koma Satu ini menuturkan kisah sedihnya. Hal itu merupakan aib dan aurat rahasia yang harus disembunyikan. Sebagaimana kaum perempuan tidak boleh pamer paha bercelana pendek dan bertelanjang separuh buah dada sembarangan di akun media sosial pribadinya karena anak-anak, siswa-siswa, tetangga kanan kiri serta khalayak ramai akan penuh fitnah menikmatinya.

Yang disukai keluarga Nol Koma Satu ini adalah memutar musik. Kalau sepak bola kurang begitu disuka. Hampir dalam setiap hari di rumahnya, entah di jam berapa, pasti memutar DVD atau channel televisi yang khusus menampilkan lagu-lagu saja. Meskipun suaranya nggak enak, tapi akhir-akhir ini sukanya memutar lagu-lagu nostalgia terutama di handphone-nya. Salah satunya lagu lamanya Novia Kolopaking yakni Keluarga Cemara.

Semoga lagu Keluarga Cemara tersebut bisa menginspirasi kebahagiaan dan kebaikan bagi keluarga Nol Koma Satu serta bagi kita semua. Amin. (Banyuwangi, 20 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.