Akibat Terlena Ramalan Dunia Ketiga

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum.

MEPNews.id — “In the United State today—as many other countries—the collision of second and third waves creates social tensions, dangerous conflicts, and strange new political wavefronts that cut across the usual divisions of class, race, sex, or party. This collision makes a shambles of traditional political vocabularies and makes it difficult to separate the progressives from the reactionists, friends from enemies. All the old polarizations and coalitions break up (Alvin Toffler, 1980: 32).”

Cuplikan kutipan di atas, didapat dari Alvin Toffler (1980:32). Buku berjudul The Third Wave itu, sudah gamblang memberi kita ramalan jitu (saat itu) tentang masa depan dan terjadi sekarang. Buku yang mungkin kita remehkan dan lupakan. Jauh ke belakang waktu itu, tragedi di Amerika—termasuk banyak negara lain saat ini— gonjang-ganjing dan benturan ketidaksiapan kehidupan gelombang kedua (industri) dan gelombang ketiga (informasi), berakibat fatal.
Kita tahu, ramalan tiga gelombang kehidupan oleh Alvin Toffler. Pertama, kehidupan abad agraris. Kedua abad industri. Ketiga abad informasi. Semua telah terjadi. Namun, kita saat itu diingatkan. Jika negara belum tuntas abad kedua (industri) makan akan berbenturan dengan abad saat ini: informasi.
Mungkinkah dunia ini terlena? Sudah selesikah kita mengisi abad kedua (industri)? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sudah bisa menjelaskan kondisi saat ini. Yang jelas sudah di katakan bahwa tidak hanya di the United State saja, melainkan juga in many other countries. Benturan kehidupan tejadi jika setiap abad itu belum dituntaskan. Jika abad industri, ada bangsa yang belum tuntas industrialisasinya, mereka akan mengalami masalah besar.
Kita bangsa Indonesia harus waspada. Ternyata, ramalan dunia ketiga oleh Alvin Toffler (1980), sangat mencengangkan. Ini bisa terjadi di mana-mana. Bisa juga terjadi di negeri kita sendiri. Kita bisa mengamati secara cermat di penghujung zaman saat ini. Kehidupan sosial, ekonomi, dan utamanya politik. Banyak benturan (collision). Konflik itu sangat meruncing. Namun, kita harus waspada. Itu terjadi di mana-mana.
Sebagai contoh, akhir-akhir ini. Apa yang terjadi di negeri Paman sam, merupakan gambaran cuplikan kutipan di atas artikel ini. Saya jujur saja— akhir-akhir ini mengamati apa yang terjadi di Amerika. Di negeri Paman Sam. Gaya politiknya dengan presiden barunya—Mr. Donald Trump—merupakan gambaran ramalan dengan cuplikan kutipan itu.
Karena diprediksi terjadi di mana-mana. Tidak luput juga di negeri sendiri. Kita harus waspada. Konflik itu akan terus meruncing jika kita terlena. Kita harus waspada jika memang ramalan itu meajdi kenyataan dunia ketiga.
Jalan terbaik kita harus saling mengisi. Mengisi ketertinggalan abad kedua (industri), sambil mengisi adaptasi ke dunia ketiga (informasi). Lebih kompleks lagi dengan masyarakat digital. Arus informasi bisa menjadi generator benturan antarpribadi, gollongan, ras, dan juga agama. Itu sebabnya, jangan terlena. Gambaran itu semakin jelas.
Dalam negeri yang pluralistik, kunci utama hanyalah waspada. Pengendalian diri dan kembali ke cita-cita luhur kemerdekan bangsa. Benturan belum siapnya gelombang kedua dan ketiga berakibat ketegangan sosial, konflik berbahaya.
Gelombang politik baru yang konyol itu melabrak dimensi kehidupan normal, ras, jenis kelamin, termasuk golongan atau partai. Benturan ini membuat kekacauan dari politik tradisional dan bergeser menuju benturan antara yang progresif dan reaksioner, teman dan musuh. Semua polarisasi itu menciptakan benturan-benturan di antara kita (Alvin Tofler, 1980: 32).
Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Facebook Comments

POST A COMMENT.