Wis Wayahe VS Kabeh Sedulur Kabeh Makmur di Pilgub Jatim

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Sambil menikmati suasana Idul Fitri dengan beranjangsana kepada sanam famili antar kota di Jatim. Sambil menikmati jalanan macet luar biasa hebat di berbagai tempat sehingga perjalanan membutuhkan waktu yang lebih lama sekali dari tahun kemarin. Ruas-ruas jalan sudah tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang tumpek blek jadi satu dengan tujuan berlebaran ke sanak famili.

Ada yang berbeda edisi Idul Fitri tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu bersamaan dengan momentum Pilkada serentak yang akan digelar pada tanggal 27 Juni 2018. Gelar an ini menjadikan Idul Fitri kali ini diramaikan dengan banner para calon Gubernur Jatim yaitu pasangan WIS WAYAHE (Khofifah- Emil) dan KABEH SEDULUR KABEH MAKMUR (Syaifulloh Yusuf – Puti) di setiap jalan yang dilalui oleh pengendara.

Sosialisasi yang dilakukan oleh KPU ini menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan di markas kerajaan Majapahit menampakkan keseriusannya dengan kandidat untuk memperebutkan kedudukan di dunia. Perebutan kekuasaan yang bisa menjadi perebutan yang seru dan memunculkan emosional yang haru biru dari para pendukung masing-masing. Salah satu peserta pertarungan memperebutkan kekuasaan menjadi gubernur Jawa Timur adalah Khofifah yang saat mencalonkan masih menjabat menteri Sosial. Jabatan yang cukup bagus di pemerintahan di Indonesia. Sedangkan Syaifulloh Yusuf saat mencalonkan masih menjabat Wakil Gubernur Jatim.

Ketika memutuskan mengikuti pertarungan pemilihan gubernur Jatim edisi 2018 tentunya sudah memiliki kalkulasi tersendiri baik dari dirinya sendiri maupun dari kelompok pendukungnya baik dari Parpol maupun tokoh-tokoh yang berdiri untuk membantu memenangkan pertarungan ini. Bila melihat 2 kali kekalahan Pilgub Jatim yang dideritanya sudah tentu ini akan menjadi pelajaran terburuk yang pernah dialaminya. Bisa jadi ini pengalam buruk yang pernah dialami kandidat calon gubernur yang sudah mengalami kekalahan beruntun berturut-turut. Bisa jadi pengaman ini bisa menjadi pemicu pemilih untuk tidak memilih lagi untuk yang ketiga kalinya. Sedangkan Syaifulloh Yusuf dengan modal 2 kali kemenangan waktu berpasangan sebagai Wagubnya Pak De Karwo juga bisa menjadi modal dalam pertarungan edisi lanjutan ini.

Pemilih tentunya memiliki perhitungan sendiri untuk tidak memilih orang yang sudah mengalami kekalahan yang beruntun dalam pemilihan perebutan kekuasaan. Pilihan yang logis untuk tidak memilih lagi dari kandidat yang seperti haus kekuasaan. Suatu tekanan psikologis akibat dari hembusan informasi dan komunikasi dari berbagai pihak yang mengingatkan kondisi 5 tahun lalu.

Bagi pemilih yang memiliki motivasi besar, secara psikologis akan mendukung calon yang sudah gagal untuk mencalonkan lagi. Sikap orang yang memiliki persamaan latar belakang yang sama. Mereka akan terkesan kepada orang yang tidak patah semangat untuk mencapai harapannya. Para suporter ini akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu mencapai impian yang sempat kandas 2 kali. Sedangkan bagi kelompok pendukung pemenang akan menampilkqn informasi pengalaman memberi tahu sebagai Wagub selama 10 tahun di Jatim sebagai kekuatan bersama.

Kekandasan yang dicoba diulang lagi untuk yang ketiga kalinya. Di saat sedang menduduki kedudukan menteri lalu ditinggalkan untuk mencoba peruntungan dengan mengikuti pertarungan di Pilgub Jatim 2018. Bagi pemilih yang secara psikologis terbiasa dengan rasa bersyukur maka dengan majunya Khofifah untuk bertarung di Pilgub Jatim bisa menjadikan kesimpulan terbenarkan bahwa haus kekuasaan itu tidak ada batasnya. Bagi pemilih mayoritas yang terbiasa berfikir seperti ini maka ini akan menjadi malapetaka bagi Khofifah. Sedangkan bagi Syaifulloh Yusuf majunya memperebutkan posisi Gubernur juga ingin merasakan puncak kekuasaan nomer 1, Setelah sabar 10 tahun jadi nomer 2.

Pemilih yang memiliki pandangan seperti ini bisa jadi tidak senang dengan orang yang haus kekuasaan sehingga mereka akan kukuh dengan pandangan ini dan tidak bisa dibelokkan oleh bujuk rayu dengan berbagai macam bujukan agar memilihnya. Bila hembusan haus kekuasaan ini terus dihembuskan maka secara psikologis apabila menerima informasi ini secara masif dan terstruktur akan meme pengaruhi otak bawah sadarnya. Ketika informasi ini sudah masuk ke otak bawah sadarnya, maka ini akan tertanam kuat ke otak para pemilih dan itu sulit untuk tersadarkan.

Hitung-hitungan dukungan parpol bagi ke dua calon dalam Pilgub Jatim kali ini bukan segala-galanya dalam pemilihan gubernur. Dukungan parpol adakah salah satu kunci untuk mendaftarkan calon agar bisa terdaftar sebagai peserta Pilgub. Dukungan parpol yang besar San banyak bukan jaminan para calon untuk bisa memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan. Perebutan ambisi yang dibungkus dengan narasi demokrasi dari parpol-parpol pendukungnya yang kelihatan nyata apa yang akan dituju.

Belum lagi sinisme pemilih kepada parpol pengusung yang tersandera kasus yang menggemparkan secara Nasional. Hal ini juga bisa menjadi gerogotan suara yang tak terbatas dan sulit untuk diangkat lagi menjadi isu yang positif sebagai pendulang suara.

Banner yang sudah mulai beredar di Jatim melalui parpol-parpol pendukungnya juga hanya bisa menjadi angin lalu bagi para pemilih. Banner yang menampilkan penguasa saat ini sebagai background bisa jadi hanya untuk sebagai penggembira agar kekuasaannya diteruskan oleh penerus yang didukungnya.

Selanjutnya bila calon pemilih yang sudah jelas melihat wujudnya cagub jatim ini dengan dukungan parpolnya mereka yang kontra dan antipatia pada parpol-parpol yang ada, ini juga akan menjadi penggerus suara yang signifikan. Otomatis dukungan suara akan berkurang dalam jumlah besar sesuai dengan kesejarahan pemilih.

Pola komunikasi dengan menggunakan tagline WIS WAYAHE yang terpampang jelas di banner menunjukkan kemampuan dan kemapanan personal untuk dapat mere but kekuasaan di Jatim. KABEH SEDULUR KABEH MAKMUR tagline dengan menggunakan pola komunikasi saling membutuhkan antar individu juga memberikan informasi kepada calon pemilih.

Pada Idul Fitri kali ini WIS WAYAHE danKABEH SEDULUR KABEH MAKMUR menjadi perbincangan cukup menarik di setiap pertemuan. Dominasi komunikasi dari para pengamat politik orang-orang yangbtidak memiliki ambiai tertentu rasanya lebih renyah untuk di dengarkan sebagai hiburan berhari raya di sanak famili yang Kebanyakan dari mereka adalah pemilih mengambang karena tidak tertarik kepada kedua calon.

Para pemilih yang masih mengambang dengan jumlah prosentase yang cukup besar akan menunggu saat yang tepat dapat menggoyangkan pendirian mereka. Anak-anak tanggung yang tidak senang dengan komunikasi yang bertele-tele dan menggurui.

Adu kuat wis Wayahe dan kabeh Sedulur kabeh makmur untuk mendapat dukungan dari para pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya pada tanggal 27 Juni 2018. Sudah dapat dipastikan suasana lebaran kedua calon ini akan di ikuti suasana hati dag dig dug sampai pada penghitungan suara untuk melihat pemenangnya. Bila Khofifah jadi Pemenang maka akan mencapai cita-citanya meraih jabatan Gubernur, tapi kalau kalah lagi, akan mengalami kekalahan yang ketiga kalinya pada pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Sebaliknya jika Syaifulloh Yusuf Memenangkan pertarungan ini, maka ini akan menjadi penerus kekuasaannya menjadi Gubernur Jatim.

Mari bersama-sama menikmati hiburan ini sampai tanggal 27 Juni 2018 sebagai pembuktian siapa terkuat memperoleh dukungan antara WIS WAYAHE VS KABEH SEDULUR KABEH MAKMUR di Pilgub Jatim. Adu gengsi antara pendukung kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Pertarungan gengsi yang cukup tinggi di wilayah Jatim ini.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.