Lebih Sehat Mana; Jalan Atau Lari?

MEPNews.id – Pernah Anda bertanya-tanya apakah harus lari maraton atau berjalan jauh untuk tetap sehat? Pertanyaan ini sulit dijawab, terutama ketika berbagai faktor seperti frekuensi, kecepatan, BMI, dan kondisi kesehatan juga harus dipertimbangkan.

Kedua aktivitas itu direkomendasikan untuk gaya hidup sehat. Maka, Sadhana Bharanidharan menulis di Medical Daily edisi 19 Juni 2018, akan sangat ideal untuk menggabungkan kedua aktivitas itu berdasarkan kondisi fisik masing-masing orang.

Ada penelitian di Denmark yang menemukan, pelari dapat hidup rata-rata beberapa tahun lebih lama daripada non-pelari. Tentu saja, lari terasa lebih menuntut pada tubuh daripada berjalan. Lari juga membawa hasil lebih cepat utnuk tujuan kesehatan tertentu.

Beberapa penelitian lain juga mengisyaratkan berlari lebih efektif bagi mereka yang berusaha mengontrol berat badan secara efektif. Untuk mengurangi lemak perut (lemak visera), para ahli merekomendasikan berlari jarak pendek ke dalam rutinitas olahraga Anda.

“Bisa mengurangi lemak visera saja, bahkan tanpa harus menurunkan berat badan, sudah dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan,” kata Dr Carol Ewing Garber, profesor studi biobehavioral di Columbia University Teachers College di Amerika Serikat. “Lari seringkali merupakan langkah lebih besar dalam intensitas daripada berjalan. Jadi, sebaiknya tambahkan lari ke rutinitas Anda secara bertahap.”

Tetapi penelitian lain di Amerika Serikat menunjukkan, pelari mungkin berisiko tinggi cedera dibandingkan dengan pajalan kaki. Orang yang punya radang sendi atau masalah sendi harus lebih dulu mendapatkan nasihat dokter. Berlari dapat memperburuk kondisi mereka karena menambahkan tekanan pada sendi.

James O’Keefe, ahli jantung di Saint Luke’s Mid America Heart Institute, menekankan terlalu banyak berlari dapat memperburuk kesehatan. Tubuh kita tidak dapat lagi menahan aktivitas yang sangat menuntut pada titik tertentu. “Setelah 60 menit aktivitas fisik intens, termasuk berlari, bilik jantung mulai meregang dan mengalami kelebihan beban kemampuan otot untuk beradaptasi,” katanya.

Di sisi lain, berjalan biasanya diremehkan dalam hal berapa banyak dampaknya pada kesehatan. Padahal, berjalan hampir sama efektifnya dengan berlari dalam hal mengurangi risiko hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Mereka yang ingin memetik lebih banyak manfaat berjalan kaki juga dapat melakukan aktivitas di perbukitan atau naik dan turun tangga.

Untuk orang dewasa kegemukan, menggunakan treadmill dengan kecepatn sedang mungkin pilihan terbaik. Studi pada 2011 menyimpulkan, “Berjalan dengan kecepatan relatif lambat menuju kemiringan sedang adalah strategi olahraga potensial yang dapat mengurangi risiko cedera musculoskeletal atau penyakit patologis sekaligus memberikan stimulus kardiovaskular yang tepat pada orang dewasa obesitas.”

Peter Schnohr, ahli jantung klinis, merekomendasikan penggabungan dua aktivitas itu untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kondisi masing-masing. “Yang paling baik adalah dua hingga tiga hari per minggu lari dengan kecepatan lambat atau rata-rata. Berlari setiap hari, dengan kecepatan tinggi, lebih dari 4 jam per minggu, tidak menguntungkan,” katanya.

Mengubah intensitas dengan berjalan cepat juga bisa menjadi pilihan sempurna bagi mereka yang memilih untuk tidak berlari. Ada penelitian menunjukkan, orang-orang yang berjalan cepat memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berjalan lambat.

Jadi, pilih lari atau jalan? Silakahn cocokkan dengan kondisi dan kebutuhan diri.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.