Adaptasi atau Mati

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Kata-kata tajam judul di atas dikatakan Andy Grove dalam buku Only the Paranoid Survive. Lengkapnya, “Titik-titik perubahan strategis menghadirkan janji serta acaman. Dalam perubahan mendasar seperti inilah ungkapan ‘adaptasi’ atau ‘mati’ dipahami dalam maksud yang sesungguhnya.”

Kata-kata Grove itu memperingatkan kita betapa sadisnya perubahan. Sama sekali tidak memberi ampun bagi siapa saja yang tidak bisa beradaptasi. Kalau tidak bisa beradaptasi, berarti mati. Nampaknya kaku, tanpa pilihan. Tapi, memang begitulah. Tidak ada alternatif. Pilihan hanya dua. Yaitu adaptasi atau mati.

Ungkapan keras itu sekaligus sebagai bentuk ‘perhatian’ tentang pentingnya kesiapan kita dalam menghadapi segala kemungkinan dalam hidup, khususnya perubahan. Pada bidang apa pun, kita dituntut siap. Tidak ada alasan, apalagi keluhan. Namun, kesiapan itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.

Kata ‘adaptasi atau mati’ menjadi kunci jika dikaitkan dengan aktivitas apa pun yang dikerjakan manusia. Tidak saja individu per-individu, namun juga kelompok. Artinya, adaptasi berlaku untuk semuanya. Adaptasi terhadap perubahan tidak hanya untuk kelompok bisnis, tetapi bisa juga terhadap lembaga pendidikan.

Sekarang, ambil contoh ‘adaptasi atau mati’ dikontekstualisasikan terhadap pergaulan orang perorang.

Dulu, ketika awal booming media Whatsapp, ada seorang teman yang berseloroh, “Orang di tempat kerja sudah bertemu kok masih menggunakan WA.” Nadanya, terkesan tidak setuju jika teman-teman menggunakan media sosial. Ia seolah alergi dengan media tersebut.

Berselang tidak begitu lama, ternyata WA mendunia. Disertai kemudahan yang ditawarkan, orang menjadi semakin menggila terhadap media satu ini. Berselang beberapa waktu saja, sudah hampir semua teman dalam satu tempat kerja memiliki WA. Segala informasi menjadi mudah untuk disampaikan dan diperbincangkan. Nampaknya, mulai terjadi perubahan tema pembahasan dalam setiap diskusi.

Tentu, bagi yang tidak memiliki media tersebut, tidak bisa mengikuti perkembangan dan sama sekali tidak mendapatkan informasi. Nah, dari perubahan yang terjadi, jika ingin eksis, tersambung, dan bersatu, maka mau tidak mau ia harus beradaptasi dengan perubahan. Kalau tidak, ia akan mati; dalam arti tidak bisaturut berkembang karena minim informasi.

Akhirnya, teman saya tadi pun memiliki WA, dan juga tidak kalah aktif dengan teman lainnya. Berarti ia tidak ingin mati.

Kemudian, ‘adaptasi atau mati’ ini bisa dikontekstualisasikan dalam dunia pendidikan zaman now. Tentu adaptasi menjadi amalan wajib yang harus dilakukan. Saat ini penyelenggaraan pendidikan seperti kompetisi yang saling bersaing dan berebut. Meski tidak terlalu nampak atau ditampakkan, aktivitasnya jelas cenderung mengarah pada kompetisi ini. Diakui atau tidak, faktanya demikian.

Nah, seiring perubahan zaman dan tren yang berkembang, lembaga pendidikan pun tidak bisa menghindar dari dampaknya. Apa pun kini seolah tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Akhirnya, pendidikan juga tidak luput dari sentuhan teknologi. Dulu, pendidikan bersifat konvensional. Sekarang, pendidikan menjadi berbasis teknologi.

Termasuk di dalamnya adalah guru. Semua perubahan dalam pendidikan, maka guru lah yang akan ketimban sampur (menjadi seksi sibuk). Misalnya, jika sekolah berubah menjadi berbasis teknologi, maka guru harus belajar menguasai teknologi. Upaya tersebut merupakan tindakan adaptasi. Jika tidak, maka akan mati.

Matinya lembaga adalah apabila tidak mengikuti perkembangan yang ada, baik dari SDM, sarana prasarananya, program kerjanya, maupun pelaksanaanya. Apabila lembaga mampu dan cepat beradaptasi, SDMnya sering di-upgrade, sarana prasaranya selalu diperbarui, program kerjanya kontekstual dengan zaman, dan pelaksanaannya pun apik, maka tindakan ini disebut adaptasi.

Seperti kata Scott D. Anthony, “Lembaga akan beradaptasi saat karyawan beradaptasi. Artinya, sudah menjadi keharusan bagi setiap dari kita untuk tidak hanya memikirkan bagaimana kita melakukan pekerjaan dengan baik hari ini, tetapi juga bagaimana kita dapat mengubah dan mendefinisikan ulang tugas-tugas yang kita kerjakan. Dan kita harus melakukan ini bukan saja pada pekerjaan kita, tetapi juga di rumah tangga kita.”

Memang, untuk beradaptasi tidak selalu mudah, tantangannya berat. Misalnya, pola lama yang bersemayam di benak dan mindset kita yang kadang turut nggandoli agar kita tidak melakukan penyesuaian. Juga, sikap eksklusif kita yang kadang turut menjadikan pikiran kita susah menerima hal yang baru.

Agar kita bisa beradaptasi dan menghidar dari kematian (ketertinggalan), maka kita seharusnya membangun sikap inklusif (terbuka). Tapi dengan catatan, tidak permisif, alias menerima tanpa saring.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.