Mudik Menuju Tuhan

Oleh: M. Yazid Mar’i

MEPNews.id —–Mudik dapat dimaknai sebagai kembali ke kampung halaman dalam kontek budaya. Tetapi tentu tidak sekedar berhenti sampai disini, mengapa? Karena jika hanya sekedar pulang kampung seseorang tentu tidak mungkin akan bersusah payah menerobos panas dan menembus padatnya arus lalu lintas.
Keinginan mendalam akan kesadaran sebagai manusia yang tidsk lepas dari salah itulah yang menggerakkannya untuk.”sungkem” meminta maaf atas kesalahan kepada orang tua yang telah membuatnya ada di dunia ini, famili, sanak keluarga, teman yang dalam hubungan sosial, yang disadari tidak akan lepas dari gesekan~gesekan yang menimbulkan marah, dengki untuk dilepaskan semua, untuk dinolkan, setelah sebulan penuh berpuasa menahan nafsu keduniaan, dengan hadiah ampunan dosa selama setahun pada Tuhannya.

Maka tidaklah kliru jika idul fitri juga dimaknai sebagai kembali ke fitrah sebagaimana hadist Nabi yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala Allah niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu” (Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Dan predikat insan bertaqwa inilah telah menjadikannya “imtitsâlu al-awâmir wa ijtinâbu nawâhi lî al-tiqâihi ’an al-nâr, yaitu menjalankan segala perintah Allah, menjauhi segala larangan-Nya, dan (hasilnya) dijauhkan dari siksa neraka.

Disinilah seluruh sifat dan hal yang baik mesti dimiliki dan dilakukan oleh mereka yang taqwa sebagai buah berpuasa seperti jujur, amanah, adil, baik sengan tetangga, serta segala kebaikan yang membawa kemaslahatan hidup. Dalam bermuamalah dilakukan secara halal dan baik, termasuk dalam berniaga dan berpolitik. Orang bertaqwa bahkan harus berbuat baik dengan sesama meskipun berbeda agama, suku, ras, dan golongan sebagai ihsan dalam bermuamalah-dunyawiyah.
Allah sungguh memberikan penghormatan tinggi kepada orang bertaqwa,   ”inna akramakum ’indallahi atqakum”,  orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang bertaqwa di antara kamu” (QS.Al-Hujarat: 13).

Karenanya taqwa sebagai puncak tertinggi menjadi keutamaan pribadi setiap muslim sebagai buah dari berpuasa dan segenap ibadah di bulan Ramadhan. Taqwa yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu bertaqwa dalam jiwa, pikiran, dan tindakan. Bukan bertaqwa dalam batas kata-kata dan retorika.

Insan bertaqwa selalu bertaqarrub kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan benar, baik, dan patut sesuai tuntunan ajaran Islam. Ketaatan dalam beribadah harus membuahkan ihsan, termasuk dalam menahan marah dan berujar dengan kata-kata yang baik. Insan muttaqin itu senantiasa beriman, berilmu, dan beramal shalih dengan sepenuh hati untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Orang bertaqwa itu hidupnya bersih lahir dan batin,  disiplin, tanggungjawab, taat aturan, suka bekerja keras, berani dalam kebenaran, rasa malu ketika salah, serta memiliki kehormatan dan martabat diri yang tinggi selaku manusia yang mulia dan utama. Orang bertaqwa itu pandai bersyukur atas segala nikmat Allah sekaligus sabar manakala memperoleh ujian, musibah, dan hal yang tidak menyenangkan dalam hidup. Orang yang bertaqwa senantiasa berprilaku ihsan kepada kepada saudaranya’ sebagaimana Nabi SAW bersabda yang rrtinya: Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada. Dan ikutilah kejelekan dengan menggantinya dengan kebaikan. Dan berahlaq dengan sesama manusia dengan ahlaq yang baik.

Karenanya, makna mudik tidaklah sekedar kembali ke ke kampung, tetapi kembali ke Tuhannya, mudik menuju Tuhan. Menuju sikap dan perilaku ihsan sebagai kebajikan yang utama.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.