Rahasia Halldorsson Patahkan Penalti Messi

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo

MEPNews.id – Mendadak, nama Hannes Halldorsson jadi perbicangan di jagad sepakbola dunia. Pantas saja karena kiper Islandia itu bisa menahan eksekusi penalti Lionel Messi striker terbaik Argentina. Aksi itu menghasilkan skor imbang 1-1 dalam pertandingan Grup D di putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia.

Bagaimana caranya Halldorsson bisa menebak arah bola tendangan Messi? Secara ilmiah, bisa jadi itu karena kemampuan visi imajiner si kiper.

Penampilan olahragawan di lapangan dapat mengubah cara mereka melihat sesuatu, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kinerja dia selanjutnya. Seorang pemain sepakbola yang mencetak gol akan melihat target sebagai lebih besar daripada yang sebenarnya sehingga membuatnya lebih mudah untuk mencetak gol lagi. Jika ia gagal mencetak gol, ia akan merasa sasaran lebih kecil dan karenanya lebih sulit untuk menembak.

“Interaksi antara tindakan dan persepsi ini terjadi secara tidak sadar, sehingga kita memiliki sedikit atau tidak ada kendali atas hal itu. Semuanya bersifat naluriah,” tulis Mo Costandi di The Guardian edisi 18 Agustus 2014 mengutip penelitian psikolog

Tapi bisakah pemain mempengaruhi tindakan lawan dengan sengaja sehingga mengubah persepsi lawan? Jawabannya; “Ya.” Ada penelitian kecil yang dipublikasikan pada 2008, bahwa kiper dapat mempengaruhi arah dan akurasi tendangan penalti lawan dengan cara mengadopsi postur tubuh meniru ilusi optik klasik Müller-Lyer.

ilusi mayer

Ilusi Müller-Lyer. Meski garisnya sama panjang, tapi terkesan lebih panjang atau lebih pendek karena pengaruh arah sudut ujungnya.

Penelitian terhadap ilusi Müller-Lyer berfokus hampir secara eksklusif pada bagaimana orang mempersepsikan figur geometris abstrak dalam kondisi laboratorium, dan jarang mengkaji bagaimana ilusi itu dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Psikolog John van der Kamp dari Institut Riset MOVE di Fakultas Ilmu Gerak Manusia, Vrije Universiteit di Amsterdam, Belanda, dan psikolog olahraga Rich Masters dari The University of Hong Kong, mencoba menguji apakah penjaga gawang dapat mempengaruhi perilaku penendang penalti dengan mengadopsi postur yang meniru ilusi Müller-Lyer.

Dalam sepak bola, gawang berukuran lebar delapan yard (7,3 meter) dan tingginya delapan kaki (2,4 meter). Tendangan penalti diambil dari titik hanya 12 yard (10,9 meter) di depan mulut gawang, dengan kecepatan bola rata-rata 70 mil (113 km) per jam. Dalam situasi ini, penjaga gawang memiliki waktu sangat sedikit untuk bereaksi sehingga peluangnya sangat berat untuk menahan bola. Namun, kiper dapat mencoba untuk mengantisipasi di mana bola akan mengarah dengan menggunakan informasi membentuk gerakan penendang penalti.

Pada 2007, van der Kamp dan Masters menunjukkan penjaga gawang juga dapat mempengaruhi arah tendangan penalti dengan cara berdiri sedikit di luar tengah gawang. Dalam studi lanjutan, mereka ingin mengetahui apakah postur yang meniru ilusi Müller-Lyer dapat mempengaruhi tindakan para penendang penalti dengan cara mengubah persepsi mereka tentang ukuran jangkauan penjaga gawang.

Maka, mereka merekrut 15 mahasiswa dan menunjukkan foto-foto kiper yang berdiri dalam salah satu dari empat postur berbeda. Postur ‘arms-out’, dengan lengan terbentang ke samping sejajar bahu. Postur ‘arms-up’ dengan lengan mengarah ke atas dan ke luar. Postur ‘arms-down’ dengan lengan keluar dan mengarah ke bawah. Postur ‘arms-parallel’ dengan lengan sejajar di samping tubuh.

Setiap mahasiswa peserta penelitian ditunjukkan masing-masing foto ini lima kali, dalam urutan acak. Setelah melihat setiap foto, mereka diminta memperkirakan tinggi kiper dengan membuat tanda pada garis vertikal pada selembar kertas.

Hasilnya, para peserta melebih-lebihkan ketinggian penjaga gawang dalam postur arms-up dengan rata-rata 0,24cm. Mereka merendahkan ukuran kiper yang dalam postur arm-down dan arms-parallel dengan rata-rata 0,35 dan 0,51cm. Padahal, ukuran sebenarnya adalah sama karena kipernya orang yang sama.

Setelah menetapkan bahwa postur penjaga gawang dapat mempengaruhi persepsi ukuran mereka, para peneliti menjalankan eksperimen lain yang dirancang untuk menguji bagaimana hal ini dapat memengaruhi akurasi bidikan. Dalam studi awal, peneliti bisa menunjukkan para peserta penelitian lebih akurat dalam melempar daripada menendang. Karena itu, mereka menggunakan simulasi lemparan tangan sebagai gantinya tendangan penalti.

Dalam percobaan ini, 24 mahasiswa lainnya diminta melemparkan bola pada gawang handball yang diproyeksikan ke layar bersama salah satu dari empat foto penjaga gawang yang digunakan dalam percobaan sebelumnya. Para peneliti menggunakan kamera video berkecepatan tinggi untuk merekam lintasan setiap lemparan, dan menggunakan rekaman itu untuk menentukan di mana setiap lemparan mendarat relatif terhadap garis tengah kiper.

Ketika foto menunjukkan penjaga gawang dalam postur arms-up, para peserta penelitian menganggapnya lebih tinggi dari yang sebenarnya. Akibatnya, mereka melempar bola lebih atas daripada tubuh gambar kiper, dengan rata-rata hampir 4 cm. Tapi, ketika ditunjukkan kiper dalam postur arm-down atau arms-parallel, para peserta penelitian menganggap ia lebih kecil atau pendek, dan melempar bola lebih dekat ke arahnya.

Hal ini menunjukkan postur yang membuat kiper tampak lebih besar atau tinggi akan mengakibatkan penendang penalti mengarahkan bola menjauh dari tubuhnya. Sedangkan postur yang membuatnya tampak lebih kecil atau pendek lebih mungkin menghasilkan tendangan penalti yang ditujukan lebih dekat kepada mereka.

Karenanya, penjaga gawang dapat mempengaruhi tindakan penendang penalti, sehingga meningkatkan kemungkinan dapat menahan tendangan penalti, dengan cara menyesuaikan posisi tubuh mereka. Van der Kamp dan Masters menyimpulkan, “Analisis terhadap kehidupan nyata pada penjaga gawang dapat mendukung penjelasan ini.”

Bagaimana postur Halldorsson saat bisa menahan bola tendangan Messi? Menjelang eksekusi, ia menunduk dan tubuhnya agak membungkuk dengan kedua lengan di samping tubuh lalu menepukkan telapak tangan. Posisi itu menimbulkan kesan tubuhnya dan jangkauannya mengecil dan memendek. Ini bisa mempengaruhi Messi untuk tidak harus menembak jauh ke sudut gawang. Pada saat yang sama, Halldorsson juga membuat antisipasi yang tepat dengan menggerakkan tubuh ke kanan saat Messi melepaskan tembakan. Gerakan ke kanan ini pas sehingga tangannya bisa menepis bola. Andai salah antisipasi dengan menggerakkan tubuh ke kiri, meski berhasil mempengaruhi Messi agar menembak tidak terlalu jauh darinya, tentu bola akan tetap masuk ke gawang.

Facebook Comments

POST A COMMENT.