Percikan Khutbah Idul Fitri

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum.

MEPNews.id —- Ada sebuah percikan indah bisa didapat dari khutbah sholat Ied, di penghujung idul fitri. Khotib oleh Ustadz Advan Navis Zubaidi. Ustadz muda ini sedang menyeselaikan doctroral degree di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda. Khutbahnya menggema dalam keheningan. Di sebuah masjid tempat tinggal saya, khotib sholat Ied ini memberikan percikan-percikan religi yang aktual. Aktual, dalam arti untaian dan paparannya mengena situasi kekinian.

Percikan khutbahnya menyentuh bagi siapa pun. Dalam masyarakat modern saat ini, komunikasi sudah berbasis teknologi. Media sosial: WA, Facebook, dan sejenisnya masuk dalam salah satu isi khutbah. Isi WA dan facebook juga jadi referensi bahasan. Inti percikan khutbah lebih banyak mengingatkan rasa persaudaraan. Percikan rasa kasih sayang. Nasihat untuk rasa saling menghormati. Rasa saling mengasihi.

Perbedaan itu indah. Kita diciptakan di dunia itu aneka ragam. Perbedaan bisa beda ras, suku, bahasa, tradisi, tatacara, dan agama. Bahkan sesama agama ada pula perbedaan cara. Namun, kunci utama, bukan memperuncing perbedaan. Strategi hidup itu justru menonjolkan saling menghormati karena perbedaan. Tanpa perbedaan, kita tidak tahu, sejauh mana nilai rasa menghormati dengan sesama. Secara implisit, bisa saja kita ini diuji seberapa jauh ketaqwaan kita melalui kesabaran dan saling menghormati dalam kehidupan dengan perbedaan.

Beda itu sudah given. Beda itu sudah takdir Tuhan. Jika kita menentang perbedaan, berarti sama dengan menentang takdir. Ada ketegasan dalam khutbah waktu itu. Bahwa tidak baik jika ada orang yang merasa paling benar. Tidak dibenarkannya jika orang merasa paling suci. Tidak dibenarkan juga jika kita merasa paling benar dan orang lain itu salah.

Kita merasa paling suci, sedangkan orang lain lebih kotor dan buruk. Padahal, yang kita takutkan, jika orang yang dianggap lebih buruk dan salah itu justru lebih baik dan lebih benar. Itu sebabnya, tidak ada manusia yang paling benar. Perbedaan itu bukan menjadi penghambat. Perbedaan itu adalah takdir Tuhan. Tugas kita adalah menghormati sesama manusia karena berbeda itu.

Kemudian, ada percikan dalam khutbah idul fitri itu. Dijelaskan juga tanda-tanda keberhasilan ibadah puasa sebulan. Jika di hari fitri (suci) belum ada tanda perubahan, berarti ibadah puasa belum berhasil. Perubahan dari sikap kurang baik menjadi lebih baik. Perubahan dari perilaku kebiasaan buruk menjadi baik. Perubahan dari baik menjadi lebih baik lagi. Perubahan itu harus ada jika ibadah puasa sebulan itu dikatakan sukses.

Berbagai postingan dan share berita di media sosial (WA dan Facebook, misalnya) bisa saja masih tetap. Tetap dalam arti pesan-pesannya saling ejek mengejek. Pesan-pesannya masih saling menghina. Pesan-pesannya masih mengakibatkan kebencian. Semua itu bukan tanda-tanda suci. Kita boleh beda pandangan politik, tetapi kita tidak boleh memutuskan silaturohim.

Hidup itu diisi dengan sifat-sifat yang baik. Hidup itu menjunjung pertalian persaudaraan. Hidup itu bukan membenci. Hidup itu juga bukan menghina dan mencaci maki. Semua yang ada di sosial media, merupakan wujud hati kita. Oleh sebab itu, sudahkah dalam hari nan fitri ini kita benar-benar kembali ke batin yang suci?

Tujuan utama kita berpuasa untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan. Selain itu, salah satu tujuan kita berpuasa adalah untuk bisa berubah dari kurang baik menjadi baik. Itulah tujuan kita untuk berubah melalui ujian puasa sebulan. Itulah tujuan kita untuk mengubah sikap, pikiran, dan batin yang lebih bersih. Tanpa ada tanda-tanda itu, maka puasa sebulan itu belum memberikan tanda kesuksesan.

Kembali ke fitri. Sucikan diri kita tetapi tidak hanya lahir! Juga sucikan jiwa! Sucikan batin! Kuncinya: lahir dan batin. Sudahkah ada tanda-tanda perubahan sikap dan batin setelah puasa itu? Ini merupakan sebuah percikan. Ini merupakan percikan yang mendorong kita untuk mengevaluasi diri. Jika kita merasa sukses dalam ibadah puasa sebulan, kembali ke fitri. Berarti percikan perubahan itu sudah melekat dalam sikap dan batin kita. Menghargai perbedaan. Menghormati perbedaan. Dan, bersatulah dengan perbedaan karena perbedaan itu kodrat kehidupan dan takdir Tuhan.

Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER); dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.