Catatan dari Kalipuro

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Singkat saja yang saya catat. Bahwa perjalanan saya silaturrahmi Lebaran di hari kedua ke Kalipuro ini dari rumah saya di Rogojampi macet di daerah Kabat. Bersabar sebentar, dan alhamdulillah kemudian lancar kembali. Pulangnya mampir di perumahan Sobo. Mampir juga di jalan terobosan menuju Mall. Dan akhirnya mampir juga di Mall.

Suatu hari–entah hari ini, entah hari kemarin, atau entah hari kapan, pokoknya harinya dirahasiakan melalui kalimat suatu hari–hati seorang ayah gelisah berat tatkala harus mengajak putrinya ke sebuah Mall. Alasannya karena selama si putri masih kecil dalam pendidikan level sekolah yang masih dasar: si ayah mengharapkan agar putrinya melahap dan menghatamkan kesederhanaan sehatam-hatamnya. Apakah ini sekedar alasan “Abu Nawas” dari seorang ayah atas sebuah keadaan ekonomi atau karena murni mendidik, ya nggak tau juga.

Dia sendiri tak memahami atas keinginannya itu. Dan dia sangat ragu-ragu juga menerapkan teorinya sendiri yang mengharapkan putrinya menghatamkan kesederhanaan. Kalau sejak dini diajari kesederhanaan, andai putrinya kelak ditakdirkan Tuhan berkelebihan rezeki bisa tetap dengan ringan menjalani pola hidup wajar dan tak berlebihan. Tapi ya ngeri juga. Bagaimana tidak, lha wong teman-teman putrinya sendiri sudah pada bercerita diajak orang tuanya ke Mall, kenal tempat wisata Anu, Pantai Ini, dan seterusnya. Lha kalau anaknya sendiri sampai nggak tahu beberapa cerita “wajar” seperti teman-temannya itu, gawat juga menurut sang ayah.

“Ah, siapa tahu ide saya salah. Mungkin banyak salahnya daripada benarnya. Mungkin saya sok mendidik anak, sok khawatir, dan sok cemas,” gumam sang ayah terkait ajakan putrinya yang ingin ke Mall.

Sehingga akhirnya, diajak jugalah putrinya itu ke Mall. Ibu si putri ini aslinya juga ragu masuk Mall tapi dengan alasan yang berbeda. Yakni malas masuk Mall. Pokoknya malas saja. Mending masuk pasar tradisional saja. Tapi berhubung putrinya yang ngajak, entah kenapa akhirnya oke juga ke Mall.

Sampai di Mall mereka mutar-muter, dan akhirnya terjadilah mereka merapat ke sebuah stand bertuliskan: Barang Obral Cuci Gudang Hanya 50 Ribu Rupiah Saja. Setelah lihat-lihat, jatuhlah pilihan membeli tas sekolah buat putrinya seharga Cuci Gudang tersebut. Apakah semua yang terjadi tersebut hanyalah kebetulan belaka atau ada yang menuntun: entah takdir Tuhan, digiring iklan, atau atas konsep kebanyakan kalau beli barang hendaklah yang paling murah tapi barangnya masih bagus, yakni salah satunya seperti yang di Cuci Gudang tersebut.

Seorang praktisi meditasi sekaligus penulis buku, namanya Gede Prama, dalam salah satu bukunya yang berjudul Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Menuju Keheningan, menuliskan:
Tidak ada kekeliruan, yang ada hanyalah pelajaran-pelajaran. Tidak ada kebetulan, yang ada hanya makna yang belum ditemukan. Tidak ada kesedihan, yang ada jiwa yang sedang bertumbuh. Tidak ada ketakutan, hanya suara guru dari dalam. Lantas, apakah peristiwa ayah ibu anak masuk Mall tersebut apakah hanya kebetulan belaka?

Jika ingin tahu jawabannya secara serius, carilah seorang guru lantas mendiskusikannya. Jangan malas mencari guru kalau ingin tahu jawaban-jawaban dari persoalan-persoalan yang masih mengganjal. Carilah guru hingga ketemu, lega, dan puas. Ini serius. Bukan satir, sarkas, guyon, atau ngales lari tak bertanggung jawab setelah melempar pertanyaan dan tak mampu menguraikannya sendiri.

Problem serius kita adalah enggan dan malas mencari guru, berpendapat tanpa guru, merasa sudah selesai, sok paling mengerti dan keminther, paling pandai dan segala-galanya, sehingga kacaulah segala sesuatunya. Termasuk saya: sok menggurui dan doyan ngomong.

So, begitulah kisah seorang ayah, ibu dan anaknya yang akhirnya masuk Mall.

Kalau alasan saya sebagai pribadi masuk Mall biasanya karena saya tak menjumpai toilet umum di jalan, akhirnya saya masuk Mall daripada masuk masjid takutnya disindir tulisan menuju toilet dan tempat wudlu: Tidak sopan jika ke masjid hanya untuk kencing tapi tidak shalat.

Demikianlah catatan singkat dari Kalipuro. Dan sangat wajar jika setelah membaca tulisan ini, mungkin ada yang membatin sambil ketawa-ketawa: “Jangan-jangan yang menjadi ayah dari tulisan ini adalah yang nulis ini sendiri, ayo ngaku, hahahaha…” (Banyuwangi, 17 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.