Berbuka, antara Kemewahan dan Keberkahan

Catatan Pasca Ramadhan (4)

MEPNews.id —- Setiap ramadhan undangan berbuka bersama selalu antri berdatangan. Kalau mau, tiap malam hadiri berbuka bersama, waktunya tidak cukup. Karena banyak komunitas, banyak mitra dan banyak sahabat.

Tapi tahun ini saya hanya memilih 4 kali berbuka bersama. Bahkan Allah memperjalankan, hampir 5 kali saya berbuka diperjalanan. Alias di masjid. Kenikmatan yang tidak bisa digambarkan kalau kendaraanya ikhlas.

Saya pernah ditengah perjalanan, tiba tiba adzan maghrib tiba. Berbelok di sebuah masjid cukup besar disebuah kecamatan. Habis minum air putih, kamipun berjamaah.

Dan, setelah berjamaah, kami disambut pengurus masjid dengan hidangan nasi kotak, berlauk sayur sop dan tahu bali. Ada sekitar 20 an orang dalam 7 mobil musafir ikut makan bersama diteras masjid.

Ya Allah, nikmatnya luar biasa. Kenikmatan yang dibalut keikhlasan panitia yang menyediakan makanan. Bandingkan misalnya, kita berbuka di rumah dengan lauk seperti itu, pasti ada “ngedumel”nya.

Saya bayangkan, warga desa yang memasak menu sayur dan tahu itu, ia mengalirkan peluh keringat keikhlasan, menyisihkan dari rejekinya yang sedikit untuk menyiapkan berbuka bagi musafir. Tak kalah indahnya saat penduduk Madinah menyambut Rasulullah yang berhijrah.

Maka, sebelum berbuka, kukirim doa untuk kemuliaan ibu ibu yang memasakkan buka para musafir hari itu. Kemulian bapak- bapak yang menyajikan. Keduanya dibalas Surga.

Disinilah kita menemukan keberkahan berbuka. Bukan soal menu yang enak, bukan soal meja makan yang ditata “dengan terhormat”. Tapi lesehan diteras masjid. Yang bagi orang yang membawa dirinya, jabatannya, kekayaannya, pasti gengsi dan tak mungkin mau berbaur dengan jamaah lain.

Kalau berbuka bersama model ini, tanpa ada yang kenal nama, posisi sosial, persahabatan tapi bisa menemukan kenikmatan. Pada kesempatan lain, saya menghadiri berbuka dengan undangan 30 an orang —sahabat kerja 20 tahun yang lalu—- . Lauk khas Arab dan suasana Kampung Ampel Surabaya menjadi sajian.

Kenikmatan makanan pasti, tetapi kenikmatan silaturahmi utamanya. Kami saling berpelukan, saling guyon mengenang masa lalu, sambil bercerita penyakit tua yang mengikuti, maka makanan menjadi alat saja, kenikmatan lain bermunculan. Kenikmatan rezeki kesehatan, kenikmatan anak cucu. Semua saling bercerita dan menguatkan.

Berbuka bersama banyak kenikmatan didalamnya. Banyak keberkahan didalamnya. Cuma ada berbuka yang “formal” dari tahun ke tahun. Buka bersama sebagai upacara dan kewajiban. Ciri utama berbuka ini. Di rumah atau kantor, di hotel, di Pendopo pejabat, di Istana kemegahan.

Sudah pasti makanan dan lauk pauknya melimpah. Sudah pasti baju kita harus bagus dan rapi. Sudah pasti kita akan ketemu kolega dan kawan yang semua “berkepentingan”. Dan itu sah sah saja dalam kehidupan.

Tahun tahun sebelumnya, saya pernah merasakan hampir 20 hari ikut berbuka bersama di berbagai instansi. Bahkan bisa lintas kota. Di Jakarta dan Surabaya. Bahkan buka dirumah seorang Presiden dan pengusaha ternama.

Kenikmatan utama bukan soal makanan yang melimpah. Tetapi ketemu banyak petinggi di negeri ini. Minimal “setor” wajah, sapa salam. Dan kita “dipaksa” berpakain rapi dan bagus, disandera sopan santun. Dan yang utama “baju dunia” menjadi kebesaran.

Bandingkan bedanya dengan berbuka di masjid. Baju dunia kita lepaskan, jabatan dan profesi kita tanggalkan. Ajaran bahwa kita ini sama dimata Allah betul-betul kita temukan. Kehebatan manusia tak tampak, kelemahan manusia tak terlihat.

Saya sama sekali tidak bermaksud membandingkan buka “orang-orang kecil” lebih nikmat dibanding buka “orang-orang” besar. Atau sebaliknya.

Tetapi kalau Anda tidak pernah mengalami keduanya, akan sulit menemukan kenikmatan sejati. Yang jelas, nikmati saat Allah memperjalankan kita. ***

Penulis, Guru SMK Global Jombang, petani yang sedang menekuni menanam bunga keindahan.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.