Bagaimana Saya Belajar Menulis?

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Ada sejumlah orang yang mengatakan, untuk menjadi penulis hebat harus mengikuti workshop atau pelatihan yang biayanya mahal. Tapi, kata saya tidak. Meski saya bukan penulis hebat, saya mempunyai pengalaman menulis yang barangkali bisa dijadikan rujukan bagi penulis pemula.

Menulis itu bukan soal mengikuti workshop yang berbiaya mahal atau tidak. Menulis itu kuncinya ya menulis. Ada yang mengatakan, “Belajar menulis dengan menulis.” Artinya menguatkan pendapat saya bahwa menulis –atau bahkan belajar apa pun– harus dengan praktik tidak hanya teori –kecuali memang belajar teori. Setelah itu, komitmen pada diri sendiri untuk menulis.

Menurut saya, workshop atau pelatihan hanyalah media pemantik semangat kita untuk belajar menulis. Selanjutnya, itu tanggung jawab kita masing-masing.

Setelah workshop, kadang ada tindak lanjut atau pendampingan. Tapi itu terbatas. Tidak bisa intensif. Pendamping yang paling intens mendampingi belajar kita adalah kita sendiri. Jadi, kita lah yang harus aktif belajar.

Meski punya pendamping, tidak mungkin setiap kendala menulis itu kita tanyakan kepada pendamping atau pelatih kita. Selain memalukan, juga terkesan tidak punya upaya. Apalagi di era sekarang. Kita bisa belajar dari benda yang hanya segenggam tangan. Pentanyaan apa pun, jawabannya ada di situ. Tinggal kita telaten atau tidak.

Misalnya, bagi orang yang tidak menekuni bidang bahasa, tentu harus belajar lagi bagaimana menggunakan bahasa yang baik dan benar, memilih kata yang pas, menyusun kalimat yang tepat, mengaitkan antar kalimat satu dengan yang lain dan paragraf satu dengan lainnya.

Untuk kegiatan demikian ini, seringkali orang tidak telaten. Mereka sering bertanya, “Kok tulisan orang itu bisa bagus ya?” Mereka tidak tahu, kalau untuk menghasilkan tulisan yang keren dan berkualitas itu butuh latihan tingkat malaikat. Artinya, tak mengenal lelah.

Kata para pakar, “Untuk menghasilkan kualitas tulisan yang bagus, maka kuantitas dan kualitas membacanya juga bagus.” Mustahil orang yang tidak membaca terus memiliki tulisan yang bagus. Kata para pelatih, “Tulisan orang yang tidak membaca akan terasa kering, karena kurang asupan.”

Ya, memang benar, membaca dan menulis itu sepasang, tidak bisa dipisahkan. Dengan membaca, kita akan banyak mendapatkan sesuatu dari apa yang kita baca. Misalnya, selain isi dari yang kita baca, kita juga bisa belajar tentang pemilihan diksi yang tepat, penggunaan kata yang tepat, penyusunan struktur kalimat yang tepat, penempatan tanda baca yang tepat dan alur cerita yang enak dibaca. Semua bisa didapat dari membaca, bukan diceramahi. Tentu kualitas buku yang kita baca juga berpengaruh hasil belajar kita.

Itu lah cara saya belajar menulis. Saya tidak mengandalkan workshop atau pelatihan menulis. Acara itu bagi saya hanya untuk ceremony. Yang paling berpengaruh adalah latihan rutin setiap hari. Dalam latihan rutin itu kita juga bisa belajar dari penulis handal nasional, atau bahkan internasional. Dengan cara? Ya, dengan cara membaca dan mempelajari karya-karyanya. Kita bebas memilih guru yang kita suka, yang kita anggap paling baik untuk mengajari kita.

Jadi, itu cara saya belajar menulis. Mengikuti workshop sekadarnya saja. Yang lebih penting, berkomitmen dan mempertanggungjawabkannya, menjadwal rutin kapan waktu menulis, memiliki koleksi bacaan yang cukup dan dibaca, mengikuti grup-grup menulis untuk menjaga dan merawat semangat agar tidak luntur.

Terakhir; belajar, belajar dan terus belajar. Latihan, latihan dan terus latihan. Insya Allah akan memperoleh hasil yang membanggakan.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.